
Simone Inzaghi, pelatih Inter Milan. (inter.it)
JawaPos.com — Final Liga Champions 2024/2025 bakal menjadi panggung panas adu taktik dua pelatih dengan jejak final yang kontras. Simone Inzaghi, pelatih Inter Milan, tengah mengincar momen besar untuk merusak rekor sempurna milik Luis Enrique dari Paris Saint-Germain.
Bagi Inzaghi, final kali ini bukan sekadar soal trofi, melainkan juga pembuktian melawan pelatih berpengalaman yang belum pernah kalah di partai puncak.
Dengan latar belakang karier yang lebih pendek, pelatih asal Italia itu punya tantangan berat sekaligus peluang besar di depan matanya.
Luis Enrique datang ke laga ini dengan reputasi menakutkan di partai final. Sepanjang kariernya sebagai pelatih klub, pria berusia 55 tahun itu telah memainkan tujuh laga final dan menang semuanya.
Tiga di antaranya adalah di ajang Copa del Rey saat menangani FC Barcelona. Selain itu, Enrique juga pernah mengangkat trofi Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, dan dua kali Coupe de France bersama klub berbeda.
Bersama Barcelona, Enrique mencetak treble winners di musim 2014/2015, sebuah prestasi yang menjadi bukti kualitasnya di laga penentuan. Di bawah kepemimpinannya, klub Catalan tersebut tampil buas dan efektif saat dibutuhkan.
Rekor sempurna Enrique di final membuatnya menjadi salah satu pelatih paling “clutch” dalam sejarah modern sepak bola. Tak ada satu pun laga final yang berakhir dengan kekalahan selama karier manajerialnya sejauh ini.
Tak hanya di level klub, Enrique juga punya pengalaman membesut tim nasional Spanyol hingga babak-babak akhir kompetisi besar. Meskipun tak sampai final, pengalamannya tetap jadi nilai lebih di laga sebesar ini.
Sementara itu, Simone Inzaghi datang ke final Liga Champions kali ini dengan catatan yang tak kalah menarik. Meski belum seimpresif Enrique, pelatih berusia 48 tahun itu telah tampil di lima partai final.
Empat di antaranya terjadi di Coppa Italia saat masih melatih Lazio dan kemudian Inter. Satu final lainnya tentu saja adalah final Liga Champions musim lalu saat Inter harus mengakui keunggulan Manchester City.
Dari lima final itu, Inzaghi menang tiga kali dan kalah dua kali. Persentase kemenangannya di laga final mencapai 60 persen, yang masih cukup tinggi untuk ukuran pelatih muda.
Inzaghi dikenal sebagai pelatih yang jago meracik strategi saat partai krusial, terutama di kompetisi domestik. Di Serie A dan Coppa Italia, Inter tampil sangat stabil dan tangguh di bawah arahannya.
Namun, menghadapi Enrique yang belum pernah kalah di final jelas bukan perkara mudah. PSG saat ini juga dihuni oleh skuad bertabur bintang yang siap mendukung ambisi sang pelatih menambah koleksi trofi.
Di sisi lain, Inzaghi bisa saja menjadikan pengalaman pahit final Liga Champions musim lalu sebagai bahan bakar motivasi. Kekalahan dari Manchester City tentu meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Final kali ini pun menjadi kesempatan emas untuk menebus kegagalan tersebut dan menantang status “tak terkalahkan” milik Enrique.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
