Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Maret 2026 | 04.45 WIB

Jelang Muktamar PBNU Ke-35, Gus Salam Tekankan Momentum Kelola Organisasi Secara Bijaksana

\Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

\Logo PBNU. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Abdussalam Shohib, menegaskan sumber-sumber kekayaan strategis negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus kembali dikuasai, dikelola, dan dikendalikan secara mandiri oleh negara. Hal ini penting untuk mencegah praktik monopoli, manipulasi, hingga terbentuknya oligarki.

“Ekonomi berbasis gotong royong dan kreativitas inovatif harus diarusutamakan agar terjadi pemerataan, bukan konglomerasi pada segelintir orang,” kata pria yang karib disapa Gus Salam, Minggu (29/3).

Gus Salam menekankan pentingnya sektor pendidikan dan penelitian menjadi prioritas nasional secara adil, termasuk di tingkat perguruan tinggi. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul jauh lebih penting daripada sekadar program bantuan sesaat.

“Tidak sekadar memberi makan bergizi gratis. Kejayaan peradaban Nusantara bisa kembali dengan investasi pada SDM unggul,” ujarnya.

Ia menambahkan, pejabat dan birokrasi harus mampu menahan diri dari kemewahan dan lebih mengedepankan pengabdian demi masa depan bangsa. Komitmen Nahdlatul Ulama (NU), telah teruji dalam sejarah dan tidak akan luntur karena menyatu dalam nilai keagamaan serta orientasi kebangsaan.

“NU turut melahirkan negara, tidak mungkin mengkhianatinya, tetapi justru menjaganya,” ucap mantan Katib PBNU periode 2015–2018 itu.

Sebagai bagian dari kekuatan civil society, NU disebut turut berperan dalam Reformasi 1998 yang diharapkan membawa perubahan sesuai amanat konstitusi. Namun, menurut Gus Salam, reformasi tersebut kemudian “dibajak” oleh kekuatan global melalui berbagai perantara, sehingga arah kehidupan bernegara bergeser menjadi lebih liberal dan kapitalistik.

Ia juga menyoroti kondisi internal NU yang dinilai mengalami tantangan, mulai dari melemahnya idealisme hingga munculnya pragmatisme dalam kepengurusan. Dampaknya, kreativitas dan inovasi kader di berbagai sektor disebut mulai stagnan dan kehilangan arah.

“NU tidak boleh melemah karena persoalan internal. Sebaliknya, harus kembali sehat, kuat, dan mandiri untuk menjaga kedaulatan,” tegasnya.

Gus Salam memandang Muktamar ke-35 NU yang akan digelar pada Agustus–September 2026, didahului Konbes PBNU dan Munas Alim Ulama, sebagai momentum penting untuk membenahi dan membangkitkan kembali peran organisasi secara arif dan bijaksana.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore