
Ribuan massa menggelar aksi solidaritas di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Jumat (3/10). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Aksi demonstrasi yang melibatkan ribuan massa digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Jumat (3/10).
Mereka menggelar unjuk rasa besar menuntut pembebasan ratusan aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang diculik militer Israel saat berlayar menuju Gaza.
Para demonstran berasal dari berbagai elemen, mulai dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Aqsha Working Group (AWG), hingga organisasi kemanusiaan lainnya.
Mereka bergandengan tangan bersama masyarakat sipil, menyerukan dukungan penuh bagi perjuangan rakyat Palestina.
Massa mengecam keras tindakan militer Israel yang membajak kapal dan menahan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara.
"Kita mengawal Global Sumud Flotilla yang pada sehari dua hari yang lalu itu mengalami pembajakan dan para aktivisnya diculik, dan sampai hari ini masih diculik," ujar Koordinator Aksi GPCI, Ridwan, di lokasi.
Ridwan berharap tragedi ini menjadi momentum bagi masyarakat dunia untuk membuka mata terhadap kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel.
"Kita tentu berharap peristiwa ini menggerakkan masyarakat dunia untuk lebih melihat kejahatan Zionis Israel dan menghentikan kejahatan Zionis Israel yang terjadi di Gaza," ungkapnya.
Menurutnya, aksi pembajakan tersebut hanyalah satu dari sekian banyak bukti brutalitas yang dilakukan terhadap warga dan aktivis yang membela Palestina.
Ridwan juga menyoroti blokade Israel di Gaza yang telah berlangsung bertahun-tahun. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan ilegal yang harus segera dihentikan oleh komunitas internasional.
"Indonesia sebagai negara yang ingin menciptakan perdamaian di atas dunia ini, tentu harus menembus blokade ilegal ini juga, harus punya peran," tambahnya.
Diketahui, ratusan aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ditangkap oleh militer Israel saat berlayar menuju Gaza. Mereka merupakan bagian dari armada beranggotakan 500 orang dari 44 negara.
Beberapa negara yang ikut serta dalam misi tersebut di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Belgia, Spanyol, Malaysia, Turki, Kolombia dan lainnya. Penangkapan itu kini menuai kecaman global dan dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
