alexametrics

Dorce

Oleh: OKKY MADASARI
20 Februari 2022, 10:19:43 WIB

Aku memang berbeda. Sejak umur 7 tahun, aku merasa ada sesuatu yang terpenjara dalam tubuhku. Sesuatu yang ingin segera dibebaskan.

Dorce Gamalama, 2005

DORCE kini telah bebas. Kepergiannya telah membebaskan dirinya dari segala sakit yang dideritanya beberapa tahun terakhir, kesulitan ekonomi karena tak lagi bisa bekerja sementara pengobatan tetap membutuhkan biaya, kerinduan untuk berkarya, hingga pertanyaan: kalau mati akan dimakamkan sebagai perempuan atau laki-laki.

Dorce yang bernama lahir Dedi Yuliardi telah dimakamkan sebagai laki-laki. Keputusan yang dibuat anak angkatnya karena, konon, Dorce sudah menyerahkan pada mereka –pada yang hidup– untuk dimakamkan sebagai apa. Padahal, dalam sebuah tayangan YouTube, Dorce sempat menyampaikan keinginan untuk dimakamkan sebagai perempuan. Sebuah keinginan sederhana, tapi ternyata bukan hal sederhana di Indonesia. Sesaat setelah tayangan YouTube itu beredar, berbagai komentar berdatangan. Ulama, kiai, hingga pesohor memberi pendapat bagaimana semestinya Dorce dimakamkan.

Sebagaimana seksualitas, perlakuan setelah mati bukanlah sebuah pilihan personal dalam masyarakat kita. Tubuh kita tak pernah menjadi milik kita. Ia adalah milik dari aturan, tatanan, adat, dan kebiasaan yang hidup di sekitar kita. Dan puncak dari ketidakkuasaan kita atas tubuh kita terlihat saat kita mati dan kita tak bisa memilih mau dimakamkan sebagai apa dan dengan cara apa.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: