Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 18 Desember 2024 | 17.15 WIB

8 Ciri Kepribadian Orang yang Berpura-pura Lebih Sibuk dari yang Sebenarnya Menurut Psikologi

Ilustrasi 8 ciri kepribadian orang-orang yang cenderung melebih-lebihkan kesibukan mereka./Pexels. - Image

Ilustrasi 8 ciri kepribadian orang-orang yang cenderung melebih-lebihkan kesibukan mereka./Pexels.

JawaPos.com - Beberapa orang tampaknya selalu sibuk, selalu melakukan banyak hal sekaligus, dan tidak pernah tanpa jadwal yang padat.

Mereka seringkali mengucapkan kalimat seperti, "Saya kewalahan," atau "Saya tidak punya waktu untuk apapun!" hingga kalimat tersebut terdengar seperti lambang kehormatan.

Psikolog berpendapat bahwa ada hal lain di balik perilaku ini selain apa yang tampak. Beberapa orang mengaku lebih sibuk daripada yang sebenarnya dan itu tidak selalu berarti jadwalnya yang padat.

Seringkali itu merupakan cerminan kepribadian mereka dan bagaimana mereka ingin dipersepsikan.

Dilansir dari Baseline Mag, terdapat 8 ciri kepribadian orang-orang yang cenderung melebih-lebihkan kesibukan mereka dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi cara mereka menampilkan diri.

1. Kebutuhan akan validasi

Psikologi memberitahu bahwa salah satu ciri utama orang yang berpura-pura lebih sibuk daripada keadaan yang sebenarnya adalah kebutuhan yang mendalam untuk validasi. Kebutuhan ini seringkali berasal dari kurangnya harga diri atau kepercayaan diri.

Orang-orang ini merasakan dorongan terus menerus untuk membuktikan harga diri mereka, dan tampil sibuk adalah salah satu cara yang mereka yakini dapat dicapai.

Ini seperti sebuah pertunjukkan di mana mereka memainkan peran seseorang yang selalu terikat atau dibutuhkan.

2. Takut waktu henti

Kita semua mungkin pernah mengalami di mana kita bebas dan tidak tahu harus berbuat apa. Bagi sebagian orang, hal ini dapat terasa tidak nyaman, bahkan menakutkan.

Ketakutan terhadap waktu henti merupakan sifat umum di antara orang yang pura-pura sibuk.

Dalam sebuah studi yang sekarang terkenal, 18 dari 42 peserta memilih untuk memberikan diri mereka sendiri setidaknya satu sengatan listrik ringan daripada duduk dan tidak melakukan apapun selama 15 menit.

Itu adalah mekanisme pertahanan psikologis, cara untuk menghindari introspeksi dan refleksi diri yang mungkin mereka anggap tidak nyaman atau menyedihkan.

3. Penundaan

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore