Tim Putri Korea Utara ketika dominasi gelar juara Piala Dunia di kategori U-17 dan U-20. (FIFA)
JawaPos.com — Korea Utara kembali menorehkan prestasi fenomenal di dunia sepak bola putri setelah meraih gelar juara Piala Dunia U-20 untuk ketiga kalinya ditambah Piala Dunia U-17. Prestasi ini menempatkan Korea Utara sejajar dengan negara raksasa sepak bola seperti Jerman dan Amerika Serikat, yang sama-sama telah mengoleksi tiga gelar di ajang U-20.
Meski negara ini dikenal terisolasi, Korea Utara justru unggul dalam sepak bola putri usia muda dan telah membangun sistem pelatihan yang unik. Tahun 2024 menjadi tahun emas bagi mereka, dengan keberhasilan meraih Piala Asia U-17 dan U-19 serta tampil kuat di Piala Dunia U-17 yang akan datang.
Dr. Lee Jung Woo, dosen Kebijakan Olahraga di Universitas Edinburgh, mengungkapkan sepak bola menjadi salah satu cara Korea Utara untuk menunjukkan eksistensinya di dunia internasional. Menurutnya, kemenangan besar seperti ini adalah momen bagi Korea Utara untuk mengibarkan bendera nasional di depan audiens dunia yang jarang mendapat kabar positif dari negara tersebut.
"Olahraga internasional adalah salah satu dari sedikit cara untuk menunjukkan kedaulatan, eksistensi, dan identitas mereka kepada komunitas internasional. Jadi, keberhasilan besar semacam ini, dari sudut pandang korut, adalah kesempatan penting untuk mengibarkan bendera nasional mereka di hadapan audiens internasional," kata Dr. Lee Jung-woo, dosen senior Kebijakan Olahraga dan Rekreasi di Universitas Edinburgh dikutip dari DW.
Di dalam negeri, kesuksesan ini juga digunakan sebagai alat propaganda yang kuat oleh pemerintah Korea Utara. Pemerintah Kim Jong-un memanfaatkan olahraga untuk menampilkan kekuatan negara dan sebagai bentuk penghormatan kepada para pemimpin mereka.
"Pada saat yang sama, secara domestik, Korea Utara sering menggunakan olahraga sebagai alat propaganda untuk memuliakan para pemimpin mereka dan menunjukkan betapa hebatnya negara itu," imbuh Dr. Lee Jung-woo.
Korea Utara menjalankan strategi yang sangat berbeda dalam membangun ekosistem sepak bola putri, yang lebih terfokus pada kemenangan daripada pengembangan berkesinambungan. Di tengah kesenjangan kualitas yang tinggi antara negara-negara dengan liga profesional, Korea Utara melihat peluang besar di tim remaja yang lebih mudah dibentuk sejak usia dini.
"Kesenjangan antara klub-klub yang sudah mapan dan yang sedang berkembang juga besar, karena di banyak negara Eropa, ada liga profesional, dan mereka mendapatkan lebih banyak dukungan dari berbagai pemangku kepentingan," kata Dr. Lee Jung-woo.
"Dalam sepak bola remaja, organisasi olahraga Eropa lebih menekankan kesenangan. Sementara di Korea Utara, bahkan jika Anda berusia 13 atau 14 tahun, mereka sudah mengikuti rezim pelatihan yang sangat disiplin, sistematis, dan profesional, sehingga pada usia dini mereka jelas lebih unggul."
Di tingkat remaja, pemain muda Korea Utara sudah menjalani pelatihan disiplin militer yang intens, sementara di negara-negara Eropa, pemain seusia mereka lebih ditekankan pada kesenangan bermain. Dr. Lee mengatakan anak-anak di Korea Utara bahkan yang berusia 13 atau 14 tahun sudah memasuki rezim pelatihan yang sangat ketat dan sistematis.
Hasil dari pendekatan ini terlihat jelas saat tim putri U-20 Korea Utara melaju di Piala Dunia 2024 di Kolombia, mengalahkan tim seperti Argentina dengan skor 6-2 dan Kosta Rika 9-0. Setelah itu, mereka mencatat kemenangan tipis 1-0 dalam tiga pertandingan berturut-turut sejak perempat final hingga akhirnya merebut gelar juara.
Sekolah Sepak Bola Internasional Pyongyang adalah pusat dari kesuksesan tim ini, di mana gadis-gadis muda dipilih, dilatih, dan dikembangkan dengan disiplin tinggi. Fasilitas pelatihan dan pelatihan ketat ini menjadi bekal bagi Korea Utara untuk terus melahirkan generasi pemain muda berbakat yang siap bersaing di tingkat dunia.
Prestasi gemilang ini juga menjadi cerminan keberhasilan rezim Kim Jong-un dalam menonjolkan keunggulan sistem komunis mereka. Menurut Dr. Lee, Korea Utara kerap membandingkan ketahanan fisik dan mental para atletnya dengan pemain dari negara-negara kapitalis, menegaskan dalam sistem komunis, tekad adalah yang utama, bukan keputusan profesional dari pelatih atau medis.
"Kita harus ingat Korea Utara masih mempertahankan rezim sosialis dan komunis yang sangat kuat," jelas Dr. Lee Jung-woo.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
