
Ilustrasi penyandang disabilitas berolahraga (Freepik)
JawaPos.com – Cedera atau disabilitas tidak harus menjadi penghalang untuk tetap aktif. Dengan pendekatan yang tepat, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh dan mental.
Olahraga adaptif mengacu pada aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan atau keterbatasan individu. Fokusnya adalah memberikan manfaat kesehatan tanpa memperburuk kondisi tubuh.
Melakukan aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan jantung, memperkuat otot, dan meningkatkan suasana hati. Hal ini juga dapat mempercepat pemulihan cedera serta meningkatkan kualitas hidup.
Berikut tujuh tips olahraga untuk penyandang disabilitas agar tetap aktif dan sehat secara aman serta menyenangkan dilansir dari laman Helpguide oleh JawaPos.com, Senin (2/12):
1. Jenis Latihan untuk Cedera Tubuh Bagian Atas
Saat mengalami cedera tubuh bagian atas, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan anggota tubuh bagian bawah. Berjalan atau menggunakan mesin elips dapat menjaga kebugaran kardiovaskular tanpa memberikan tekanan pada cedera.
Bagi yang memiliki akses ke kolam renang, berenang dengan alat bantu mengapung menjadi pilihan yang aman. Sepeda statis, baik tegak maupun rebahan, efektif meningkatkan detak jantung dan membakar kalori.
Dalam latihan kekuatan, alat seperti resistance band atau mesin beban dapat digunakan untuk melatih otot tubuh bagian bawah. Konsultasi dengan dokter atau terapis fisik penting untuk memastikan latihan dilakukan dengan aman sesuai kondisi cedera.
2. Latihan Isometrik
Latihan isometrik membantu mempertahankan kekuatan otot tanpa menggerakkan sendi. Teknik ini melibatkan tekanan konstan pada objek yang tidak bergerak, seperti mendorong dinding atau menggenggam benda diam.
Aktivitas ini cocok untuk mereka yang memiliki masalah pada sendi akibat cedera atau kondisi seperti radang sendi. Karena tidak ada perubahan panjang otot, risiko cedera lebih lanjut dapat diminimalkan.
Latihan ini sering direkomendasikan oleh terapis fisik sebagai bagian dari pemulihan atau perawatan jangka panjang. Dengan latihan yang teratur, otot tetap aktif dan fungsi tubuh dapat terjaga.
3. Stimulasi Otot Elektronik
Stimulasi otot elektronik menggunakan arus listrik rendah untuk mengkontraksi otot secara perlahan. Teknik ini dirancang untuk meningkatkan sirkulasi darah, mencegah atrofi otot, dan memperbaiki rentang gerak.
Elektroda ditempatkan di kulit untuk mengalirkan arus, sehingga otot berkontraksi tanpa gerakan aktif dari individu. Metode ini sering digunakan dalam rehabilitasi bagi mereka yang mengalami cedera atau imobilisasi jangka panjang.

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
