Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 4 Agustus 2022 | 17.54 WIB

Soal Penetapan Tersangka Bharada E, Ini Kata Pakar Psikologi Forensik

Ajudan Irjen Pol. Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E berjalan memasuki ruangan saat tiba di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Kedatangan Bharada E tersebut untuk dimintai keterangan terkait insiden bak - Image

Ajudan Irjen Pol. Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E berjalan memasuki ruangan saat tiba di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Kedatangan Bharada E tersebut untuk dimintai keterangan terkait insiden bak

JawaPos.com–Penyidik Bareskrim Polri resmi menetapkan Bharada Richard Eliezer alias Bharada E sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Rabu, (3/8) malam. Bharada E menjadi tersangka dianggap melanggar pasal 338 juncto pasal 55 dan 56 KUHP.

Menanggapi hal itu, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, kalau bukan membela diri tak bisa pakai dalih seperti personel dalam kasus penembakan Laskar FPI. ”Bukan untuk membela diri mengindikasikan bahwa situasi saat itu bagi pelaku, bukan situasi hidup atau mati,” ujar Reza.

Menurut dia, dalam situasi hidup atau mati, yang bekerja adalah system thinking 1. Sangat cepat, spontan, sangat mendasar, bahkan instinktif.

”Siapa mati duluan, ditembak atau menembak, mati atau hidup,” kata Reza.

Tapi karena bukan membela diri, lanjut dia, situasinya bukan hidup atau mati. Alhasil, yang mengalami aktivasi adalah system thinking 2. Rasional, berdasar data, sistematis, dan pakai kalkulasi.

”Apa yang dikalkulasi? Target, insentif, sumber daya, risiko. Targetnya ditentukan, diincar, bukan acak, bukan kebetulan, dan mengetahui akan diapakan. Sedangkan insentif bisa diartikan mengetahui manfaat yang diraih lewat serangan terhadap target,” papar Reza.

”Lalu sumber daya berupa instrumen untuk menyerang target dan risiko yakni kemungkinan buruk sekaligus antisipasinya,” sambung dia.

Reza menjelaskan, makin sempurna keempat elemen itu masuk dalam hitung-hitungan pelaku, semakin memenuhi unsur serangan berencana. ”Jadi begitulah matematika kejahatan yang terencana,” ucap Reza.

Personel polisi dilatih untuk terbiasa berpikir secara rasional. Dengan rasionalitas yang baik, personel akan tahu persis pihak yang dihadapi dan bagaimana secara tepat mesti bertindak.

”Personel berpangkat rendah tidak akan berani melawan personel berpangkat tinggi. Itu mengindikasikan adanya kesadaran yang memungkinkan bekerjanya rasionalitas,” terang Reza.

Rasionalitas memungkinkan satu pihak menilai pihak lain dan situasi yang dihadapi. Agar dapat berpikir rasional, individu membutuhkan waktu cukup sehingga pertimbangan (kalkulasi) berjalan dengan normal.

”Personel yang rasional akan tampak misalnya, ketika dia memberikan hormat kepada personel lain yang berpangkat lebih tinggi. Berpikir secara cermat dan hati-hati itu merupakan system 2 thinking,” papar Reza.

Namun menurut dia, situasi yang personel polisi hadapi tidak selalu ideal. Bahkan, sesuai tuntutan situasi, harus berhadapan dengan situasi kritis, genting, ditandai pertaruhan hidup atau mati, terbunuh atau membunuh, ditembak atau menembak. ”Dalam kondisi semaut itu, rasionalitas tidak mungkin dikerahkan. Bahkan justru sangat tidak tepat apabila personel, yang saat itu tengah bergelut dengan bahaya ekstrim, tetap berpikir rasional,” tutur Reza.

Dalam kondisi seperti itu, dia menjelaskan, berpikir rasional justru akan berakibat fatal bahkan mematikan. ”Jadi bisa dipahami bahwa perhatian terhadap pangkat dan jabatan tidak akan berfungsi, manakala seorang personel sedang berada dalam kegentingan yang memaksanya untuk mendahulukan keselamatan dirinya di atas hal-hal lain. Proses berpikir instan bahkan intuitif itu diistilahkan sebagai system 1 thinking,” terang Reza.

Dia menambahkan, berhadap-hadapan dengan risiko maut sedemikian rupa, by intuition personel akan semata-mata berfokus pada keselamatan dirinya. Bukan pada risiko disiplin organisasi, benturan antar angkatan, hukuman pidana, sanksi sosial, bahkan ancaman pemberhentian tidak dengan hormat, dan hal-hal rasional lainnya.

”Jadi, seorang personel berpangkat rendah dalam situasi tertentu bisa saja menunjukkan pembangkangan dan berani berkonfrontasi dengan personel lain yang berpangkat lebih tinggi (lebih senior). Situasi tertentu dimaksud adalah situasi yang mengharuskan si personel berpangkat lebih rendah itu untuk secara otomatis berperilaku atas dasar system 1 thinking,” ucap Reza.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore