
Ilustrasi orang yang stabil finansial di usia 30-an dan 40-an. (Freepik)
JawaPos.com – Kestabilan finansial di usia 30-an atau 40-an sering dianggap sebagai pencapaian penting yang mencerminkan kedewasaan dan perencanaan yang matang.
Menurut Psikologi, orang yang berhasil mencapai titik ini ternyata memiliki beberapa kebiasaan yang konsisten dilakukan sejak dini.
Mungkin kamu bertanya-tanya, apa saja kebiasaan yang membedakan mereka yang sukses secara finansial dari yang lainnya? Apalagi di usia yang masih 30-an dan 40-an.
Dilansir dari Hack Spirit pada Selasa (19/11), diterangkan bahwa terdapat tujuh kebiasaan orang yang telah mencapai kestabilan finansial di usia 30-an dan 40-an menurut Psikologi. Mereka memiliki rutinitas yang menunjang kesuksesannya.
Dalam menata keuangan, pencatatan pengeluaran seringkali diabaikan oleh banyak orang karena dianggap membosankan dan merepotkan. Namun sejatinya, ini adalah langkah paling mendasar yang harus dilakukan jika ingin mencapai kemapanan ekonomi.
Cara sederhana yang bisa diterapkan adalah dengan menghitung pendapatan dikurangi pengeluaran wajib, termasuk tabungan dan langganan berulang. Untuk mengetahui sisa uang yang bisa digunakan dalam sebulan.
Angka tersebut kemudian bisa ditransfer ke rekening terpisah yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Pemantauan berkala terhadap rekening ini akan membantu memastikan pengeluaran tetap terkendali sesuai anggaran.
Dr. Marty Nemko, seorang pembimbing kehidupan dengan gelar di bidang edukasi mental, menekankan bahwa euforia saat membelanjakan uang hanyalah sementara.
Penting untuk mengenali apakah dorongan berbelanja muncul karena kesedihan, kesepian, atau pengalihan, ataukah memang karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Strategi yang efektif adalah dengan menunda pembelian selama 24 jam. Jika setelah periode tersebut keinginan membeli masih ada dan terdapat alasan logis bagaimana barang tersebut akan meningkatkan kualitas hidup, barulah pembelian bisa dilakukan.
Para pakar menyatakan bahwa materi memang bisa mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai batas tertentu.
Setelah mencapai tingkat kenyamanan yang tinggi, bukan lagi uang yang meningkatkan kepuasan hidup, melainkan status sosial dibandingkan dengan orang-orang di sekitar. Ini menjelaskan mengapa banyak orang tidak menjadi lebih kaya meskipun penghasilannya meningkat.
Ketika pendapatan bertambah, pengeluaran pun melambung karena mulai berbelanja di pasar swalayan premium, membeli mobil baru, liburan lebih sering, mengenakan perhiasan, atau menggeluti hobi mahal yang akhirnya bisa terjangkau.
Pembelajaran berharga dari buku Rich Dad, Poor Dad mengungkapkan bahwa individu yang semakin mapan secara ekonomi seiring waktu adalah mereka yang berinvestasi pada aset, bukan kewajiban. Aset adalah sesuatu yang nilainya bertambah seiring waktu, sementara kewajiban nilainya menurun.
Dalam konteks kekinian, rumah bisa menjadi aset (jika biaya perawatannya terjangkau atau bisa disewakan). Saham yang dipilih dengan cermat juga termasuk aset. Sebaliknya, mobil adalah kewajiban karena nilainya terus menyusut seiring penggunaan.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
