
Ilustrasi: Seorang polisi sedang mengamankan jalannya aksi unjuk rasa terkait kasus kekerasan terhadap wartawan
JawaPos.com - Kejaksaan Agung dan Dewan Pers memperkuat kolaborasi dalam upaya melindungi jurnalis dari kekerasan dan intimidasi dalam pelaksanaan liputan.
Dalam acara diskusi media gathering yang digelar di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, pada Rabu (24/7) tersebut, Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu mengungkapkan bahwa telah terjadi 28 kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang Januari hingga Juni 2024.
Bentuk kekerasan yang terjadi pun beragam, mulai dari teror, intimidasi, kekerasan berbasis gender, kekerasan fisik, hingga serangan digital.
Menanggapi keresahan tersebut, Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni pun turut memberi dukungan terhadap penguatan kebebasan pers di Indonesia. Politikus NasDem tersebut menilai, kolaborasi antara Kejagung dengan Dewan Pers akan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
“Komisi III mendukung penuh kolaborasi Kejagung dengan Dewan Pers. Ini juga sebagai bentuk komitmen negara dalam menjamin kebebasan serta perlindungan pers. Walaupun sebenarnya hal tersebut sudah tertuang dengan baik dan tegas di dalam UU, namun dalam praktiknya, terkadang masih banyak oknum yang berusaha membungkam pers. Baik itu melalui intimidasi fisik maupun psikis. Dan jika terus dibiarkan, hal seperti itu tentu akan mengancam kualitas demokrasi kita,” ujar Sahroni dalam keterangan, Jumat (26/7).
Oleh karenanya, Sahroni ingin semua lembaga penegak hukum menjadi backup bagi pers, terutama ketika mereka mendapat intimidasi dan kekerasan. Hal tersebut penting agar para jurnalis dapat terus menyajikan informasi aktual dan terpercaya kepada masyarakat, tanpa takut diintimidasi oleh pihak manapun.
“Jadi aparat penegak hukum, baik Polri maupun Kejagung, harus siap jadi backup buat pers. Jadi yang berani macam-macam kepada jurnalis, siap-siap berhadapan dengan keduanya. Karena kita nggak mau lagi dengar ada jurnalis yang dibungkam dengan cara apa pun. Lindungi agar mereka bisa sajikan dan distribusikan informasi yang terpercaya untuk masyarakat. Karena melalui mereka lah masyarakat bisa mengetahui, mengapresiasi, serta mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah,” tambah Sahroni.
Terakhir, menurut Sahroni, kualitas demokrasi di dalam suatu negara dapat diukur dari kualitas kebebasan pers-nya. “Kalau pers sudah sampai takut menyuarakan fakta, berarti demokrasi kita sudah tidak baik-baik saja. Dan kita nggak ingin itu terjadi,” pungkasnya.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
