
Pelatih Manchester United Ruben Amorim (Dok. The Renfrewshir Gazette)
JawaPos.com–Kekalahan menyakitkan 1-0 Manchester United dari Tottenham di final Liga Eropa pada Kamis (22/5) bukanlah hal yang diinginkan para penggemar Setan Merah.
Di tengah penampilan buruk United di liga domestik, laga final ini adalah harapan terakhir Ruben Amorim untuk memperbaiki rapor bersama anak asuhannya yang dianggap sebagai musim terburuk dalam sejarah klub.
Sebenarnya tak hanya United yang memiliki musim buruk di liga, tetapi juga Tottenham Hotspur menduduki papan bawah. Kedua tim masing-masing berada di posisi ke-16 dan ke-17 di Liga Inggris.
Selain untuk merebutkan trofi Liga Eropa, United dan Spurs juga bertarung untuk satu tempat di Liga Champions musim depan. Tottenham asuhan Ange Postecoglou menang melalui gol tunggal Brennan Johnson.
Hasil itu menandai trofi pertama Tottenham sejak 2008 dan membuat setengah musim Amorim di Old Trafford gagal membawa United bangkit dan menjalani musim tanpa trofi. Kesalahan fatal yang dibuatnya di final Liga Eropa merupakan pertandingan penentu karir.
Menyadur dari GiveMeSport, berikut adalah empat kesalahan krusial yang dilakukan pelatih kepala berusia 40 tahun itu selama kekalahan Manchester United di final Liga Europa.
Memainkan Leny Yoro di Luar Posisi Ternyaman
Dianggap sebagai salah satu bek muda yang paling menjanjikan dalam dunia sepak bola, Leny Yoro memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan nyata setiap kali berada di lapangan untuk Manchester United.
Namun, dia harus bermain di posisi yang cocok untuknya agar memberikan kontribusi maksimal. Tetapi, dalam laga melawan Tottenham, Amorim memilih untuk memainkan Luke Shaw di sisi bek tengah sebelah kiri menempatkan Yoro di sisi kanan dari formasi tiga bek sejajar.
Meskipun Shaw telah menjadi pemain kunci United selama bertahun-tahun, dalam laga melawan Tottenham dia tampil kurang maksimal ketika dipasang sebagai bek tengah sebelah kiri. Sebab, posisi aslinya adalah bek sayap kiri.
Posisi yang biasa ditempati Yoro itu, dipercayakan kepada Shaw yang hanya mendapat rating 6.4 dalam laga ini dengan mencatatkan tiga kali kalah duel bola dari pemain Spurs.
Memainkan Bruno Fernandes Terlalu ke Belakang
Satu percikan cemerlang dalam kampanye United yang buruk tahun ini adalah penampilan menawan Bruno Fernandes. Maestro asal Portugal itu berada dalam performa terbaiknya musim ini dan jika bukan karena dia, Setan Merah bisa jauh lebih buruk.
Dalam performa terbaiknya, Fernandes memegang kendali dalam peran gelandang serang dan berusaha memberikan dampak besar pada setiap permainan secara ofensif dalam skema baru 3-4-2-1 ala Amorim.
Namun, anehnya, Amorim lebih memilih Mason Mount dalam peran gelandang serang dan menempatkan Fernandes bermain lebih ke belakang, dalam peran gelandang tengah berduet dengan Casemiro.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
