
TAAT ATURAN: Jemaat Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, memindai QR code PeduliLindungi di depan gereja, Kamis (23/12). Pemerintah Kota Surabaya mewajibkan setiap gereja yang akan buka saat perayaan Natal memasang QR code PeduliLindung
JawaPos.com - Sejak hadirnya aplikasi PeduliLindungi, setiap kali seseorang masuk ke fasilitas layanan publik, harus melakukan scan QR Code sebagai bentuk rekam riwayat kunjungan atau perjalanan. Tujuannya tentu untuk menjadi alat lacak, deteksi, atau menelusuri kasus Covid-19. Sementara ketika kasus sudah terdeteksi, maka kontak eratnya akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan lewat SMS blast.
Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Seseorang akan diberitahu lewat SMS blast ketika mereka kontak erat dengan pasien Covid-19. Dan penelusurannya dibantu dengan PeduliLindungi.
"(History) ini bisa dilihat dari tampilan awal situasi Covid-19 di PL. Setelah itu (menerima) SMS blast ya," katanya kepada JawaPos.com, Selasa (1/2).
PeduliLindungi, kata dia, digunakan untuk mengecek history perjalanan di suatu tempat. Kontak erat akan mendapatkan SMS blast.
"Tak di cek (di PeduliLindungi) tapi dari SMS blast kalau kita kontak erat," katanya.
Teknologi Harus Jadi Andalan
Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mendorong penggunaan aplikasi PeduliLindungi harus lebih optimal untuk menelusuri kontak erat pasien Covid-19. Menurutnya, semestinya teknogi digital dimanfaatkan secara masif di tengah populasi Indonesia yang begitu luas dan besar.
"Tentang ini sudah saya singgung sejak awal pandemi harus adanya satu aplikasi yang bisa bantu proses tracing dan tracking. Ketika angka infeksi sudah di atas 200 itu akan sulit dilakukan manual. Harus ada teknologi aplikasi yang membantu. Karena banyaknya orang yang dimonitor dan tingginya mobilitas tak bisa upaya konvensional atau manual," tegas Dicky kepada JawaPos.com.
Menurutnya Indonesia semestinya bisa belajar dari Singapura yang menggunakan aplikasi TraceTogether di mana mereka memberikan notifikasi bagi kontak erat pasien Covid-19. Dan Singapura selalu mengumumkan lokasi mana saja yang sempat dikunjungi oleh pasien Covid-19.
"Tahun 2021 dalam beberapa diskusi sudah saya sampaikan ketika pemerintah tetapkan PeduliLindungi dan barcode, salah satunya adalah dalam mentracing. Misalnya di negara-negara maju seperti Singapura, saya masuk dalam status kontak, ada notifikasi," ungkap Dicky.
Sehingga aplikasi tersebut, kata Dicky, semestinya memberi kabar bahwa kontak erat harus menjalani karantina. Menurut Dicky, jika dimanfaatkan dengan optimal, aplikasi tersebut bisa memberikan fasilitas karantina rumah atau home quarantine bagi masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah yang luas.
"Jadi seharusnya ada notifikasi kapan seseorang harus datang ke faskes. Aplikasi PeduliLindungi harus bermanfaat untuk monitoring ketika jalani isoman, semacam absen lah. Sulit kalau manual dan sayang kalau tak dimanfaatkan," katanya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
