JawaPos.com - Dalam dinamika rumah tangga modern, tidak jarang seorang istri memiliki karier yang lebih sukses dibandingkan suaminya.
Namun, dalam beberapa kasus, hal ini dapat memicu perasaan terancam atau "terkebiri" pada pihak suami, baik secara sadar maupun tidak.
Fenomena ini bisa berakar pada berbagai faktor psikologis dan sosial, terutama pada pola pikir tradisional mengenai peran gender.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (18/2), terdapat beberapa sifat yang sering muncul pada pria yang merasa tersaingi oleh kesuksesan istrinya menurut psikologi:
Pria yang merasa terancam oleh keberhasilan pasangannya sering kali memiliki ego yang rapuh.
Mereka merasa harga diri mereka bergantung pada peran sebagai pencari nafkah utama.
Ketika istri memiliki penghasilan lebih besar atau prestasi lebih tinggi, pria dengan ego rapuh bisa merasa tersingkir atau tidak berdaya dalam hubungan.
Dalam teori psikologi, konsep self-esteem contingency menjelaskan bahwa harga diri seseorang bisa bergantung pada faktor eksternal, seperti status pekerjaan atau penghasilan.
Jika seorang pria menghubungkan harga dirinya dengan dominasi ekonomi dalam rumah tangga, ia akan lebih rentan merasa tidak aman ketika istri lebih sukses.
2. Sikap Defensif dan Kompetitif dengan Pasangan
Alih-alih mendukung, pria yang merasa terancam oleh kesuksesan istrinya cenderung menjadi defensif atau bahkan kompetitif.
Sikap ini bisa muncul dalam bentuk meremehkan pencapaian istri, menyindir, atau membandingkan dengan cara yang tidak sehat.
Dalam psikologi hubungan, ini bisa dikaitkan dengan insecure attachment style, di mana seseorang memiliki ketakutan mendalam akan kehilangan kendali dalam hubungan.
Alih-alih membangun komunikasi sehat, pria dengan pola pikir ini sering kali berusaha mempertahankan dominasi mereka melalui persaingan yang tidak perlu.
3. Cenderung Mengontrol atau Membatasi Pasangan
Ketakutan akan kehilangan peran tradisional dapat membuat pria lebih cenderung mengontrol pasangan, baik secara halus maupun terang-terangan.
Mereka mungkin mencoba membatasi lingkup sosial istri, mengkritik pilihan kariernya, atau bahkan memanipulasi situasi agar istri bergantung lebih banyak pada mereka.
Dalam psikologi, ini dapat dikaitkan dengan toxic masculinity, yaitu ekspektasi budaya terhadap pria untuk selalu kuat, dominan, dan lebih unggul dari perempuan.
Ketika mereka merasa gagal memenuhi ekspektasi ini, mereka bisa mencoba mengkompensasinya dengan cara yang kurang sehat.
4. Kurangnya Dukungan Emosional dan Empati
Sebagai pasangan, seharusnya pria menjadi pendukung utama bagi istrinya.
Namun, ketika rasa tidak aman menguasai, mereka cenderung menarik diri secara emosional atau bahkan menunjukkan sikap dingin terhadap keberhasilan istri.
Menurut teori emotional intelligence (kecerdasan emosional), individu yang kurang mampu mengelola emosinya sendiri dan memahami emosi orang lain cenderung memiliki hubungan yang lebih bermasalah.
Mereka merasa kesuksesan istri adalah ancaman, bukan sesuatu yang bisa dirayakan bersama.
5. Merasa "Kurang Jantan" atau "Terkebiri" dalam Hubungan
Banyak pria yang tumbuh dalam budaya patriarki mengasosiasikan maskulinitas dengan dominasi ekonomi dan kekuasaan dalam rumah tangga.
Ketika mereka tidak lagi menjadi pencari nafkah utama, mereka bisa merasa "kurang jantan" atau "terkebiri."
Menurut teori gender role conflict, pria yang mengalami konflik peran gender akan merasa tertekan ketika mereka tidak bisa memenuhi ekspektasi sosial tentang kejantanan.
Ini bisa memicu stres, depresi, bahkan agresi pasif dalam hubungan.
6. Menunjukkan Sikap Pasif-Agresif
Sikap pasif-agresif bisa muncul dalam bentuk sindiran halus, lupa melakukan tugas rumah tangga secara sengaja, atau bersikap tidak kooperatif dalam pengambilan keputusan keluarga.
Menurut psikologi, ini adalah bentuk coping mechanism untuk menangani perasaan tidak nyaman tanpa harus mengungkapkannya secara langsung.
Karena merasa tidak bisa menghadapi kesuksesan istri secara terbuka, mereka memilih untuk melampiaskan frustrasi dengan cara yang lebih terselubung.
Bagaimana Mengatasi Masalah Ini?
Jika seorang pria merasa terancam oleh kesuksesan karier istrinya, penting untuk menyadari bahwa ini bukan tentang siapa yang lebih unggul dalam hubungan, tetapi bagaimana pasangan bisa saling mendukung dan berkembang bersama.
Berikut beberapa langkah yang bisa membantu:
Membangun Harga Diri yang Sehat: Seorang pria perlu memahami bahwa nilai dirinya tidak hanya diukur dari penghasilan atau status pekerjaan, tetapi juga dari perannya sebagai pasangan yang suportif dan peduli.
Mengubah Pola Pikir tentang Peran Gender: Memahami bahwa kesuksesan istri bukanlah ancaman, tetapi sebuah prestasi yang bisa dirayakan bersama, akan membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat.
Komunikasi yang Jujur dan Terbuka: Jika ada ketidaknyamanan atau kecemburuan, sebaiknya diungkapkan secara terbuka kepada pasangan, bukan dengan sikap defensif atau kompetitif.
Rasa "terkebiri" akibat kesuksesan istri bukanlah sesuatu yang tak bisa diatasi.
Ini lebih merupakan refleksi dari ketidakamanan pribadi dan ekspektasi sosial yang membentuk cara pandang terhadap peran gender.
Dengan kesadaran diri, komunikasi yang baik, dan perubahan pola pikir, pria dapat belajar untuk mendukung pasangannya tanpa merasa terancam, menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan saling mendukung.