Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Agustus 2025 | 21.17 WIB

Minilemon Universe: Dari Koleksi Topeng ke Layar Animasi, Upaya Reno Halsamer Tanamkan Toleransi Sejak Dini

 

Poster film animasi Minilemon Universe. (Istimewa)

JawaPos.com – Di tangan Reno Halsamer, topeng-topeng kuno Nusantara tak hanya menjadi artefak budaya, tapi juga jendela masa depan. Lewat Minilemon Universe, topeng-topeng itu dihidupkan dalam bentuk karakter animasi anak—penuh warna, pesan moral, dan semangat kebhinekaan.

“Topeng itu bukan sekadar benda. Ia menyimpan wajah-wajah peradaban,” ujar Reno di Surabaya, Senin (4/8).

Mungkin sebagian belum tahu, Reno bukan sekadar animator atau penggagas IP (intellectual property).

Ia adalah budayawan, aktivis pluralis, dan seorang kolektor yang telah 30 tahun keliling Indonesia mengumpulkan topeng-topeng dari pelosok negeri. Topeng-topeng itu telah ia rawat selama puluhan tahun.

Kini, enam wajah dari koleksinya menjelma menjadi karakter utama Minilemon—animasi yang tak hanya menghibur, tapi juga sarat pesan.

Ada Wayan dari Bali, Ucup dari Sunda, Togar dari Batak, Slamet dari Jawa Muslim, Minggus dari Papua, dan Memey dari Tionghoa.

Mereka semua adalah sahabat sepermainan, mewakili ragam budaya yang tumbuh bersama dalam satu semesta cerita.

Di Balik Karakter, Ada Proses Panjang

Reno tak main-main saat membangun dunia Minilemon. Ia butuh waktu bertahun-tahun—melewati kegagalan, riset panjang, hingga sempat berhenti karena tim kreatifnya bubar.

Namun segalanya berubah pada 2019, saat ia bertemu dengan ilustrator Indonesia yang kala itu tengah menggarap proyek di Amerika.

Dalam waktu dua minggu, sang ilustrator berhasil mewujudkan seluruh konsep visual yang selama ini hanya ada di kepala Reno. “Waktu itu titik baliknya. Saya tahu, ini jalan yang harus saya tempuh,” ucapnya.

Tapi desain visual bukan segalanya. Reno sadar, kekuatan Minilemon bukan hanya pada gambar bergerak, melainkan pada isi cerita.

Maka ia menggandeng psikolog, akademisi, hingga para santri untuk membantu merancang naskah yang mengajarkan karakter positif: mencium tangan orang tua, menyapa tetangga, membantu teman tanpa pamrih.

“Anak-anak itu belajar dari apa yang mereka lihat. Visual itu menempel kuat. Maka kami harus hati-hati sekali,” tutur Reno.

Rumusnya, kata dia, sederhana tapi ketat: 40 persen narasi, 40 persen teknologi, 20 persen desain. Setiap gerakan dan dialog diuji, disaring, dan diuji ulang. Bahkan untuk membuat satu kostum karakter, ia melakukan riset selama tujuh bulan.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore