
Prof. Iswanto Sucandy usai pengukuhan dirinya sebagai Adjunct Professor Fakultas kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Kamis (24/7/2025). (Juliana Christy/Jawa Pos)
JawaPos.com – Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Surabaya resmi mengukuhkan Prof. Iswanto Sucandy, MD, FACS sebagai Adjunct Professor, Kamis (24/7).
Dalam orasi ilmiahnya di Aula FK Unair, Iswanto menekankan pentingnya pengembangan bedah robotik sebagai teknologi masa depan di Indonesia.
Adjunct professor adalah gelar akademik yang diberikan kepada seorang pakar atau profesional dari luar institusi perguruan tinggi.
Sang pakar diundang untuk berkontribusi dalam kegiatan akademik seperti mengajar, membimbing, atau melakukan riset di kampus tanpa harus menjadi dosen tetap.
Berbeda dengan guru besar tetap (profesor penuh), adjunct professor biasanya tidak memiliki kewajiban administratif atau struktural dalam universitas.
Tetapi ia tetap berperan penting dalam pengembangan mutu akademik, terutama lewat kolaborasi internasional dan transfer keahlian.
Pengangkatan Iswanto sebagai adjunct professor menjadi bentuk pengakuan atas keahlian dan reputasi internasionalnya, sekaligus menjembatani kolaborasi antara FK Unair dengan institusi luar negeri tempat ia berkarir.
Iswanto adalah ahli bedah hepatobilier yang kini aktif di Advent Health Tampa, University of Central Florida, Amerika Serikat.
Ia merupakan alumnus FK Unair angkatan 1997, dan sejak 2004 telah meniti karir di AS hingga dikenal luas sebagai salah satu pionir robotic surgery untuk kasus kanker di saluran pencernaan dan hati.
“Robotik surgery di Amerika sudah jadi standar. Di Indonesia, kita baru memulai. Saya ingin membantu agar teknologi ini bisa tumbuh dan berkelanjutan di sini,” terang Iswanto dalam orasi bertajuk Advances in Colorectal Carcinoma with Liver Metastasis: From Diagnosis to Surgical Intervention.
Di hadapan para dosen, mahasiswa, dan tamu undangan, ia menyampaikan bahwa robotik bukan hanya soal alat canggih, tetapi bagian dari transformasi pendidikan dan kompetensi dokter bedah.
“Saya bukan hanya ingin memperkenalkan robotik, tapi juga membantu meningkatkan kemampuan dokter muda Indonesia. Mulai dari riset bersama hingga pelatihan singkat di Amerika. Ilmunya harus dibawa pulang dan dipakai di sini,” ujarnya.
Sebagai peneliti, Iswanto juga memiliki rekam jejak luar biasa. Ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 sitasi ilmiah dengan H-index 25, menjadikannya salah satu ahli bedah Indonesia dengan kontribusi akademik tinggi di kancah global.
Wakil Dekan I FK Unair Achmad Chusnu Romdhoni mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian Iswanto sebagai alumnus.
Ia menilai kehadiran Iswanto sebagai Adjunct Professor menjadi energi baru bagi FK Unair untuk bersaing di tingkat internasional.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
