Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Agustus 2025 | 23.11 WIB

Problematika Boaz Solossa Sebagai Pesepak Bola: Dari Kendala Keluarga, Cedera Sampai Fakta Kehidupan Pribadi

Boaz Salossa sedang berada dalam Kanal YouTube Sport77. (Channel YouTube Sport77 Official)

 

JawaPos.com - Boaz Solossa merupakan pesepak bola sukses Indonesia dari Papua yang menjadi banyak perbincangan setelah pensiun di kalangan penikmat sepak bola, khususnya masyarakat Indonesia. 

Kesuksesan 'si anak ajaib' di rumput hijau ternyata tidak seindah seperti gol-gol yang diciptakannya. Kenapa? Boaz Solossa mengungkapkan dirinya sempat dilarang bermain bola oleh orang tuanya, bahkan sampai pamannya.

Paling utama pihak keluarga tidak merestui sepak bola menjadi profesi anaknya. Sang paman memintanya untuk lebih fokus pada sekolah, bahkan Boaz harus berbohong kepada keluarganya agar bisa bermain bola.

Dilansir dari kanal YouTube Sport77 Official pada Rabu (20/8), efek dari berbohong, seperti pepatah sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh ke tanah juga.

Boaz akhirnya ketahuan oleh ibunya, sampai marah besar hingga memukulnya, karena 'si anak ajaib' lebih memilih bermain bola daripada bersekolah. 

Di balik masalah pasti ada hikmah, sosok pelatih bernama Om Rully memainkan peran kunci dalam meyakinkan keluarganya agar mengizinkan Boaz bermain sepak bola dengan syarat sekolah tetap menjadi prioritas utama.

Masih berseragam SMA, Boaz yang saat itu berusia 18 tahun sudah mengukir namanya di panggung sepak bola tertinggi, yakni membela Timnas Indonesia di Piala AFF 2004. Sebuah kebanggaan pribadi dalam kariernya.

Di balik kebanggaan menyimpan luka, klimaks 'si anak ajaib' mengalami patah kaki untuk pertama kali saat Leg 1 final Piala AFF melawan Singapura. Takdir berkata lain, dirinya merasakan kepahitan mendalam saat gagal membawa Indonesia juara.

Tak putus di situ, Boaz menunjukkan kedewasaan luar biasa dengan tidak pernah menyimpan dendam pada pemain yang mencederai dirinya. Hal itu terungkap dalam podcast Sports77 yang dipandu oleh Mamat Alkatiri, Coach Justin, dan Bung Rophan.

"Saya sempat bertemu, bahkan bersalaman dengan pemain tersebut sambil menunjukkan sikap sportivitas -nya," ujar Boaz.

Sikap memaafkan 'si anak ajaib' bentuk pelajaran berharga tentang kerendahan hati, pengampunan, dan fokus pada masa depan. Kisah Boaz bagian cerminan bahwa bakat saja tidak cukup. 

Dibutuhkan mental baja, dukungan, dan kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan. Cedera yang pernah dialami bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari babak baru dalam mengajarkan tentang arti ikhlas dan profesionalisme.

Selain sepak bola, Boaz juga memiliki hobi bermain basket, sebuah fakta kehidupan pribadi menarik. Mengingat 'si anak ajaib' kini menjadi salah satu legenda terbesar sepak bola Indonesia.   

Di akhir wawancara podcast Sports77, Boaz membagikan cerita lucu saat ditilang polisi di Papua, di mana dirinya berhasil lolos lantaran polisi mengenalnya dan pamannya saat itu menjabat sebagai gubernur.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore