Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Desember 2024 | 20.27 WIB

Orang yang Punya Segalanya Tapi Terlihat Tidak Bahagia, Biasanya Memiliki 5 Kebiasaan Ini Tanpa Ia Disadari

Ilustrasi orang yang punya segalanya tapi tidak bahagia.(Unsplash.com/MaxHarlynking) - Image

Ilustrasi orang yang punya segalanya tapi tidak bahagia.(Unsplash.com/MaxHarlynking)

JawaPos.com - Sebagian besar orang selalu berkata bahwa kebahagiaan itu akan datang karena punya segalanya di dunia ini, mulai dari harta, kedudukan, kesehatan, kecantikan atau ketampanan, dan keluarga yang utuh.

Tapi semua itu ternyata semu, terkadang mereka yang sudah punya segalanya juga terlihat tidak bahagia, suka mengeluh, dan akhirnya jatuh sakit akibat pikirannya sendiri.

Melansir dari laman Baseline Mag pada (09/12), orang yang punya segalanya tapi terlihat tidak bahagia, biasanya memiliki 5 kebiasaan ini tanpa ia sadari.

1. Selalu membandingkan diri dengan orang lain

Hidup bukanlah sebuah kompetisi, tapi banyak dari kita yang memperlakukannya sebagai sebuah kompetisi. Orang yang punya segalanya dalam hidup ini sering terjebak dalam membandingkan pencapaian, harta benda, atau bahkan sifat pribadi mereka dengan orang lain.

Masalahnya di sini adalah, akan selalu ada seseorang yang tampaknya mempunyai lebih banyak atau lebih baik. Perbandingan terus-menerus ini adalah kebiasaan beracun yang hanya memicu ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan.

2. Mengabaikan momen saat ini

Meskipun memiliki karier yang sukses, keluarga yang penuh kasih sayang, dan kesehatan yang baik, mereka terus-menerus merasakan ketidakpuasan. Rasanya seperti sedang berlari di atas roda dan selalu bergerak tetapi tidak pernah kemana-mana.

Seperti yang diungkapkan dengan baik oleh Thich Nhat Hanh, “Momen saat ini dipenuhi dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Jika kamu penuh perhatian, akan melihatnya.”

3. Mengabaikan hubungan pribadi

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, tetapi sering kali kita sepertinya ingin menyangkal hal itu. Kita sering merayakan kemandirian, meskipun itu baik tapi jika dilakukan secara berlebihan akan memicu rasa tidak bahagia.

Penelitian telah mendukung hal ini berkali-kali. Salah satu contoh yang paling menarik adalah Studi Harvard tentang Perkembangan Orang Dewasa, penelitian tersebut menemukan bahwa hubungan yang kuat dan bermakna adalah satu-satunya prediktor terbaik bagi kebahagiaan dan kesejahteraan jangka panjang.

Sebenarnya, membina hubungan kita bukanlah suatu kemewahan, melainkan suatu keharusan. Melalui hubungan inilah kita menemukan rasa memiliki, dukungan, dan kegembiraan.

4. Mengabaikan kesehatan pribadi

Pepatah lama mengatakan, “Kesehatan adalah kekayaan,” mungkin terdengar klise tapi bukan berarti tidak benar. Kesuksesan materi sebesar apapun tidak dapat mengimbangi kesehatan yang buruk.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore