
Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan. (Istimewa)
JawaPos.com - Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8) menunjukkan arah kebijakan pemerintah yang jelas. Termasuk dalam urusan pengelolaan anggaran negara.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan, pidato kenegaraan tersebut bukan sekadar pidato politik, melainkan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh presiden kepada rakyat Indonesia. Laporan itu diperkuat dengan data capaian konkret kinerja pemerintahan.
”Saya memberikan nilai 99,9. Bukan karena pidatonya bagus secara retorika, tetapi karena presiden mampu menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah mulai menghasilkan angka-angka yang terukur. Ada output, ada outcome, dan ada arah yang jelas,” terang dia.
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah perbaikan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Laba BUMN pada 2024 tercatat sekitar Rp 186 triliun. Pada 2025, laba BUMN meningkat menjadi sekitar Rp 326 triliun atau tumbuh sampai 75,3 persen.
”Menunjukkan adanya perbaikan tata kelola dan efisiensi yang signifikan. Itu bukan angka kecil, menunjukkan aset negara dapat dikelola lebih produktif,” jelasnya.
Belum lagi dividen BUMN pada 2024 yang mencapai Rp 85,5 triliun. Iwan menyebut, angka itu memperlihatkan bahwa BUMN tidak hanya diposisikan sebagai korporasi negara, melainkan juga instrumen untuk memperkuat kapasitas fiskal dan pembangunan nasional.
Pesan penting dari pidato kenegaraan Presiden Prabowo, lanjut dia, menunjukkan pesan penting terkait dengan keberanian pemerintah melakukan koreksi terhadap data, tata kelola, serta kinerja institusi negara. Dia menyebut, Prabowo tengah membangun budaya pemerintahan yang tidak puas dengan angka di atas kertas.
”Kalau ada yang perlu dikoreksi, dikoreksi. Kalau ada kebocoran, ditutup. Kalau ada aset negara yang tidak produktif, harus dioptimalkan,” imbuhnya.
Iwan menyebut, ukuran keberhasilan pemerintahan Prabowo tidak hanya bisa dilihat dari popularitas kebijakan. Peningkatan penerimaan, efisiensi anggaran, produktivitas BUMN, penciptaan lapangan kerja, dan manfaat yang diterima masyarakat, juga menjadi penilai.
Lebih lanjut, dia menyatakan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kebijakan itu dinilai memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibanding sekadar pemberian makanan kepada anak sekolah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
