Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Mei 2018 | 21.35 WIB

Ngeri, Bahan Makanan Takjil di Cirebon Mengandung Boraks

SIDAK: Petugas DPPKP hendak menguji sampel bahan makanan yang didapatkan dari Pasar Kanoman, Kota Cirebon, Kamis (31/5). - Image

SIDAK: Petugas DPPKP hendak menguji sampel bahan makanan yang didapatkan dari Pasar Kanoman, Kota Cirebon, Kamis (31/5).

JawaPos.com - Sejumlah makanan olahan untuk takjil di Pasar Kanoman, Kota Cirebon terindikasi mengandung boraks. Hal itu diketahui dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan oleh petugas Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan dan Perikanan (DPPKP) dengan mengambil sejumlah sampel bahan makanan, Kamis (31/5).


Kepala DPPKP Kota Cirebon, Maharani Dewi mengatakan, hasil dari uji sampel makanan hidangan pembuka di Pasar Kanoman dinyatakan positif mengandung zat pengawet berbahaya boraks.


"Dari hasil uji sampel makanan pembuka puasa di Pasar Kanoman, beberapa ada yang positif mengandung boraks. Seperti sekoteng bulat atau bubur pacar," ujar Dewi, Kamis (31/5).


Sampel bahan makanan olahan yang diuji yaitu cincau, rumput laut, bubur pacar. Dari ketiga sampel bahan makanan itu, hanya bubur pacar yang positif mengandung boraks.


Petugas pun masih melakukan uji laboratorium sampel bahan makanan pembuka puasa dari Pasar Kanoman. Mengingat uji pewarna makanan harus di laboratorium. "Waktu pengujian warna makanan cukup lama di laboratorium. Kami tidak bisa mengawasi semua makanan yang beredar di masyarakat. Hanya saja, kami mengimbau agar masyarakat waspada," ujarnya.


Dewi mengatakan, apabila makanan mengandung boraks terus menerus dikonsumsi, akan membahayakan kesehatan. Bahkan, bisa sampai kerusakan tubuh manusia seperti gangguan saraf pusat.


"Masyarakat bisa waspada makanan mengandung boraks. Ciri-cirinya, biasanya warna terlalu mencolok, lebih kenyal, kelihatan selalu segar, dan tidak dihinggapinya lalat atau serangga," ujarnya.


Seorang pedagang makanan olahan takjil, Nety, 34, mengaku beberapa makanan yang diuji sampel oleh petugas DPPKP tersebut didatangkan dari Bandung. Dia mengaku hanya menerima kiriman dari penyuplai saja.


"Nggak semua makanan yang mengandung boraks. Bahan makanan didatangkan dari daerah sekitar Bandung. Kalau terbukti ada boraks, tidak akan dijual," katanya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore