
Ilustrasi menu MBG yang disajikan SPPG di Surabaya. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyoroti persoalan lain yang tidak kalah penting dari pelaksanaan MBG. Hal itu sesuai dengan data Badan Gizi Nasional (BGN) pada Agustus 2026 bahwa ada ratusan sekolah swasta yang menyatakan tidak membutuhkan program MBG. Sekolah itu umumnya merupakan institusi pendidikan elite yang berada di kota besar seperti Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan sejumlah wilayah lain di Pulau Jawa.
Keputusan sekolah-sekolah itu untuk tidak mengikuti program MBG seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan teknis pelaksanaan. Ada fenomena yang justru memperlihatkan adanya persoalan yang lebih mendasar mengenai siapa yang sebenarnya paling membutuhkan bantuan makanan bergizi.
Dalam fakta ini pemerintah perlu mengevaluasi dan refocusing program. Di antaranya mempertimbangkan pengurangan jumlah penerima hingga sekitar delapan juta orang.
"Sebagian masyarakat yang paling membutuhkan makanan bergizi justru belum mendapatkan. Sebagian penerima lainnya sebenarnya tidak terlalu membutuhkan bantuan tersebut," kata Burhanuddin Muhtadi dalam keterangannya, Rabu (2/9).
Burhanuddin menilai kesenjangan itu berkaitan dengan distribusi MBG yang belum sepenuhnya mengikuti tingkat kebutuhan masyarakat di setiap daerah. Program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak masih menghadapi tantangan dalam menjangkau wilayah dengan persoalan pangan yang lebih serius.
Padahal, Presiden Prabowo Subianto selama ini menggambarkan makanan bergizi di sekolah sebagai hak yang semestinya dapat dirasakan setiap anak. Program itu tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap martabat anak bangsa.
Hasil survei nasional Indikator Politik Indonesia pada pertengahan Juli 2026 turut memberikan gambaran mengenai distribusi tersebut. Survei yang melibatkan 3.700 responden menemukan sekitar 58,2 persen rumah tangga memiliki anak yang menerima MBG.
Namun, angka penerimaan itu berbeda cukup jauh antarwilayah di Indonesia. Banten yang termasuk salah satu dari tujuh provinsi dengan indeks pembangunan manusia tertinggi di Indonesia, tercatat memiliki proporsi penerima MBG terbesar.
Sekitar 80 persen rumah tangga di provinsi itu menyatakan anaknya menerima program MBG. Sejumlah provinsi lain di Pulau Jawa juga menunjukkan angka penerimaan yang relatif tinggi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Aris Sebut Dua Apartemennya Dipakai Endah Fitrianingsih dan Malik Bawazier Berselingkuh
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Fenerbahce vs Roma di Liga Champions: Duel Seru Berpotensi Seri
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Shakhtar Donetsk di Liga Champions: Kans Boeren Amankan 3 Poin
Rombongan Badan Pangan Ditembaki di Papua Pegunungan, 3 Orang Tewas
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor Sporting Lisbon vs Galatasaray di Liga Champions: Leões Sikat Tim Tamu di Kandang
Prediksi Skor Slavia Prague vs Lens di Liga Champions: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Como vs RB Leipzig di Liga Champions: I Lariani Siap Libas Tim Tamu di Sinigaglia

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022