
Prof. DR. Ir. Luh Suriati, M.Si Dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa.
KEMASAN pangan berbahan plastik sangat mengkhawatirkan saat ini. Walaupun bersifat fleksibel, transparan, dan murah, plastik mempunyai berbagai kelemahan yaitu sifatnya tidak tahan panas, mudah robek, non-biodegradable dan dapat menyebabkan kontaminasi melalui transmisi monomernya ke bahan yang dikemas.
Kemasan makanan adalah sumber utama sampah plastik karena menggunakan jenis plastik yang tidak ramah lingkungan. Maraknya isu global warming mendorong penelitian-penelitian kemasan ramah lingkungan atau sustainable packaging. Penggunaan kemasan ini untuk produk makanan dan minuman menjadi tren internasional dan merupakan kebutuhan agar produk tidak tersisih dari persaingan global.
Kemasan dari bahan organik, dan berasal dari bahan-bahan terbarukan (renewable) dan ekonomis potensial dikembangkan. Keuntungan dari edible packaging adalah dapat melindungi produk, penampakan asli produk dapat dipertahankan, dapat langsung dimakan, menjaga kesehatan konsumen serta aman bagi lingkungan. Edible packaging berpeluang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kemasan yang aman bagi konsumen dan menunjang sustainable agriculture serta mewujudkan Sustainable Development Goal’s (SDG’s).
Edible packaging dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang berfungsi sebagai pelapis (edible coating) dan yang berbentuk lembaran (edible film). Beberapa peneliti menggunakan istilah edible coating dan film secara bergantian, sementara peneliti lainnya meyakini adanya perbedaan karena proses inklusi ke dalam produk makanan. Edible coating langsung diaplikasikan pada makanan, sedangkan edible film disiapkan terlebih dahulu baru kemudian diaplikasikan pada produk. Fenomena edible packaging pada ilmu Pangan adalah terjadi proses migrasi, permiasi, absorpsi, dan adsorpsi, dari komponen aktif bahan coating/film ke bahan pangan. Edible coating dan edible film dapat ditambahkan atau diinkorporasi beberapa bahan tambahan seperti: Agen Antimikroba, Bahan untuk Mempertahankan Tekstur, Nutrasitikal.
Edible coating merupakan lapisan tipis yang dapat dimakan serta biodegradable, dibentuk untuk melapisi makanan atau diletakkan di antara komponen makanan yang berfungsi sebagai penghalang perubahan kimia, fisik dan biologi. Edible coating juga dapat berperan sebagai pembawa aditif dan merupakan barrier terhadap uap air dan gas. Penggunaan edible coating telah menyebar luas sejak pertengahan tahun 1980 dan berkembang seiring dengan kesadaran pentingnya makanan yang sehat dan aman. Metode untuk aplikasi coating pada produk pangan terdiri atas beberapa cara, yakni metode pencelupan, pembusaan, penyemprotan, penuangan, dan aplikasi penetesan terkontrol.
Edible film adalah lapisan tipis yang dapat dimakan, dibentuk di atas komponen makanan sebagai penghambat transfer massa, memiliki permeabilitas selektif terhadap gas tertentu, mempertahankan pigmen alami dan gizi, serta pembawa aditif seperti pewarna, pengawet dan penambah aroma yang memperbaiki mutu bahan pangan. Penggunaan edible film untuk pengemasan sosis, buah-buahan dan sayuran segar dapat memperlambat penurunan mutu, karena mampu menciptakan kondisi atmosfir internal yang sesuai dengan kebutuhan produk yang dikemas. Istilah lain adalah biopolimer yang mempunyai sifat termoplastik, berpotensi dibentuk atau dicetak sebagai film kemasan. Keunggulannya adalah berasal dari sumber yang terbarukan (renewable) dan dapat dihancurkan secara alami.
Lembaran Edible Film
Penggunaan edible film sebenarnya sudah lama dilakukan, terutama pada sosis, yang pada zaman dahulu menggunakan usus hewan. Pelapisan lilin pada buah dan sayuran sudah lama dilakukan di Tiongkok. Aplikasi edible film antara lain:
Keuntungan Penggunaan Edible Coating & Edible Film
Edible Coating Gel Lidah Buaya untuk memperpanjang masa simpan bua-buahan potong segar (fresh-cut fruit), pendanaan dari Hibah Bersaing Kemdikbud Ristek dikti 2019-2020.
Buah potong segar (fresh cut fruit) merupakan produk olahan minimal yang saat ini sedang populer karena kebutuhan akan produk segar, kualitas, kemudahan, dan persiapan minimal. Proses penghilangan kulit menyebabkan kerusakan yang cepat pada fresh cut fruit. Lapisan nano edible coating dari gel lidah buaya atau nano-ecogel dapat diaplikasikan untuk menunda perubahan fisikokimia pada fresh cut fruit.
Hasil penelitian saya menunjukkan Aplikasi nano-ecogel dengan campuran nano-aditif efektif mempertahankan kualitas buah tropika potong segar, Rekomendasinya menggunakan konsentrasi nano-ecogel 50 persen dengan lama pencelupan 1 menit. Aplikasi nano-ecogel sebaiknya didahului dengan aplikasi CaCl2 dengan konsentrasi 1 persen dan lama perendaman 10 menit. Nano-ecogel yang baik menggunakan gel lidah buaya dengan campuran nano-aditif asam sitrat, asam askorbat dan kaliumsorbat dengan konsentrasi 0,15 persen.
Baca Juga: Keadilan dalam Investasi
Edible Film dari Limbah Kulit Kopi Pendanaan dari Matching Fund Kedai Reka Kemdikbud Ristek dikti 2021-2022
Kopi merupakan salah satu komoditas terpopuler dalam beberapa dekade terakhir. Perluasan perkebunan dan pengolahan kopi secara tidak langsung meningkatkan jumlah kulit kopi. Kulit kopi menjadi permasalahan bagi masyarakat karena dapat mencemari lingkungan, serta menimbulkan bau yang tidak sedap dan menimbulkan pemandangan yang tidak sedap.
