
Direktur Sichuan Institute of Brain Science, Yao Dezhon (Reuters)
JawaPos.com - Persaingan global dalam pengembangan teknologi antarmuka otak–komputer atau brain–computer interface (BCI) kian menguat. Tiongkok kini menempatkan teknologi tersebut sebagai salah satu sektor strategis masa depan, dengan target penggunaan yang lebih luas bagi masyarakat dalam beberapa tahun mendatang.
BCI merupakan teknologi yang memungkinkan otak manusia terhubung langsung dengan komputer melalui sinyal saraf. Teknologi ini dinilai berpotensi membuka terobosan penting di bidang medis, terutama bagi pasien lumpuh atau amputasi, sekaligus memperluas interaksi manusia dengan mesin serta sistem kecerdasan buatan.
Dilansir dari Reuters, Senin (9/3/2026), Direktur Sichuan Institute of Brain Science, Yao Dezhong, mengatakan teknologi antarmuka otak–komputer (BCI) di Tiongkok berpotensi memasuki tahap penggunaan praktis bagi masyarakat dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun, seiring kematangan produk dan percepatan penelitian yang tengah berlangsung.
Baca Juga:Keamanan Baterai EV Jadi Sorotan, Teknologi Pelapis Tahan Api Diterapkan di Fasilitas Pengujian
Yao menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak akan terjadi secara instan. “Kebijakan baru tidak akan mengubah keadaan dalam semalam. Saya pikir setelah tiga hingga lima tahun ke depan, kita secara bertahap akan melihat beberapa produk BCI mulai bergerak menuju layanan praktis yang benar-benar dapat digunakan masyarakat,” ujarnya dalam wawancara di sela-sela sidang tahunan parlemen Tiongkok di Beijing.
Pemerintah Tiongkok sendiri telah memasukkan BCI sebagai industri strategis masa depan dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru. Teknologi ini ditempatkan sejajar dengan sejumlah sektor mutakhir lain seperti komputasi kuantum, kecerdasan buatan berwujud (embodied artificial intelligence), jaringan komunikasi generasi keenam (6G), dan teknologi fusi nuklir.
Selain itu, strategi nasional pengembangan BCI yang dirilis tahun lalu menargetkan terobosan teknologi besar pada 2027 serta pembentukan dua hingga tiga perusahaan kelas dunia di sektor ini pada 2030. Target tersebut menunjukkan ambisi Tiongkok untuk memperkuat posisinya dalam perlombaan teknologi global.
Saat ini, Tiongkok telah menjadi negara kedua di dunia yang meluncurkan uji klinis BCI invasif pada manusia. Lebih dari sepuluh uji coba sedang berlangsung, jumlah yang setara dengan Amerika Serikat dan para ilmuwan berencana merekrut lebih dari 50 pasien di berbagai wilayah Tiongkok pada tahun ini.
Dalam sejumlah percobaan terbaru, hasil yang diperoleh menunjukkan perkembangan yang menjanjikan. Beberapa pasien lumpuh maupun pasien yang mengalami amputasi dilaporkan mampu memulihkan sebagian kemampuan gerak serta mengoperasikan perangkat seperti tangan robot atau kursi roda cerdas melalui sinyal otak.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai mengintegrasikan beberapa terapi BCI ke dalam sistem asuransi kesehatan nasional di sejumlah provinsi yang menjadi lokasi uji coba penerapan teknologi tersebut. Menurut lembaga riset CCID Consulting, nilai pasar domestik teknologi ini diperkirakan mencapai 5,58 miliar yuan atau sekitar Rp 13,67 triliun pada 2027 (dengan kurs Rp 2.451 per yuan).
Sementara itu, Yao menilai Tiongkok memiliki sejumlah keunggulan dalam pengembangan teknologi tersebut. "Tiongkok memiliki banyak keunggulan dalam teknologi BCI, seperti populasi yang sangat besar, permintaan pasien yang tinggi, rantai industri yang efisien dari sisi biaya, serta sumber daya talenta STEM yang melimpah," ujarnya. Dia menambahkan bahwa meski jalur dari eksperimen menuju uji klinis masih panjang, kemajuan riset di bidang ini berlangsung cepat.
