
Suasana Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/5/2024).
JawaPos.com - Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah atau sisa makanan terbesar kedua di Asia. Sisa makanan mendominasi tumpukan sampah di setiap tempat pembuangan akhir (TPA). Padahal proses makanan sampai terhidang di piring butuh usaha banyak orang.
Direktur Kewaspadaan Pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis mengatakan perlu usaha bersama untuk mengurangi sampah makanan di Indonesia. "Betapa panjang perjalanan pangan dan investasinya sampai makanan siap santap di piring kita," tuturnya di sela penandatanganan gerakan pengurangan limbah makanan oleh Indonesia Gastronomy Community di Jakarta pada Rabu (18/6).
Dia mencontohkan untuk komoditas beras, diawali dengan proses menghasilkan benih unggul. Kemudian penyiapan lahan, mekanisasi, pupuk, penanaman, sampai proses panen. Setelah padi dipanen, belum berupa beras. Butuh proses penggilingan. Lalu masuk ke distributor baru pengecer atau konsumen. Selanjutnya dari beras menjadi nasi juga butuh proses. "Ada peluh kerja keras petani di sini," katanya.
Suasana Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/5/2024).
Untuk itu, kebiasaan menyisakan makanan tidak boleh dibiarkan. Nita mengatakan berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sampah atau sisa makanan mendominasi di setiap TPA. Porsinya sekitar 39 persen. Kemudian disusul sampah plastik. Dengan kata lain, keberadaan sampah atau sisa makanan juga menjadi masalah lingkungan.
Sekretaris Jenderal Indonesian Gastronomy Community (IGC) Ray Wagiu Basrowi menegaskan, saat ini lebih dari 735 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan kronis. Bahkan di Indonesia kelaparan dan angka kurang gizi masih sangat tinggi. Kondisi menjadi ironis dengan banyaknya sampah makanan yang terbuang.
"Itu sebabnya IGC sebagai komunitas memulai suatu gerakan agar mengedukasi dan mengontrol pengurangan sisa makanan sejak di tingkat rumah tangga," katanya. Selain itu mempertemukan para praktisi waste management dengan industri gastronomi didalam jejaring IGC.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum ICG Ria Musiawan menegaskan, mereka menyerukan tiga aksi konkret kepada masyarakat dan pelaku industri terkait pengurangan sampah makanan. Yaitu, mulai dari piring sendiri dengan ambil secukupnya dan habiskan sepenuhnya. Kemudian dukung restoran dan pelaku gastronomi yang menerapkan prinsip zero food waste.
"Selanjutnya edukasi dan ubah pola makan menuju makan yang sehat dan berkelanjutan," pungkasnya. (wan)

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
