Ilustrasi belanja. (pexels.com)
JawaPos.com - Hierarki sosial sering kali menjadi cerminan perbedaan gaya hidup, pandangan, dan nilai-nilai. Dalam konteks ini, kebiasaan orang kelas menengah kerap menjadi sorotan, terutama oleh kalangan atas.
Meski kebiasaan ini sering diremehkan, banyak yang didasarkan pada kebutuhan praktis dan strategi bertahan hidup.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Minggu (5/1), mari kita bahas beberapa kebiasaan tersebut dan bagaimana psikologi dapat membantu memahami perbedaan pandangan ini.
Bagi kebanyakan orang kelas menengah, menabung adalah prioritas utama. Ada fokus besar pada pembelian besar berikutnya atau menciptakan cadangan untuk masa sulit. Ini tentu saja keputusan yang bijaksana secara finansial.
Namun, bagi orang kalangan atas yang lebih fokus pada investasi dan pengembangan kekayaan, kebiasaan ini sering kali dianggap kurang strategis.
Mereka memandang bahwa menanam modal adalah cara untuk mengamankan masa depan, sementara tabungan saja dianggap terlalu pasif.
Meski begitu, menabung adalah langkah dasar yang penting bagi banyak keluarga kelas menengah untuk tetap bertahan dan merasa aman.
Pilihlah kendaraan yang hemat bahan bakar, rumah yang cukup luas untuk keluarga, atau pakaian yang nyaman. Kebiasaan ini adalah ciri khas orang kelas menengah yang sering kali dipandang rendah oleh kalangan atas.
Bagi mereka, barang mewah bukan hanya soal kualitas, tetapi juga status. Namun, bagi kelas menengah, kenyamanan dan kepraktisan adalah nilai utama.
Psikologi menunjukkan bahwa ini adalah cara individu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan nyata, bukan hanya citra.
Orang kelas menengah sering mendefinisikan kesuksesan melalui pengakuan eksternal, seperti promosi kerja, rumah baru, atau keberhasilan anak-anak. Sebaliknya, orang kalangan atas cenderung mengukur kesuksesan berdasarkan kepuasan pribadi dan pencapaian internal.
Menurut teori hierarki kebutuhan Maslow, perbedaan ini muncul dari fokus pada kebutuhan yang berbeda. Kelas menengah mungkin masih berjuang untuk stabilitas, sementara kelas atas lebih mencari aktualisasi diri.
Hidup pas-pasan adalah kenyataan yang dihadapi banyak orang kelas menengah. Dengan pendapatan yang terbatas, mereka sering kali harus membuat pilihan sulit untuk bertahan.
Orang kalangan atas, yang memiliki akses lebih besar ke sumber daya finansial, mungkin sulit memahami perjuangan ini dan menganggapnya sebagai tanda kurangnya ambisi atau manajemen keuangan yang buruk.

Peringkat 12 Klub Terbesar yang Belum Pernah Memenangkan Liga Champions
Asisten YouTuber RA Diperiksa Kasus Whip Pink, Netizen Ramaikan Unggahan Reza Arap
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
6 Weton Bumi Kapetak Titisan Gatotkaca yang Ditakdirkan Kaya dan Sukses, Menurut Primbon Jawa
