Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 11.57 WIB

Pernah Jadi Pusat Pecinan, Pertahankan Bangunan Tua di Jalan Gajah Mada

ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah. - Image

ARTISTIK: Tampilan gerbang Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo yang indah.


JawaPos.com – Jalan Gajah Mada memiliki sejarah yang kuat bagi Sidoarjo. Jalan tersebut tidak hanya menjadi wilayah permukiman etnis Tionghoa, tetapi juga pusat perdagangan. Sejarah itu sejatinya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata kota.



Sekretaris Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Sidoarjo Djoko Supriyadi menyatakan, Jalan Gajah Mada telah ada sejak berdirinya Kabupaten Sidoarjo. Karena itu, kawasan tersebut merupakan kota tua di Kota Delta. ”Nilai sejarahnya sangat tinggi,” ucapnya.



Sebagai daerah yang tumbuh sejak lama, lanjut Djoko, saat ini Jalan Gajah Mada juga menjadi pusat perekonomian. Karena itu, potensi wisata di kawasan tersebut sangat terbuka dengan berbagai destinasi. Mulai destinasi belanja hingga wisata religi. Sebab, di tengah-tengah Jalan Gajah Mada terdapat masjid yang cukup tua. Namanya Masjid Jamik Al Abror yang berdiri sejak 1678. ”Masjid ini juga memiliki sejarah yang kuat dan menjadi bukti bahwa Jalan Gajah Mada salah satu kota tua di Sidoarjo,” ujarnya.



Saat ini masjid tersebut masih terawat dan berfungsi dengan baik. Pengunjungnya pun bukan hanya masyarakat lokal, tetapi juga luar kota. Selain itu, corak beberapa bangunan tua yang dulu menjadi permukiman dan pusat perdagangan warga etnis Tionghoa masih sangat kental. ”Hal itu sangat menarik jika memang dipertahankan. Dulu memang menjadi kawasan pecinan,” ucapnya.



Djoko menambahkan, produk-produk lokal di kawasan Gajah Mada juga berkembang. Salah satunya Sentra Batik Jetis. Hal tersebut sejatinya bisa dijadikan destinasi produk lokal. Untuk kuliner, lanjut dia, kawasan itu juga tidak kalah dengan wilayah lain. Gajah Mada memiliki keanekaragaman kuliner lokal. ”Setiap malam kan ada PKL yang tersentral,” katanya.



Apalagi, berbagai jenis aktivitas masyarakat selama 24 jam terlihat di kawasan tersebut. Dengan begitu, kawasan Gajah Mada bisa dijadikan destinasi wisata dengan berbagai keunggulan. Menurut Djoko, Gajah Mada bisa dikemas lebih baik. Dimulai dengan penataan PKL hingga lahan parkirnya.



Selain itu, Djoko berharap para pemilik bangunan tua mempertahankan arsitektur gedung. Sebab, bangunan klasik memiliki nilai sejarah yang tinggi. ”Seperti pemkab yang telah membangun Masjid Al Abror sebagai salah satu tetenger tumbuhnya masyarakat Sidoarjo,” tuturnya. (ayu/c9/dio/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore