Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Agustus 2023 | 04.04 WIB

Pertama Kali di Surabaya Great Expo 2023, Kak Seto-UNICEF Kampanyekan Pencegahan Kekerasan Seksual Anak

Kak Seto dan UNICEF gelar talk show Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring. - Image

Kak Seto dan UNICEF gelar talk show Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring.

JawaPos.com–Surabaya Great Expo (SGE) 2023 yang digelar Pemkot Surabaya di Exhibition Hall Grand City Surabaya, tidak hanya menyuguhkan pameran UMKM dan pelayanan publik. Melainkan juga mengadakan talk show bersama Prof. Seto Mulyadi dan UNICEF mengenai Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring (OCSEA/Online Child Sexual Exploitation and Abuse).

Anak-anak Surabaya yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, ternyata menaruh perhatian serius mengenai cara mencegah dan menangani kasus bullying atau perundungan. Mereka mengajukan sederet pertanyaan dan pendapat mengenai persoalan anak.

Diskusi pun berjalan sangat aktif. Prof. Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto bersama perwakilan UNICEF dan Forum Anak Surabaya (FAS) menjelaskan berbagai upaya perlindungan terhadap anak.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya Ida Widayati menyampaikan, perkembangan teknologi harus digunakan secara bijak agar dapat membantu anak dalam mendapatkan informasi. Penggunaannya masih memerlukan pengawasan orang tua.

”Orang tua harus memahami penggunaan teknologi. Perlu pendampingan bagi anak saat menggunakan gadget,” kata Ida, Sabtu (19/8). 

Sementara itu, Kak Seto mengingatkan, yang bertanggung jawab dalam melindungi anak bukan hanya pemerintah, keluarga, dan orang tua. Tetapi juga diperlukan peran serta masyarakat.

”Masyarakat harus saling peduli, apalagi sudah ada lembaga seperti RT/RW. Sehingga tetangga merupakan saudara terdekat yang wajib melindungi anak-anak,” kata Kak Seto.

Menurut Kak Seto, anak-anak Kota Surabaya yang telah menyadari bahwa bullying atau perundungan memberikan efek samping yang dapat memengaruhi kesehatan mental bagi korban maupun pelaku. 

Bullying mungkin pernah dirasakan mereka sehingga mereka berani bersuara. Moto melindungi anak adalah tanggung jawab kita, anak-anak wajib dilindungi dari berbagai tindak kekerasan. Baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Ini juga tanggung jawab bersama pemerintah dan aparat,” ungkap Kak Seto.

Kepala Kantor UNICEF untuk Wilayah Jawa Tubagus Arie Rukmantara menyampaikan, Surabaya memiliki cara unik dalam merayakan kegiatan anak. Salah satunya adalah melalui pameran perdagangan SGE, di mana anak-anak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dia menilai Kota Surabaya sebagai pusat kota percontohan di Indonesia dalam menyediakan ruang partisipasi bagi anak. Lalu bagaimana anak-anak menentukan solusi yang bisa mereka lakukan secara cepat?

”Ini adalah pameran perdagangan yang melibatkan anak-anak hanya di SGE. Anak-anak menjadi pembicara, berdiskusi bersama anak-anak lain menemukan solusi,” kata Arie.

”Kita memberikan edukasi mengenai klasifikasi terkait apa yang disebut pelecehan seksual, penganiayaan seksual, penganiayaan atau bullying, dan penyalahgunaan kekerasan di ranah daring. Mana yang ancaman, kalau terjadi harus kemana? Ternyata Pemkot Surabaya membuat sistem, bisa dilaporkan lewat Puspaga. Jadi anak-anak harus mengerti cara mengidentifikasi, memblokir konten, dan cara melaporkan,” papar Arie.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore