Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 17 Desember 2023 | 19.15 WIB

Curhat Hayao Mizayaki di The Boy and the Heron: Suguhkan Kehilangan, Keindahan, Sekaligus Cinta

The Boy and the Heron - Image

The Boy and the Heron

Mahito kehilangan ibunya di puncak perang Pasifik di Jepang. Dalam kondisi berduka, Mahito pindah ke pedesaan bersama ayah dan Natsuko, istri barunya. Di sana, dia menemui burung cangak abu-abu aneh. Ia terus meneror Mahito dengan kabar, ibunya mungkin masih hidup di sebuah tempat.

---

SETELAH kebakaran hebat di Tokyo yang menewaskan ibunya, Mahito (Soma Santoki) dan ayahnya Shoichi (Takuya Kimura) memutuskan pindah ke sebuah desa dekat danau. Di sana, mereka tinggal di rumah Natsuko (Yoshino Kimura), istri baru Shoichi yang masih merupakan adik ibu Mahito. Mereka juga ditemani beberapa pelayan sepuh.

Walau tragedinya cukup lama berlalu, Mahito belum menerima kematian ibunya. Dia juga merasa asing dengan perhatian Natsuko, yang kini mengandung calon adiknya. Mahito pun sulit menyesuaikan diri di tempat baru. Dia dirundung oleh teman sekelasnya. Hingga di suatu siang, dia melukai kepalanya sendiri dengan batu.

Shoichi langsung memintanya beristirahat di rumah. Di tengah waktunya yang lengang, muncul burung cangak abu-abu (Masaki Suda) yang mengusiknya. Kehadiran burung itu menjadi awal mula banyak hal aneh. Natsuko, yang juga tengah sakit karena kehamilan, tiba-tiba hilang dari kamar. Mahito ikut dengan Kiriko (Ko Shibasaki), pelayan sepuh yang berusaha mencari Natsuko.

Di tengah pencarian itu, burung cangak abu-abu kembali muncul. Mahito yang tak sabar langsung memanah paruh si burung. Luka lubang tersebut membuat si burung berubah jadi manusia burung aneh yang tak bisa terbang. Mahito, burung cangak, dan Kiriko perlahan masuk ke tempat yang asing.

Kiriko berubah menjadi lebih muda serta memiliki kekuatan magis. Di dunia baru itu, Mahito bertemu dengan Himi (Aimyon), remaja sebayanya yang berkali-kali menyelamatkannya. Himi pulalah yang menunjukkan ’’portal” untuk kembali ke desa Mahito. Namun, situasi berubah menjadi bahaya saat mereka diserang pasukan parkit.

The Boy and the Heron masih mempertahankan vibe khas Studio Ghibli, namun dengan sentuhan yang berbeda. Film itu seakan menghidupkan lagi sisi ’’keras” Ghibli yang dimunculkan di Princess Mononoke. Dalam film, sutradara Hayao Miyazaki menghadirkan Mahito yang apatis, berbeda dengan tokoh utama rilisan sebelumnya yang cenderung digambarkan polos dan penuh semangat muda.

Film tersebut punya cerita semiotobiografi. Karakter Mahito memiliki latar belakang yang mirip dengan sang sineas: sama-sama penyintas perang dan kehilangan ibu di usia belia. Cerita itu juga dipadukan dengan alur dan pesan yang serupa dengan How Do You Live?, buku anak-anak karya Genzaburo Hoshino yang lantas menjadi judul film dalam versi Jepangnya.

Guillermo del Toro, sineas yang juga pengagum dan sahabat Miyazaki, menyatakan bahwa The Boy and the Heron merangkum cerita yang kontemplatif. ’’Dengan ceritanya, kalian akan disuguhi sisi manis dan asam hidup; kehilangan, keindahan, sekaligus cinta di waktu bersamaan dalam film yang begitu sederhana,” ujarnya. Del Toro merasa, kemampuan Miyazaki menyampaikan cerita getir tapi dengan pesan ’’cerah” belum ada tandingannya.

Vice President Ghibli Studio Junichi Nishioka mengungkapkan, di The Boy and the Heron, Miyazaki seakan mencurahkan ceritanya kepada penonton. ’’Film ini sangat personal dan menunjukkan bagaimana dia hidup, bagaimana dia seharusnya hidup, lalu ditutup dengan pertanyaan kepada audiens: bagaimana kalian menjalani hidup?” ungkapnya. (fam/c6/ayi)

TRIVIA

  • Menurut produser Toshio Suzuki, The Boy and the Heron adalah film animasi termahal Studio Ghibli. Bujetnya diperkirakan lebih dari JPY 6,23 miliar (Rp 678,6 miliar).
  • Dibandingkan film Studio Ghibli lainnya, penayangan The Boy and the Heron tidak disertai dengan promosi. Menurut tim Ghibli, hal itu merupakan ide Miyazaki, yang ingin calon penontonnya merasakan antusiasme masa lalu ketika datang ke bioskop tanpa tahu apa pun yang akan mereka ’’hadapi”.
  • Kenshi Yonezu, musisi yang jadi pengisi soundtrack, mengaku sempat kebingungan dan merasa nyaris mampus ketika Hayao
  • Miyazaki memintanya menulis lagu secara pribadi.
  • Suda Masaki menyatakan, Miyazaki meminta maaf karena memberinya peran aneh. Masaki menilai, untuk memerankan burung cangak, dia mengubah tone suara dan dialek.
  • The Boy and the Heron memiliki versi bahasa Inggris yang suaranya diisi Luca Padovan (Mahito), Robert Pattinson (burung cangak abu-abu), Gemma Chan (Natsuko), Karen Fukuhara (Himi), Christian Bale (Shoichi Maki), Dave Bautista (Raja Parkit), dan Mark Hamill (kakek buyut).

The Boy And the Heron

Durasi: 124 menit

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore