
Mendagri Tito Karnavian. (Istimewa)
JawaPos.com - Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah pusat dan daerah mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab, mobilitas masyarakat akan meningkat dalam momen perayaan Nataru.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, menegaskan pentingnya kesiapan berbagai sektor untuk memastikan kegiatan masyarakat berlangsung lancar dan aman.
“Kita akan menghadapi Nataru, momen Natal dan Tahun Baru, dimana momen Nataru seperti ini yang paling penting adalah masalah satu alat sistem transportasi, baik darat, laut maupun udara, karena mobilitas masyarakat akan tinggi, baik untuk merayakan Natal, liburan pulang kampung atau liburan ke tempat-tempat wisata. Ini perlu kita siapkan bersama,” kata Tito saat memimpin Rakor Pusat dan Daerah dalam rangka mengantisipasi momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (1/12).
Selain transportasi, Tito juga mengingatkan soal potensi kenaikan harga bahan pangan. Menurutnya, kebutuhan masyarakat menjelang hari raya biasanya meningkat, sehingga harga pangan rentan melonjak.
“Kemudian yang kedua, Nataru ini juga akan berpotensi kenaikan harga bahan pangan. Karena untuk perayaan, untuk pesta dan lain-lain. Oleh karena itu kita mengundang stake holder di bidang kesiapan pangan,” jelasnya.
Ia menekankan, koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan harus diperkuat, terutama untuk menjaga ketersediaan serta stabilitas harga kebutuhan pokok. Pemerintah daerah diminta aktif melakukan pemantauan lapangan agar kenaikan harga dapat dicegah sedini mungkin.
Selain itu, Tito mengingatkan soal dimensi keamanan. Menurutnya, peningkatan jumlah masyarakat yang bepergian dapat menimbulkan risiko, baik terhadap kecelakaan lalu lintas maupun kejadian yang terkait bencana alam.
“Kemudian juga ada dimensi keamanan, keamanan baik lalu lintas, maupun keamanan yang berhubungan dengan bencana alam, tempat-tempat wisata yang ombaknya besar, kemudian udara yang buruk misalnya, juga kepadata titik-titik untuk meratakan malam tahun baru,” urainya.
Ia menekankan, daerah wisata yang diprediksi padat juga harus memiliki mekanisme pengaturan massa yang memadai. Pemerintah daerah diminta memastikan petugas keamanan, jalur evakuasi, serta pengendalian kerumunan berjalan efektif demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Lebih lanjut, Tito menegaskan pengalaman buruk dari negara lain menjadi pelajaran penting. Ia mencontohkan tragedi Halloween di Seoul, Korea Selatan pada 2022 lalu yang menelan banyak korban.
“Seperti kalau di Jakarta di Ancol, kita tidak ingin terjadi seperti peristiwa di Seoul, Korea, pada saat terjadi Halloween, beberapa tahun lalu, itu tidak diamankan dengan baik, tidak diantisipasi baik sehingga akhirnya mengorbankan cukup banyak korban yang meninggal 151, hampir 500 termasuk yang hilang, itu negara moderen, tapi persiapannya tidak dilakukan,” pungkasnya.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
