Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 14 Maret 2026 | 21.31 WIB

8 Hal yang Diam-diam Dikorbankan Anak Dewasa yang Kembali Tinggal di Rumah untuk Membantu Orang Tua Lansia Menurut Psikologi

seseorang yang membantu orang tua. (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang membantu orang tua. (Freepik/freepik)



JawaPos.com - Merawat orang tua yang sudah lanjut usia sering dianggap sebagai bentuk bakti yang mulia. Banyak anak dewasa memutuskan kembali tinggal di rumah untuk menemani, merawat, atau membantu orang tua yang mulai melemah secara fisik maupun mental. Di mata masyarakat, keputusan ini sering dipandang sederhana: “anak yang berbakti kepada orang tua.”

Namun dalam perspektif psikologi, keputusan tersebut sering membawa konsekuensi emosional dan psikologis yang tidak kecil. Banyak pengorbanan yang terjadi secara diam-diam — tidak terlihat oleh orang lain, bahkan sering tidak disadari oleh orang yang menjalaninya.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat delapan hal yang sering dikorbankan oleh anak dewasa yang kembali tinggal di rumah untuk merawat orang tua lanjut usia.

1. Kebebasan Pribadi


Salah satu hal pertama yang sering berubah adalah kebebasan pribadi. Anak dewasa yang sebelumnya hidup mandiri harus menyesuaikan kembali pola hidupnya.

Secara psikologis, manusia dewasa memiliki kebutuhan otonomi — yaitu kemampuan untuk menentukan kehidupan sendiri. Ketika kembali tinggal bersama orang tua untuk merawat mereka, banyak keputusan kecil dalam hidup yang menjadi lebih terbatas, seperti:

jam keluar rumah

aktivitas sosial

waktu istirahat

kebiasaan sehari-hari

Kebebasan ini tidak hilang sepenuhnya, tetapi sering berkurang secara signifikan.

2. Hubungan Sosial dan Pertemanan


Merawat orang tua membutuhkan waktu dan energi emosional yang besar. Dalam banyak kasus, anak dewasa harus mengurangi aktivitas sosialnya.

Akibatnya:

jarang bertemu teman

sulit mengikuti kegiatan komunitas

berkurangnya kesempatan untuk membangun jaringan sosial

Dalam psikologi, dukungan sosial sangat penting bagi kesehatan mental. Ketika jaringan sosial mengecil, risiko perasaan kesepian atau kelelahan emosional bisa meningkat.

3. Kesempatan Karier


Banyak anak dewasa yang menyesuaikan kariernya demi merawat orang tua. Beberapa bahkan menolak promosi atau peluang kerja di kota lain.

Dari sudut pandang psikologi perkembangan dewasa, masa dewasa adalah fase penting untuk membangun identitas profesional dan stabilitas ekonomi. Ketika prioritas bergeser ke perawatan orang tua, perkembangan karier terkadang berjalan lebih lambat.

Ini bukan berarti keputusan tersebut salah, tetapi memang merupakan bentuk pengorbanan nyata yang sering tidak terlihat oleh orang lain.

4. Waktu untuk Diri Sendiri


Merawat orang tua lansia sering berarti berada dalam kondisi “siaga” hampir sepanjang waktu.

Banyak anak dewasa mengalami:

kurang waktu istirahat

berkurangnya hobi

minimnya waktu refleksi diri

Dalam psikologi kesehatan, kurangnya waktu pribadi dapat menyebabkan caregiver fatigue atau kelelahan pengasuh — kondisi emosional yang muncul akibat tanggung jawab merawat orang lain dalam jangka panjang.

5. Hubungan Romantis


Bagi sebagian orang, keputusan kembali tinggal di rumah dapat memengaruhi kehidupan romantis.

Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:

kesulitan menjalin hubungan baru

keterbatasan privasi

konflik waktu antara pasangan dan tanggung jawab keluarga

Tidak jarang hubungan menjadi lebih rumit karena pasangan juga harus memahami tanggung jawab tersebut.

6. Keseimbangan Emosi


Merawat orang tua yang menua sering membawa dinamika emosional yang kompleks.

Anak dewasa bisa mengalami berbagai perasaan yang bercampur, seperti:

rasa sayang dan tanggung jawab

kelelahan mental

rasa bersalah ketika merasa lelah

kesedihan melihat orang tua menua

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai ambivalent emotions, yaitu emosi yang saling bertentangan tetapi muncul bersamaan.

7. Impian Pribadi yang Tertunda


Sebagian orang memiliki rencana hidup yang harus ditunda ketika memprioritaskan perawatan orang tua.

Contohnya:

melanjutkan pendidikan

pindah ke kota atau negara lain

membangun usaha baru

mengejar passion tertentu

Menunda impian tidak selalu berarti kehilangan, tetapi tetap merupakan bentuk pengorbanan yang nyata.

8. Rasa Tidak Terlihat atau Kurang Diapresiasi

Pengorbanan terbesar sering kali adalah perasaan bahwa usaha tersebut tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Dalam keluarga besar, sering terjadi situasi di mana:

hanya satu anak yang menjadi pengasuh utama

tanggung jawab tidak terbagi rata

pengorbanan dianggap “sudah sewajarnya”

Dalam psikologi keluarga, kondisi ini dapat memicu caregiver resentment, yaitu perasaan kesal atau lelah karena tanggung jawab yang terasa tidak seimbang.

Penutup

Keputusan anak dewasa untuk kembali tinggal di rumah demi merawat orang tua lanjut usia adalah tindakan yang penuh kasih dan tanggung jawab. Namun dari sudut pandang psikologi, penting juga untuk memahami bahwa keputusan tersebut sering disertai dengan berbagai pengorbanan yang tidak selalu terlihat.

Menyadari pengorbanan ini bukan untuk mengurangi nilai bakti kepada orang tua, tetapi justru untuk menumbuhkan empati dan dukungan — baik dari keluarga maupun masyarakat.

Karena pada akhirnya, merawat orang tua bukan hanya tentang kewajiban, tetapi juga tentang perjalanan emosional yang membutuhkan kekuatan, kesabaran, dan dukungan yang tidak sedikit.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore