Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 November 2024 | 22.44 WIB

Intip 7 Kebiasaan Orang yang Mencapai Kestabilan Finansial di Usia 30-an dan 40-an Menurut Psikologi, Apa Saja?  

Ilustrasi orang yang stabil finansial di usia 30-an dan 40-an. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang yang stabil finansial di usia 30-an dan 40-an. (Freepik)

JawaPos.com – Kestabilan finansial di usia 30-an atau 40-an sering dianggap sebagai pencapaian penting yang mencerminkan kedewasaan dan perencanaan yang matang.

Menurut Psikologi, orang yang berhasil mencapai titik ini ternyata memiliki beberapa kebiasaan yang konsisten dilakukan sejak dini.

Mungkin kamu bertanya-tanya, apa saja kebiasaan yang membedakan mereka yang sukses secara finansial dari yang lainnya? Apalagi di usia yang masih 30-an dan 40-an.

Dilansir dari Hack Spirit pada  Selasa (19/11), diterangkan bahwa terdapat tujuh kebiasaan orang yang telah mencapai kestabilan finansial di usia 30-an dan 40-an menurut Psikologi. Mereka memiliki rutinitas yang menunjang kesuksesannya.

  1. Monitor setiap rupiah yang terpakai

Dalam menata keuangan, pencatatan pengeluaran seringkali diabaikan oleh banyak orang karena dianggap membosankan dan merepotkan. Namun sejatinya, ini adalah langkah paling mendasar yang harus dilakukan jika ingin mencapai kemapanan ekonomi.

Cara sederhana yang bisa diterapkan adalah dengan menghitung pendapatan dikurangi pengeluaran wajib, termasuk tabungan dan langganan berulang. Untuk mengetahui sisa uang yang bisa digunakan dalam sebulan.

Angka tersebut kemudian bisa ditransfer ke rekening terpisah yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Pemantauan berkala terhadap rekening ini akan membantu memastikan pengeluaran tetap terkendali sesuai anggaran.

  1. Tunda keinginan berbelanja

Dr. Marty Nemko, seorang pembimbing kehidupan dengan gelar di bidang edukasi mental, menekankan bahwa euforia saat membelanjakan uang hanyalah sementara.

Penting untuk mengenali apakah dorongan berbelanja muncul karena kesedihan, kesepian, atau pengalihan, ataukah memang karena barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Strategi yang efektif adalah dengan menunda pembelian selama 24 jam. Jika setelah periode tersebut keinginan membeli masih ada dan terdapat alasan logis bagaimana barang tersebut akan meningkatkan kualitas hidup, barulah pembelian bisa dilakukan.

  1. Hidup secara wajar

Para pakar menyatakan bahwa materi memang bisa mendatangkan kebahagiaan, namun hanya sampai batas tertentu.

Setelah mencapai tingkat kenyamanan yang tinggi, bukan lagi uang yang meningkatkan kepuasan hidup, melainkan status sosial dibandingkan dengan orang-orang di sekitar. Ini menjelaskan mengapa banyak orang tidak menjadi lebih kaya meskipun penghasilannya meningkat.

Ketika pendapatan bertambah, pengeluaran pun melambung karena mulai berbelanja di pasar swalayan premium, membeli mobil baru, liburan lebih sering, mengenakan perhiasan, atau menggeluti hobi mahal yang akhirnya bisa terjangkau.

  1. Cermati investasi yang menguntungkan

Pembelajaran berharga dari buku Rich Dad, Poor Dad mengungkapkan bahwa individu yang semakin mapan secara ekonomi seiring waktu adalah mereka yang berinvestasi pada aset, bukan kewajiban. Aset adalah sesuatu yang nilainya bertambah seiring waktu, sementara kewajiban nilainya menurun.

Dalam konteks kekinian, rumah bisa menjadi aset (jika biaya perawatannya terjangkau atau bisa disewakan). Saham yang dipilih dengan cermat juga termasuk aset. Sebaliknya, mobil adalah kewajiban karena nilainya terus menyusut seiring penggunaan.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore