Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Februari 2022 | 14.48 WIB

Menengahi dan Hindari Membandingkan Ketika si Kakak dan Adik Bersaing

kompromi: Persaingan antarsaudara itu wajar adanya. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang kooperatif. Hindari membandingkan anak atau memilih salah satu anak. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model M. Kenji Orlando dan M. Gavino Ishizaki - DITE SURENDRA/ - Image

kompromi: Persaingan antarsaudara itu wajar adanya. Orang tua perlu menciptakan lingkungan yang kooperatif. Hindari membandingkan anak atau memilih salah satu anak. (Foto Ilustrasi Diperagakan Model M. Kenji Orlando dan M. Gavino Ishizaki - DITE SURENDRA/

Kalau sudah duduk bareng di satu momen yang sama atau tidak, Sean, 4, dan Noah, 1, tidak pernah bisa diam deh. Ada saja kelakuan lucu dan menggemaskan. Termasuk ketika mereka mengalami sibling rivalry.

---

MARIANA Susanto, ibu dari Sean dan Noah, menuturkan bahwa hal sepele bisa mengakibatkan sibling rivalry di antara kedua buah hatinya. Hehe. Misalnya, siapa yang cepat menghabiskan minum susu di botol masing-masing. Dan, lanjut perempuan kelahiran Kediri tersebut, yang paling parah kalau ada mainan baru di rumah. ”Hampir setiap hari sibling rivalry,” katanya.

Nah, pengin tahu sikap Mom Mariana ketika anak-anak mengalami sibling rivalry? Mariana mengungkapkan bahwa dirinya akan berusaha menengahi. Terutama memberikan pengertian kepada si kakak (Sean) yang sudah lebih bisa diajak ngomong daripada adiknya.

Ibu yang demen menyantap berbagai makanan itu menyatakan, kalau bisa, orang tua hindari membanding-bandingkan anak. ”Kalau khilaf, kita bilang, ’Duh, adik pinter mau makan habis banyak nih’,” ujarnya.

Mariana menilai, sibling rivalry tidak selalu berdampak buruk. Sebab, mommy atau daddy bisa sembari melatih rasa kompetisi anak sejak dini, lho. Ya, tentu dalam hal positif agar anak bisa bersaing secara sehat.

Perempuan yang berulang tahun setiap 7 Maret itu menggangap, ada beberapa kondisi anak ingin terlihat menang atas saudaranya. Alasannya mungkin ingin lebih dipuji atau diperhatikan. ”Anakku yang sibling rivalry ini anak pertama ke adiknya,” terangnya.

Sama dengan Mariana, Tika Akmar berusaha menengahi ketika terjadi sibling rivalry di antara anak pertama dan kedua. Biasanya, lanjut dia, si kakak yang memulai dulu. ”Hal-hal sepele seperti nilai sekolah begitu. Si kakak dapat A, eh si adik cuman B+,” ungkapnya.

Tak jarang, Tika dibuat pusing oleh tingkah Ara, 9, dan Ria, 7. Selisih usia keduanya hanya dua tahun. ”Bisa kebayang kalau mereka lagi sahut-sahutan ngomong. Tapi, mereka nggak sampai pukul-pukulan, cuman lebih nggak bolo-boloan, ya,” jelasnya.

Wah, nggak bolo-boloannya berapa lama, mom? Tika tertawa kecil. Dia menjelaskan, meski terjadi sibling rivalry, keduanya juga sering akur. ”Paling lama nggak bolo-boloan 5 menit. Si kakak selalu ngomporin adiknya, anak ketigaku yang berusia 5 tahun,” tandasnya.

Wajar kok, tapi Tetap Perlu Diawasi


SIBLING rivalry (persaingan antarsaudara) jangan langsung dianggap yang serius, parents. Namun, kalau persaingannya mengarah ke yang tidak sehat, orang tua juga perlu ngerem.

Laurencia Ika Wahyuningrum, konselor anak dan remaja, menuturkan bahwa sebaiknya sibling rivalry dicegah. Ika menjelaskan bahwa sibling rivalry (SR) merupakan kondisi seorang anak merasa tersaingi dan ingin berkompetisi dengan saudaranya. Rasa tersaingi atau berkompetisi biasanya membuat anak menjadi iri, cemburu, dan sering melakukan hal-hal yang menarik perhatian parents.

Nah, biasanya apa yang mengakibatkan SR ini muncul, ya? Menurut Ika, ada beberapa penyebab SR di tengah hubungan kakak dan adik. Pertama, perubahan besar dalam keluarga. Misalnya, pindahan, kematian anggota keluarga, hingga kelahiran. Anak pun mengalami kecemasan dan merasa tidak mendapatkan perhatian penuh dari orang tua.

Penyebab kedua, ada beberapa anak yang memang memiliki temperamen dan lama beradaptasi dengan situasi baru. Anak mudah marah dan sensitif. Lalu, penyebab ketiga berkaitan dengan role model.

Ika mengungkapkan, salah satu role model yang dilihat anak adalah cara orang tua menyelesaikan masalah di rumah. Ketika parents tidak bisa menyelesaikan masalah di rumah dengan strategi-strategi yang sehat, anak akan meniru cara tersebut. ”Misalnya, saat papa dan mama bertengkar dengan saling berteriak dan membanting pintu. Itu bakal dilihat anak,” terangnya.

SR tidak bisa di-treatment cuek bebek oleh orang tua. Ada dampak jika parents membiarkan SR ini. Salah satunya, anak tidak akan belajar tentang cara menyelesaikan masalah atau konflik dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kata Ika, anak tidak belajar tentang cara berkompetisi yang baik.

Mom, berikut beberapa hal yang perlu dilakukan parents ketika anak mengalami sibling rivalry. Pertama, pastikan orang tua memahami bahwa yang terjadi adalah sibling rivalry. Ika menuturkan bahwa orang tua tetap tenang dan terkendali. Tidak perlu emosi. Ajarkan anak tentang cara menyalurkan emosi.

NAK, JANGAN BERTENGKAR

ADA beberapa tips buat parents supaya anak tidak bertengkar. Misalnya, berikut ini.

1. Buat peraturan. Tentu peraturan yang tidak membuat anak tertekan, ya. Namun, ada ketegasan dalam peraturan yang sudah dibuat. Kalau ada yang melanggar, ya jangan lupa dihukum. Hukumannya yang ringan saja, mom. Hehe.

2. Bukan pertunjukan, jangan lihat anak berantem. Tinggalkan anak-anak jika pertengkaran dinilai tidak membahayakan satu sama lain. Namun, jika pertengkaran sudah membahayakan, segera pisahkan mereka.

3. Buat agenda bersama yang bisa meningkatkan kerja sama antaranak. Misalnya, jika anak sesama perempuan, orang tua bisa ajak mereka masak bersama.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore