Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 September 2024 | 00.48 WIB

Menelusuri Kisah Heroik Persebaya Surabaya, Lahir dari Diskriminasi yang Dipraktikkan Serikat Sepak Bola Belanda

Winger Persebaya Surabaya asal Papua saat itu, Osvaldo Haay (kanan), berselebrasi dengan membawa kertas bertuliskan “Say No to Rasicm” usai mencetak gol ke gawang Perseru Badak Lampung FC. - Image

Winger Persebaya Surabaya asal Papua saat itu, Osvaldo Haay (kanan), berselebrasi dengan membawa kertas bertuliskan “Say No to Rasicm” usai mencetak gol ke gawang Perseru Badak Lampung FC.

JawaPos.com — Momen 18 Juni selalu menjadi hari yang sangat bersejarah bagi sepak bola Surabaya. Tepat 97 tahun yang lalu, pada 18 Juni 1927, Persebaya Surabaya didirikan oleh dua tokoh yang kini diabadikan dalam sejarah, Paidjo dan M. Pamoedji.

Sebelum dikenal dengan nama Persebaya Surabaya, klub kebanggaan warga Surabaya ini bernama SIVB (Soerabaiasche Indische Voetbal Bond), sebuah organisasi yang bertujuan untuk menampung klub-klub sepak bola yang dibentuk oleh para pribumi di Surabaya.

Persebaya Surabaya, atau SIVB pada masa itu, bukan hanya sebuah klub sepak bola biasa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh sejarawan sepak bola Jemmy Husni Mubarak, Persebaya Surabaya sebenarnya lahir dari sebuah perjuangan panjang menghadapi diskriminasi yang dilakukan oleh serikat sepak bola Belanda.

Pada masa itu, sepak bola di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sangat dibatasi oleh aturan yang mendiskriminasi para pemain pribumi. Klub-klub sepak bola yang didominasi oleh orang-orang Belanda enggan mengizinkan pemain pribumi untuk bergabung atau berkompetisi di liga-liga yang mereka adakan.

Diskriminasi yang dilakukan oleh serikat sepak bola Belanda tersebut menciptakan ketidakadilan bagi para pemain berbakat yang berasal dari kalangan pribumi. Banyak pemain pribumi yang hanya bisa bermain bola di jalanan atau di lapangan-lapangan kecil tanpa kesempatan untuk menunjukkan bakat mereka di panggung yang lebih besar. Mereka seolah-olah menjadi tamu di tanah mereka sendiri, hanya karena perbedaan warna kulit dan status sosial.

Melihat situasi ini, beberapa kalangan dari kelas menengah ke atas di Surabaya yang peduli dengan kondisi tersebut mulai bergerak. Mereka melihat potensi besar dari anak-anak muda pribumi yang bermain bola dengan penuh semangat meski hanya di jalanan atau lapangan-lapangan kecil.

Di antara tokoh-tokoh yang mendirikan SIVB, terdapat beberapa nama klub yang didirikan kala itu, seperti Selo, Maroeto, Olivio, Tjahaya Laoet, REGO, Radio, dan PS Hizboel Wathan.

Mereka semua memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan sebuah wadah untuk para pemain sepak bola pribumi agar bisa berkompetisi secara resmi dan menunjukkan kemampuan mereka tanpa harus menghadapi diskriminasi.

Dengan terbentuknya SIVB, sebuah titik balik besar terjadi dalam sejarah sepak bola pribumi di Surabaya. Organisasi ini membuka kesempatan bagi klub-klub sepak bola pribumi untuk berkompetisi secara resmi, tanpa harus terhambat oleh diskriminasi yang dilakukan oleh serikat sepak bola Belanda.

Kompetisi pertama yang diadakan oleh SIVB berlangsung di Lapangan Pasar Turi, sebuah tempat yang cukup sederhana pada masa itu. Para pemain harus bermain dengan peralatan seadanya, namun semangat mereka jauh melebihi keterbatasan fasilitas yang ada.

Respons dari masyarakat Surabaya terhadap SIVB padhiaaa saat itu sangat positif. Meskipun kompetisi yang diadakan oleh SIVB dilakukan dengan segala keterbatasan, antusiasme para penonton dan pemain sangat luar biasa.

SIVB secara rutin mengadakan kompetisi internal antara tahun 1927 hingga awal 1930-an, dan semakin lama, kualitas permainan yang ditampilkan oleh klub-klub pribumi tersebut semakin meningkat.

Banyak bakat-bakat muda yang sebelumnya tidak mendapatkan kesempatan, akhirnya bisa menunjukkan kemampuan mereka melalui kompetisi-kompetisi yang diadakan oleh SIVB.

Keberhasilan SIVB dalam mengadakan kompetisi internal yang ketat menciptakan sebuah generasi pemain sepak bola yang berkualitas tinggi. Pada akhirnya, klub ini berhasil mengangkat derajat sepak bola pribumi dan menempatkan Surabaya sebagai salah satu pusat kekuatan sepak bola di Hindia Belanda.

Para pemain dari SIVB sering kali diakui sebagai pemain-pemain terbaik dalam kompetisi yang mereka ikuti.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore