
Photo
PANDEMI Covid-19 sejak awal 2020 telah menimbulkan dampak serius secara global. Worldometer mencatat sebanyak 216 negara terkena dampaknya. WHO mencatat, tanggal 29 Oktober 2020 terdapat 479.417 kasus baru. Terdiri dari 44.351.506 akumulasi kasus terkonfirmasi dan 1.171.225 akumulasi kasus kematian. Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada bidang kesehatan, tetapi telah meluas ke bidang ekonomi, sosial, pendidikan dan lainnya.
Pandemi Covid-19 terjadi ketika dunia sudah sedemikian eratnya terhubung satu sama lain dalam jaringan interaksi politik, ekonomi, dan sosial budaya, dalam satu proses yang disebut globalisasi. Di era globalisasi, pergerakan barang, jasa, dan manusia semakin cepat dan masif dengan berkembangnya teknologi transportasi, komunikasi dan informasi.
Akibat Pandemi Covid-19, ekonomi global tengah mengalami turbulensi. Selayaknya pesawat udara, ancaman turbulensi di bidang ekonomi perlu ditindaklanjuti secara tepat. Turbulensi diekspresikan sebagai ketidakstabilan pasar, karena beberapa hal antara lain terorisme global, perang, kenaikan harga minyak, inovasi dan pandemi wabah (Lawton 2003).
Sektor yang Terdampak
Salah satu sektor ekonomi global yang terdampak turbulensi atau goncangan adalah Rantai Nilai Global (Global Value Chain). Perdagangan, produksi, dan pasar keuangan akan berkontraksi akibat turbulensi ini. Banyak negara dan hampir semua sektor akan mengalami penurunan ekspor, dan akan diperparah jika suatu negara atau kawasan telah bergantung pada perdagangan internasional. Dalam kondisi ini, trade off antara pemulihan ekonomi dan proteksi kesehatan masyarakat menjadi pilihan yang cukup sulit. Kebijakan pembatasan interaksi sosial yang diikuti dengan penutupan tempat kerja, serta pembatasan akses transportasi berdampak pada hambatan produksi dan distribusi barang.
Perlunya Keseimbangan Supply and Demand
Ekonomi global dapat terjaga apabila terdapat keseimbangan antara penawaran dan permintaan (supply and demand). Akibat pandemi Covid-19, turbulensi di bidang permintaan terdampak lebih parah dibandingkan faktor penawaran (World Bank, 2020). Selain itu, negara berkembang yang memiliki kecenderungan bergantung pada pendanaan dengan Dolar Amerika Serikat akan meningkatkan risiko lebih tinggi akibat depresiasi mata uang.
Baca juga: Negara “Nol” Kasus Covid-19, Ekonomi Masih StabiL ?
Menurut World Bank (2020), turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 meliputi goncangan di beberapa sektor. Pertama, sektor Pekerjaan yang akan turun karena karantina wilayah, penutupan pabrik, pengetatan jarak sosial. Kedua, sektor Biaya Perdagangan akan naik pada biaya impor dan ekspor, yang juga didorong oleh kombinasi pengurangan jam operasi, penutupan akses/jalan, perbatasan, dan kenaikan biaya transportasi. Ketiga, Pariwisata akan turun tajam sejalan dengan perkiraan World Travel and Tourist Council tahun 2020. Keempat, Layanan akan beralih, dari layanan yang membutuhkan interaksi seperti transportasi massal, pariwisata, restoran, dan aktivitas rekreasi menjadi konsumsi barang dan layanan lainnya.
Turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19 terjadi bersamaan dengan memburuknya hubungan dagang antara Amerika dan Tiongkok. Hal ini menyebabkan negara-negara yang tergabung dalam Global Value Chain harus mengoreksi kembali kelangsungan jaringan produksinya. Akibatnya, banyak negara cenderung lebih menyelamatkan kondisi ekonomi nasionalnya dengan menerapkan proteksi dan nasionalisasi produk dalam negeri untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Praktik tersebut memang tidak bertentangan dengan konsep perdagangan global yang mengacu pada ketentuan World Trade Organization (WTO). Artikel 11 GATT-WTO membolehkan proteksi ekspor produk tertentu dalam waktu sementara untuk mencegah atau mengatasi krisis. Proteksi dan nasionalisasi tersebut sejalan dengan paradigma Jhon Maynard Keynes yang dikuti oleh Presiden Amerika Serikat Theodore D Roosvelt , saat menghadapi resesi hebat tahun 1993 dengan menerapkan prinsip national self-sufficiency.
Di tingkat makro ekonomi, kebijakan tentang proteksi dan nasionalisasi, jika diterapkan dalam jangka panjang, akan meningkatkan volatilitas harga dan menghambat pertumbuhan. Untuk menjaga stabilitas ekonomi global, sangat diperlukan kerjasama global antar pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta pada sektor kesehatan dan ekonomi. Secara lebih luas, menegakkan sistem perdagangan internasional berbasis aturan yang stabil akan sangat penting untuk melaksanakan pemulihan ekonomi global yang kuat dan tahan lama (IMF 2020).
Seperti ras evolusi Darwin, tidak selalu yang terkuat yang bertahan, tetapi yang paling mudah beradaptasi. Kita optimis, semua pihak dapat memainkan peran, sehingga dapat “beradaptasi” di tengah turbulensi ekonomi global akibat pandemi Covid-19.
Amirudin
Mahasiswa Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=FQ3j-gPvyKI&ab_channel=jawapostvofficial

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
