
ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah.
JawaPos.com – Jalan Gajah Mada memiliki sejarah yang kuat bagi Sidoarjo. Jalan tersebut tidak hanya menjadi wilayah permukiman etnis Tionghoa, tetapi juga pusat perdagangan. Sejarah itu sejatinya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata kota.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Sidoarjo Djoko Supriyadi menyatakan, Jalan Gajah Mada telah ada sejak berdirinya Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, kawasan tersebut merupakan kota tua di Kota Delta. ”Nilai sejarahnya sangat tinggi,” ucapnya.
Sebagai daerah yang tumbuh sejak lama, lanjut Djoko, saat ini Jalan Gajah Mada juga menjadi pusat perekonomian. Karena itu, potensi wisata di kawasan tersebut sangat terbuka dengan berbagai destinasi. Mulai destinasi belanja hingga wisata religi. Sebab, di tengah-tengah Jalan Gajah Mada terdapat masjid yang cukup tua. Namanya Masjid Jamik Al Abror yang berdiri sejak 1678. ”Masjid ini juga memiliki sejarah yang kuat dan menjadi bukti bahwa Jalan Gajah Mada salah satu kota tua di Sidoarjo,” ujarnya.
Saat ini masjid tersebut masih terawat dan berfungsi dengan baik. Pengunjungnya pun bukan hanya masyarakat lokal, tetapi juga luar kota. Selain itu, corak beberapa bangunan tua yang dulu menjadi permukiman dan pusat perdagangan warga etnis Tionghoa masih sangat kental. ”Hal itu sangat menarik jika memang dipertahankan. Dulu memang menjadi kawasan pecinan,” ucapnya.
Djoko menambahkan, produk-produk lokal di kawasan Gajah Mada juga berkembang. Salah satunya Sentra Batik Jetis. Hal tersebut sejatinya bisa dijadikan destinasi produk lokal. Untuk kuliner, lanjut dia, kawasan itu juga tidak kalah dengan wilayah lain. Gajah Mada memiliki keanekaragaman kuliner lokal. ”Setiap malam kan ada PKL yang tersentral,” katanya.
Apalagi, berbagai jenis aktivitas masyarakat selama 24 jam terlihat di kawasan tersebut. Dengan begitu, kawasan Gajah Mada bisa dijadikan destinasi wisata dengan berbagai keunggulan. Menurut Djoko, Gajah Mada bisa dikemas lebih baik. Dimulai dengan penataan PKL hingga lahan parkirnya.
Selain itu, Djoko berharap para pemilik bangunan tua mempertahankan arsitektur gedung. Sebab, bangunan klasik memiliki nilai sejarah yang tinggi. ”Seperti pemkab yang telah membangun Masjid Al Abror sebagai salah satu tetenger tumbuhnya masyarakat Sidoarjo,” tuturnya. (ayu/c9/dio/sep/JPG)

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
