
Direktur Persija Jakarta Mohamad Prapanca saat berbincang dengan jurnalis dalam agenda Ngopi Bareng Persija di Persija Galeri. (Dok. Persija)
JawaPos.com - Sorotan lampu di Persija Galeri, Jakarta, Selasa (10/3), tak hanya menerangi ruang pertemuan kecil antara manajemen Persija dan para jurnalis. Momentum itu sekaligus menjadi ruang penjelasan. Salah satu topik yang dibahas adalah julukan “APBD FC” yang belakangan ramai dilekatkan kepada Persija Jakarta di media sosial.
Direktur Persija, Mohamad Prapanca, tak menampik bahwa label tersebut cukup mengganggunya. Bukan karena kritik itu tajam, tetapi karena menurutnya banyak orang tidak memahami konteks kerja sama yang sebenarnya terjadi di balik layar klub ibu kota tersebut.
Musim ini, sebagian warganet ramai menyebut Persija sebagai APBD FC. Julukan itu muncul karena Macan Kemayoran menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bagi Prapanca, istilah tersebut terasa sedikit risih di telinga. Ia mengaku tidak mengetahui pasti siapa yang pertama kali menggulirkan label tersebut.
Ia bahkan sempat bertanya-tanya apakah sebutan itu datang dari buzzer, provokator, atau justru dari pendukung Persija sendiri yang ikut terbawa arus percakapan di media sosial.
Di era digital, kata Prapanca, siapa pun dapat dengan mudah menuliskan opini tanpa batas. Filter informasi menjadi semakin longgar, sementara penjelasan yang sebenarnya sering kali tenggelam di antara komentar-komentar singkat. Karena itulah, ia merasa perlu menjelaskan bagaimana kerja sama Persija dengan sejumlah BUMD Jakarta sebenarnya terbentuk.
Menurut Prapanca, kolaborasi tersebut bermula setelah Pramono Anung dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dalam salah satu pernyataannya, sang gubernur menyampaikan keinginan agar Jakarta semakin identik dengan Persija. Dari situ, manajemen Persija kemudian diajak berdiskusi mengenai kemungkinan kolaborasi dengan beberapa perusahaan milik daerah.
Hasilnya, dipilih sejumlah BUMD yang memiliki potensi kerja sama dengan klub. Namun, Prapanca menegaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak berarti Persija menerima dana secara cuma-cuma. Sebaliknya, manajemen klub tetap harus menjalankan berbagai program, termasuk membuat konten promosi, kampanye publik, hingga kegiatan aktivasi yang menjadi bagian dari kesepakatan kerja sama.
Salah satu contoh yang disebut Prapanca adalah kerja sama dengan PAM Jaya. Melalui Persija, perusahaan air minum daerah itu berupaya memperkenalkan program dan layanannya kepada masyarakat Jakarta. Kolaborasi juga dilakukan dengan Bank Jakarta yang sebelumnya dikenal sebagai Bank DKI. Melalui popularitas Persija, perusahaan tersebut ingin memperluas jangkauan sosialisasi kepada masyarakat.
Hal serupa berlaku pada kerja sama dengan MRT Jakarta dan TransJakarta. Persija menjadi salah satu kanal komunikasi untuk menyampaikan informasi mengenai rute transportasi publik serta mendorong masyarakat menggunakan layanan tersebut.
Bagi Prapanca, kerja sama ini tidak bisa dianggap remeh atau dilakukan secara sembarangan. Setiap penggunaan anggaran perusahaan daerah tetap berada dalam pengawasan ketat.
“Jadi, saya harus sampaikan ini terkait APBD FC. Bahwa apa yang menjadi program dalam perjanjian itu tidak bisa main-main. Kerja sama ini tidak bisa dilakukan secara ugal-ugalan. Masing-masing BUMD juga diawasi pengeluaran keuangannya oleh BPK dan sebagainya,” jelas Prapanca.
Di tengah perdebatan itu, satu istilah lama juga kembali muncul, yakni “Anak Papa”. Julukan ini sudah lama dikaitkan dengan Persija oleh sebagian pihak yang menilai klub tersebut mendapat perlakuan istimewa. Prapanca menanggapi istilah itu dengan santai. Menurutnya, ungkapan tersebut sudah terlalu lama beredar dan terasa basi untuk kembali diperdebatkan.
Komentar serupa datang dari Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas. Sosok yang akrab disapa Bepe itu bahkan mengaku sudah mendengar istilah tersebut sejak masih aktif bermain. Bagi legenda hidup Persija itu, komentar di luar lapangan adalah hal yang tidak bisa dikontrol. Yang terpenting, kata Bepe, klub tetap fokus pada apa yang terjadi di lapangan.
“Sebutannya itu sudah ada sejak saya masih bermain. Jadi, sebenarnya sudah terlalu basi untuk dibahas lagi,” ujarnya.
Di tengah berbagai label yang berseliweran di media sosial, Persija memilih tetap berjalan dengan agendanya. Bagi manajemen Macan Kemayoran, yang terpenting bukan julukan yang beredar, melainkan bagaimana klub terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi sepak bola Jakarta.
