Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Agustus 2024 | 22.07 WIB

Mengenang Kiprah Legenda PSMS Medan Parlin Siagian di Persebaya Surabaya Pada Liga Dunhill I 1994/95

Legenda PSMS Medan yang pernah bermain di Persebaya Surabaya, Parlin Siagiaan (kanan) semasa hidup. (Sumut Pos)

JawaPos.comParlin Siagian, nama yang begitu melekat dalam sejarah sepak bola Indonesia, khususnya bagi para penggemar PSMS Medan. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa legenda yang terkenal dengan tendangan pisangnya ini pernah bergabung dengan Persebaya Surabaya pada Liga Dunhill I 1994/95. Meski singkat, kehadirannya di Green Force, julukan Persebaya Surabaya, menyisakan kisah yang layak untuk dikenang.

Pada musim tersebut, Parlin Siagian bergabung dengan Persebaya Surabaya. Kiprahnya bersama PSMS Medan yang gemilang menjadikannya salah satu pemain yang diharapkan bisa membawa Persebaya Surabaya meraih prestasi. Sayangnya, perjalanan Parlin Siagian bersama Green Force tidak berjalan seperti yang diharapkan. Parlin Siagian hanya tampil sekali membela Persebaya Surabaya, yaitu saat menghadapi PSM Makassar pada 27 November 1994. Dalam pertandingan tersebut, Parlin Siagian hanya dimainkan selama 30 menit sebelum akhirnya ditarik keluar.

Peran Parlin Siagian di Persebaya Surabaya seolah tenggelam. Ketika harapan besar disematkan padanya, kenyataannya ia justru jarang mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Parlin Siagian, yang dikenal sebagai striker tajam dengan tendangan pisang yang mematikan, harus menerima kenyataan pahit bahwa ia lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan. Situasi ini membuatnya merasa tidak nyaman. Parlin Siagian merasa tidak enak hati jika harus terus menerima gaji tanpa bisa berkontribusi secara maksimal di lapangan.

Akhirnya, pada 13 Februari 1995, Parlin Siagian memutuskan untuk mundur dari Persebaya Surabaya. Keputusan ini diumumkannya melalui sebuah surat yang dikirimkan kepada manajemen tim. Dalam surat tersebut, Parlin Siagian menegaskan bahwa keputusannya untuk mundur adalah murni keinginannya sendiri, tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Ia merasa tidak layak untuk terus berada di tim jika tidak bisa memberikan kontribusi yang signifikan.

Pelatih Persebaya Surabaya kala itu, Mudayat, memahami keputusan Parlin Siagian. Menurutnya, bergabung dengan Persebaya Surabaya harus didasari oleh niat yang ikhlas dari hati. Para pemain diberi kebebasan untuk memilih apakah mereka ingin tetap bergabung atau tidak. Parlin Siagian memilih untuk mundur demi menjaga integritasnya sebagai pemain sepak bola yang profesional. Keputusannya ini menunjukkan betapa Parlin Siagian bukan hanya seorang pemain yang hebat di lapangan, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan prinsip yang teguh.

"Kami memang memberikan kebebasan kepada pemain untuk bergabung atau tidak. Itu adalah hak mereka. Sebab, bergabung dengan Persebaya harus dengan niat ikhlas dari hati," ujar Mudayat, pelatih Persebaya Surabaya kala itu dikutip dari koran Jawa Pos edisi 13 Februari 2016.

Kala itu mundurnya Parlin Siagian dari Persebaya Surabaya tentu menyisakan kekecewaan bagi sebagian penggemar yang berharap banyak pada kiprahnya. Namun, bagi Parlin Siagian sendiri, keputusan tersebut adalah pilihan yang tepat. Ia tidak ingin hanya menjadi pemain yang makan gaji buta tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi tim. Parlin Siagian memilih untuk mundur dengan kepala tegak, meninggalkan Persebaya Surabaya dengan rasa hormat.

Parlin Siagian bukan hanya dikenal sebagai seorang striker yang tajam, tetapi juga memiliki kemampuan spesial dalam melakukan tendangan pisang. Tendangannya yang melengkung dengan akurat kerap kali menjebol gawang lawan dan menjadi ancaman bagi tim lawan. Selama kariernya, Parlin Siagian menunjukkan dedikasi dan keterampilan yang luar biasa di lapangan. Tidak hanya sebagai pemain, Parlin Siagian juga sukses bertransformasi menjadi seorang pelatih yang membawa klub-klub yang diasuhnya meraih kesuksesan.

Sebagai pemain, karier Parlin Siagian bermula di PSMS Medan pada tahun 1971. Saat itu, ia masih berstatus sebagai pemain muda yang bergabung dengan para pemain hebat seperti Wibisono, Zulkarnaen Pasaribu, Tumsila yang dikenal dengan julukan Si Kepala Emas, dan Yuswardi. Bersama para pemain senior ini, Parlin Siagian berjuang keras dan menunjukkan potensi besar yang dimilikinya. Karier perdananya bersama The Killer, julukan lain PSMS Medan, langsung memberikan hasil yang membanggakan. Bersama dengan rekan-rekannya seperti Nobon, Taufik Lubis, dan Sarman Panggabean, Parlin Siagian berhasil membawa PSMS menjuarai Perserikatan 1971.

Kesuksesan ini menjadi awal dari karier cemerlang Parlin Siagian di dunia sepak bola. Ia kembali menunjukkan kelasnya pada tahun 1975, saat PSMS kembali menjuarai Perserikatan. Kala itu Parlin Siagian dikenang sebagai penyumbang gol satu-satunya bagi PSMS dalam laga tersebut. Prestasi ini semakin mengukuhkan nama Parlin Siagian sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh PSMS Medan.

Tidak hanya sebagai pemain, Parlin Siagian juga meraih kesuksesan sebagai pelatih. Pada tahun 1985, ia berhasil membawa PSMS menjuarai Perserikatan setelah mengalahkan Persib Bandung melalui adu penalti dalam final yang legendaris. Laga final tersebut kemudian dikenang sebagai pertandingan yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah sepak bola Indonesia. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Parlin Siagian tidak hanya memiliki kemampuan di lapangan, tetapi juga memiliki keahlian dalam meracik strategi dan mengelola tim sebagai pelatih.

Parlin Siagian mungkin hanya sebentar merumput bersama Persebaya Surabaya, tetapi dedikasinya sebagai seorang pemain sepak bola tidak bisa dipandang sebelah mata. Keputusan untuk mundur dari Persebaya Surabaya karena merasa tidak bisa memberikan kontribusi maksimal menunjukkan betapa Parlin Siagian memiliki integritas yang tinggi. Meski tidak berakhir dengan cerita manis di Green Force, Parlin Siagian tetap dikenang sebagai salah satu legenda besar dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Meninggalnya Parlin Siagian pada 16 November 2020 meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola Indonesia. Parlin Siagian bukan hanya seorang pemain hebat, tetapi juga seorang panutan bagi generasi muda. Kiprahnya bersama PSMS Medan, baik sebagai pemain maupun pelatih, serta keputusannya yang tegas saat bersama Persebaya Surabaya, menjadi bukti nyata dari kecintaan dan dedikasinya terhadap sepak bola.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore