Penggawa Perseta 1970 Firman Nugraha
JawaPos.com - Pemain Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar memang sudah meminta maaf, tapi penggawa Perseta 1970 Firman Nugraha mengaku belum puas dan merasa seharusnya ada ganti rugi. Kepada Komdis PSSI Jatim, Hilmi mengaku terprovokasi. Namun, Firman menyebut tidak ada kontak langsung atau adu mulut di antara mereka sepanjang laga.
Tendangan brutal pemain Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar ke dada Firman Nugraha “resmi” mengakhiri kiprahnya musim ini. Sebab, dari hasil MRI (magnetic resonance imaging), pemain Perseta 1970 itu mengalami retak di tulang dada sebelah kiri.
Retaknya kurang lebih berukuran satu helai rambut. “Masih nyeri rasanya,” kata Firman saat dihubungi Jawa Pos kemarin (6/1).
Insiden itu terjadi pada menit ke-72 dalam laga Liga 4 Piala Gubernur Jatim di Stadion Gelora Bangkalan Senin (5/1) sore lalu. Seperti terlihat di video PSSI Jatim, Hilmi langsung melompat dan kaki kanannya menerjang dada saat mengejar bola ke arah Firman.
Hilmi dikartu merah oleh wasit. Sedangkan Firman sempat pingsan di lapangan, kemudian sadar. Saking kerasnya tendangan itu, ada bekas pul sepatu Hilmi di dada Firman. Saat tiba di hotel, Firman mengaku sesak napas dan kesulitan menelan sehingga dibawa ke RSUD Bangkalan.
Firman pun kini harus beristirahat kurang lebih sebulan. Artinya, dia tidak bisa bertanding lagi bersama Perseta 1970 dalam lanjutan Babak 32 Besar Liga 4 Piala Gubernur Jatim.
Meskipun Hilmi sudah meminta maaf secara langsung setelah pertandingan, dipecat dari klubnya, dan dijatuhi sanksi berat oleh Komdis PSSI Jatim, Firman belum puas. “Saya tidak puas karena dia (Hilmi) minta maafnya hanya begitu, sedangkan saya ada keretakan di dada dan harus istirahat satu bulan,” terangnya.
Pemain berusia 33 tahun itu merasa permintaan maaf saja tidak cukup. Harus ada ganti rugi secara materi yang diberikan Hilmi kepadanya. Firman secara tegas menyebut nominal Rp 10 juta. “Ya segitu, karena saya sudah tidak bisa bermain lagi,” ujarnya.
Firman saat ini masih mencari kontak Hilmi. Dia ingin berkomunikasi langsung dan meminta pertanggungjawaban kepada yang bersangkutan.
Atas kebrutalan yang dilakukannya, Putra Jaya Pasuruan memang langsung memecat Hilmi. “Karena tindakannya tidak sesuai dengan asas sepak bola yang fair play dan menyalahi koridor aturan sepak bola dengan melakukan tindakan kasar kepada lawan,” terang Ketua Harian Putra Jaya Pasuruan Gaung Andaka Ranggi.
Namun, Sekretaris Perseta 1970 Wiwik Sulistiani merasa pemecatan saja tidak cukup. Sebab, pemainnya mengalami cedera serius. “Harus ada hukuman dan sanksi dari PSSI. Pemain dan klubnya harus dapat sanksi,” katanya.
Cederai Sportivitas
Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Jatim akhirnya resmi menghukum Hilmi dengan denda Rp 2,5 juta dan larangan beraktivitas di sepak bola seumur hidup kemarin. Ketua Komdis PSSI Jatim Samiadji Makin Rahmat menuturkan, Hilmi terbukti melanggar Kode Disiplin PSSI, tepatnya Pasal 49.
“Plus ada sanksi tambahan berdasarkan Pasal 78 karena tindakan Saudara Hilmi mengakibatkan luka permanen atas Saudara Firman,” ujarnya.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
