Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Februari 2025 | 23.09 WIB

8 Kebiasaan Orang yang Tidak Pernah Tertipu Berita Palsu dan Hoax di Internet Maupun Media Sosial, Kata Psikologi

Ilustrasi. (pexels.com) - Image

Ilustrasi. (pexels.com)

JawaPos.com - Menjelajahi lautan informasi di era digital saat ini bisa menjadi tugas yang berat. Terutama ketika airnya dikotori oleh berita palsu dan hoax. Triknya bukan menghindari laut, tetapi belajar berenang. Dan menurut psikologi digital, ada orang yang menguasainya. 

Mereka bukan orang yang gampang terprovokasi oleh headline bombastis atau langsung percaya setiap informasi yang beredar di media sosial. Sebaliknya, mereka punya kebiasaan yang membuat mereka tahan banting dari jebakan informasi menyesatkan. 

Dilansir dari laman News Reports pada Selasa (18/2) berikut daftarnya!

1. Menganalisis Secara Kritis

Orang yang tidak tertipu berita palsu di internet selalu menggunakan otak mereka sebelum percaya sesuatu. Mereka tahu bahwa tidak semua yang berkilau itu emas. Atau dalam konteks digital, tidak semua yang viral itu fakta.

Mereka mempertanyakan kredibilitas sumber, memeriksa apakah berita tersebut didukung oleh bukti yang valid, dan melihat apakah ada agenda tersembunyi di baliknya.

Dalam psikologi digital, ini disebut sebagai critical thinking, di mana seseorang tidak asal menerima informasi begitu saja. Jadi, kalau kamu menemukan berita yang terlalu mengejutkan atau emosional, ada baiknya berhenti sejenak dan bertanya: “Ini beneran fakta atau cuma clickbait?”

2. Pemeriksaan Ulang

Albert Einstein pernah berkata, “Kepercayaan buta pada otoritas adalah musuh terbesar kebenaran.” Dan orang-orang yang tidak mudah tertipu hoax paham betul hal ini. Mereka tidak asal percaya meskipun berita itu datang dari tokoh terkenal, akun dengan centang biru, atau bahkan teman sendiri.

Mereka punya kebiasaan untuk memverifikasi informasi dari beberapa sumber sebelum menyebarkannya. Ini adalah kebiasaan kecil, tapi berdampak besar dalam mengurangi penyebaran berita palsu di media sosial.

3. Mengakui Bias

Jujur saja, kita semua punya bias. Sering kali, kita lebih mudah percaya berita yang mendukung sudut pandang kita. Misalnya, kalau kita sudah tidak suka dengan seorang figur publik, berita negatif tentang mereka langsung terasa masuk akal.

Tapi orang yang tidak tertipu berita palsu di internet sadar akan hal ini. Mereka menyadari bahwa bias bisa memengaruhi cara mereka menyerap informasi, dan mereka berusaha untuk tetap objektif.

Kesadaran ini membantu mereka menghindari jebakan berita yang hanya ingin menguatkan kepercayaan yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kebenaran sebenarnya.

4. Mencari Perspektif Lainnya

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore