Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 April 2021 | 23.35 WIB

Pakar Sebut Penurunan Semu Kasus Picu Badai Pandemi Seperti di India

Vaksinasi Covid-19 secara masal mulai menyasar masyarakat umum di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Firman/Antara - Image

Vaksinasi Covid-19 secara masal mulai menyasar masyarakat umum di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Firman/Antara

JawaPos.com–Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan Covid-19 menyatakan, penurunan semu kasus Covid-19 saat ini, bisa memicu badai pandemi seperti yang kini terjadi di India.

Menurut anggota Tim Pakar ULM Hidayatullah Muttaqin, apa yang melanda India dengan lonjakan kasus di atas 300 ribu orang per hari seharusnya dapat menjadi pelajaran agar lebih serius dan lebih hati-hati dalam penanganan pandemi.

”Pertanyaan, apakah strategi 3T (testing, tracing, dan treatment) telah dijalankan maksimal,” kata Hidayatullah seperti dilansir dari Antara di Banjarmasin, Sabtu (24/4).

Diungkapkan Hidayatullah, setelah mengalami ledakan Covid-19 sebesar 10 ribu kasus per hari pada Januari, laju pertumbuhan kasus Indonesia mengalami penurunan pada Maret menjadi hanya di atas 5 ribu kasus per hari. Dia mencermati, penurunan kasus tersebut akibat turunnya tes PCR.

Berdasar data dari Kawal Covid-19, pada Januari lalu rata-rata jumlah orang yang dites PCR per hari mencapai 40 ribu orang dan rata-rata diperoleh 10 ribu kasus per hari. Pada Februari, rata-rata tes PCR sebanyak 26 ribu orang per hari dan kasus konfirmasi lebih rendah sekitar 5.700 kasus per hari.

”Pada 1–23 April rata-rata jumlah tes PCR turun sedikit menjadi 22 ribu orang per hari, sehingga rata-rata kasus konfirmasi harian hanya turun sedikit menjadi sekitar 5.200 kasus per hari,” terang Hidayatullah.

Data tersebut, menurut dia, mengonfirmasi bahwa penurunan kasus di Indonesia terjadi karena lemahnya strategi 3T. Analisis itu menunjukkan penurunan kasus dalam dua bulan terakhir bersifat semu. Penurunan semu adalah penurunan kasus yang terjadi manakala angka positivitas (positivity rate) tinggi, sehingga kasus baru akan turun jika tes PCR dikurangi.

”Setelah liburan panjang akhir 2020 hingga sekarang, rata-rata tingkat positivitas tes PCR di Indonesia adalah satu kasus konfirmasi diperoleh dari 4–5 orang yang dites PCR,” ujar Hidayatullah.

Kesemuan data kasus berbahaya bagi penanganan pandemi dan juga bagi masyarakat. Sebab akan ada anggota masyarakat yang menjadikan informasi penurunan kasus tersebut untuk melalaikan penerapan protokol kesehatan. Terlebih bagi mereka yang sudah bosan terkungkung dengan pembatasan.

Dia menambahkan, kesemuan penurunan kasus juga membahayakan di tengah lambatnya proses vaksinasi di Indonesia dan serangan virus korona yang sudah bermutasi seperti D614G, B117, N439, dan E484K.

”Jangan pernah berpikir mengendalikan pandemi dengan cara mengendalikan data dan menurunkan angka testing PCR yang terutama diperoleh dari hasil pelacakan kontak erat dan orang yang bergejala,” ucap Hidayatullah.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=jEPR9s8-NPs

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore