
Relawan memakai kaos bergambar Ganjar Pranowo saat acara Rakornas Relawan Ganjar-Mahfud se-Jawa di Hall B3-C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jakarta, Senin (27/11).
JawaPos.com - Pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), Ganjar Pranowo-Mahfud MD berkeinginan untuk mengembalikan gagasan revolusi mental yang diserukan sebagai fondasi pembangunan Indonesia pada 10 tahun lalu.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua DPP PDIP, Said Abdullah.
"Kini, kami pakai sebagai modal kami menuju Indonesia Emas 2045. Kami pakai pondasi Menuju Indonesia Unggul," ungkap Said Abdullah di Jakarta, Senin (27/11), seperti yang dikutip oleh JawaPos.com dari Antara.
Menurut Said Abdullah, menjadi manusia unggul merupakan pesan utama dalam pembangunan nasional.
Oleh karena itu, pihaknya ingin mengembalikan revolusi mental dan hal tersebut terlihat dalam visi dan misi Ganjar-Mahfud yang sebagian besar bertujuan untuk membangun masyarakat Indonesia menjadi manusia unggul.
Selain itu, dirinya juga menekankan bahwa jati diri serta kepribadian bangsa perlu dinyatakan secara lugas.
Sebab, seluruh nilai-nilai luhur bangsa harus dihadirkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, gotong royong, antikorupsi, emansipasi perempuan, serta melindungi minoritas.
Said meyakini, bahwa seluruh nilai tersebut harus menjadi prinsip utama dalam setiap pergerakan pembangunan Indonesia di semua sektor. Menurutnya, hal tersebut adalah jalan kebudayaan untuk menuju manusia unggul.
"Paling mula kami harus menjadi praktik hidup dan contoh nyata bagi seluruh penyelenggara negara. Kami yakin jika seluruh penyelenggara negara bisa melaksanakan nilai-nilai tersebut pada gerak hidupnya sehari-hari, maka hal itu akan memantul lebih luas menjadi jiwa bangsa," jelas Said Abdullah.
Dirinya menilai, bahwa jika seluruh penyelenggara negara menghayati nilai-nilai leluhur tersebut, maka semua upaya pembangunan nasional akan menjadi lebih mudah diorganisasi untuk menopang cita-cita pembangunan.
Karenanya, keteladanan pemimpin negara (Presiden) yang menyebar ke semua level penyelenggara negara diyakini menjadi energi penggerak yang penting untuk pembangunan nasional.
Dalam lanjutannya, Said Abdullah mengatakan bahwa kekuatan gotong royong dalam upaya pembangunan nasional dengan penghayatan atas jiwa bangsa akan mampu menopang potensi untuk meningkatkan pendapatan per kapita, menurunkan kemiskinan, meningkatkan harapan hidup rakyat, membuka lapangan pekerjaan, mengembangkan talenta anak bangsa yang hebat, serta menjadikan poros maritim dunia.
Menurut Said Abdullah, pembangunan Indonesia selama ini melupakan nalar tersebut. Bahwa gerakan pembangunan itu bukanlah agenda Pemerintah semata, namun rakyat juga akan merasa memiliki cita-cita tersebut.
Said menuturkan bahwa selama ini seluruh program pembangunan di Indonesia hanya dipahami dan diformulasikan secara teknokratis.
"Teknokrasi sangat penting karena memandu kalkulasi dan mitigasi. Namun, sama pentingnya adalah rasa kepemilikan masyarakat atas agenda pembangunan," tandas Said Abdullah.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
