Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 November 2020 | 02.48 WIB

Mati Suri Trumpisme

Photo - Image

Photo

JOSEPH Robinette Biden Jr atau Joe Biden akan segera dilantik menjadi presiden ke-46 Amerika Serikat (AS). Meskipun proses penghitungan suara masih berlangsung, Biden telah diproyeksikan mengantongi 290 suara elektoral (electoral votes). Angka yang lebih dari cukup bagi seorang kandidat untuk bisa duduk di kursi kepresidenan menurut sistem perundang-undangan di AS.

Kemenangan Biden, bersama Kamala Harris sebagai kandidat wakil presiden, disambut gegap gempita oleh para pendukungnya. Kurun empat tahun pemerintahan di bawah Presiden Donald Trump –yang penuh kontroversi, ketegangan, dan ketidakpastian– tampaknya menjadi pemicu kegembiraan besar atas kemenangan Biden. Kemenangan Biden, yang berasal dari Partai Demokrat dan secara ideologis berlawanan dengan Trump yang berasal dari Partai Republik, seolah memberikan harapan besar akan kembalinya kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat AS ke kondisi ”normal”.

Oleh banyak pengamat, kemenangan Biden juga dilihat sebagai simbol kekalahan Trumpisme. Istilah itu merujuk gaya berpolitik kontroversial yang telah mengantarkan Trump menjadi presiden AS pada 2016 meskipun sering kali dianggap un-American (tidak mewakili Amerika).

Trumpisme sendiri adalah gaya berpolitik Donald Trump yang dicirikan oleh paham konservatif-ultrakanan, populisme ultranasionalis, nativisme (yang cenderung ke arah proteksionisme), white supremacy, serta antiglobalisme. Trumpisme juga dicirikan oleh penolakan terhadap kemapanan tradisi politik AS, penolakan terhadap sains dan fakta ilmiah, penyimpangan terhadap pakem komunikasi publik yang santun dan diplomatis (Trump kerap menyebut lawan politiknya dengan julukan negatif, misalnya Sleepy Joe), serta penggunaan retorika politik yang berbasis polarisasi sentimen identitas ras, etnis, dan agama.

Selain itu, Trumpisme dicirikan oleh strategi komunikasi politik Donald Trump yang tidak segan memanfaatkan hoaks, berita palsu, dan ujaran kebencian demi kepentingan politiknya. Michiko Kakutani dalam bukunya, The Death of Truth: Notes on Falsehood in the Age of Trump (2018), mengungkapkan bahwa Trump adalah politikus AS yang paling piawai memanfaatkan kebohongan (falsehood) demi libido politik. Trump tertangkap tangan telah berkali-kali berbohong bahkan setelah dia duduk di kursi kepresidenan.

Koran The Washington Post (1/8/2018), misalnya, mencatat bahwa sejak menjadi presiden AS pada 20 Januari 2017 hingga 1 Agustus 2018, Trump telah membuat setidaknya 4.229 klaim keliru atau menyesatkan ke publik. Trump berkali-kali secara sadar menggunakan kebohongan untuk mendapatkan sorotan kamera media massa, mengalihkan perhatian publik akan isu-isu tertentu, dan yang lebih penting lagi, demi mengeksploitasi sentimen dan emosi para pendukung fanatiknya.

Kemenangan Biden dengan demikian dianggap akan mengakhiri penyebaran ideologi hitam Trumpisme yang dibawa Trump dan mengembalikan budaya politik beradab (civic political culture) di AS. Namun, benarkah bersamaan dengan kekalahan Trump dalam mempertahankan kursi kepresidenannya, ideologi Trumpisme juga serta-merta akan turut hancur? Tampaknya tidak semudah itu.

Hasil pilpres kali ini menunjukkan bahwa tidak sedikit rakyat AS yang telanjur menyukai dan mendukung janji-janji ideologi Trumpisme. Faktanya, di luar dugaan banyak lembaga jajak pendapat, perolehan suara Donald Trump dalam pilpres AS kali ini justru meningkat dan lebih banyak daripada saat pilpres pada 2016. Secara nasional, popular votes yang diperoleh Trump mencapai 48 persen atau sekitar 70 juta suara. Angka ini meningkat 7,3 juta dibanding perolehan suara Trump pada Pilpres AS 2016 (Reuters, 8/11/2020).

Fakta tersebut menunjukkan bahwa hampir separo penduduk AS ternyata setuju dan menerima apa yang dilakukan Trump melalui ideologi Trumpisme. Koalisi dan militansi para pendukung Trump dalam pilpres kali ini juga justru jauh lebih kuat. Ribuan pendukung Trump di berbagai kota di AS terlihat selalu memadati ajang kampanye yang diadakan sebelum pilpres berlangsung. Dibanding Pilpres AS 2016, para pendukung ideologi Trumpisme kini juga makin menyebar di berbagai kelompok dan lapisan masyarakat AS.

Kelompok etnis Hispanik dan kulit putih kelas menengah –yang sebelumnya tidak banyak memilih Trump– dalam pilpres kali ini justru cenderung mendukung Trump (Newsweek, 4/11/2020). Realitas sosiologis masyarakat AS yang gelap dan laten (tidak terlihat) kini menampak jelas dalam ideologi Trumpisme –merayakan supremasi ras dan etnis tertentu (maraknya white supremacy dan aksi rasisme), nativistik (dengan slogan America First), antiasing (menolak imigran muslim dari Timur Tengah, membangun tembok tebal di perbatasan Meksiko), hingga antisains (menolak saran ilmuwan dalam penanganan Covid-19).

Meskipun Trump kalah dalam kontestasi kali ini, diakui atau tidak, ideologi Trumpisme tampaknya masih akan terus memengaruhi realitas politik elektoral di AS. Trumpisme belum mati. Ia masih hidup. Ia hanya mati suri. Bukan tidak mungkin dalam Pilpres AS 2024 Trumpisme hidup lagi dengan wajah dan tokoh yang berbeda. Mungkin bahkan lebih kuat daripada Donald Trump sendiri.

Era kepemimpinan Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris tampaknya harus menerima kenyataan telah tumbuh suburnya benih Trumpisme di tanah demokrasi AS. Tantangan politik Biden sebagai presiden baru AS adalah menyatukan kembali rakyat AS yang telah terbelah tajam selama masa empat tahun kepemimpinan Trump dengan ideologi Trumpisme yang dibawakannya. (*)




*) Medhy Aginta Hidayat, Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Trunojoyo Madura dan doktor sosiologi alumnus Universitas Missouri, AS

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=BD0jB5iDidY

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore