Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Desember 2024 | 04.21 WIB

7 Tips Olahraga untuk Penyandang Disabilitas agar Tetap Aktif dan Sehat secara Aman serta Menyenangkan

Ilustrasi penyandang disabilitas berolahraga (Freepik) - Image

Ilustrasi penyandang disabilitas berolahraga (Freepik)

JawaPos.com – Cedera atau disabilitas tidak harus menjadi penghalang untuk tetap aktif. Dengan pendekatan yang tepat, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh dan mental.

Olahraga adaptif mengacu pada aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kebutuhan atau keterbatasan individu. Fokusnya adalah memberikan manfaat kesehatan tanpa memperburuk kondisi tubuh.

Melakukan aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan jantung, memperkuat otot, dan meningkatkan suasana hati. Hal ini juga dapat mempercepat pemulihan cedera serta meningkatkan kualitas hidup.

Berikut tujuh tips olahraga untuk penyandang disabilitas agar tetap aktif dan sehat secara aman serta menyenangkan dilansir dari laman Helpguide oleh JawaPos.com, Senin (2/12):

1. Jenis Latihan untuk Cedera Tubuh Bagian Atas

Saat mengalami cedera tubuh bagian atas, aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan memanfaatkan anggota tubuh bagian bawah. Berjalan atau menggunakan mesin elips dapat menjaga kebugaran kardiovaskular tanpa memberikan tekanan pada cedera.

Bagi yang memiliki akses ke kolam renang, berenang dengan alat bantu mengapung menjadi pilihan yang aman. Sepeda statis, baik tegak maupun rebahan, efektif meningkatkan detak jantung dan membakar kalori.

Dalam latihan kekuatan, alat seperti resistance band atau mesin beban dapat digunakan untuk melatih otot tubuh bagian bawah. Konsultasi dengan dokter atau terapis fisik penting untuk memastikan latihan dilakukan dengan aman sesuai kondisi cedera.

2. Latihan Isometrik

Latihan isometrik membantu mempertahankan kekuatan otot tanpa menggerakkan sendi. Teknik ini melibatkan tekanan konstan pada objek yang tidak bergerak, seperti mendorong dinding atau menggenggam benda diam.

Aktivitas ini cocok untuk mereka yang memiliki masalah pada sendi akibat cedera atau kondisi seperti radang sendi. Karena tidak ada perubahan panjang otot, risiko cedera lebih lanjut dapat diminimalkan.

Latihan ini sering direkomendasikan oleh terapis fisik sebagai bagian dari pemulihan atau perawatan jangka panjang. Dengan latihan yang teratur, otot tetap aktif dan fungsi tubuh dapat terjaga.

3. Stimulasi Otot Elektronik

Stimulasi otot elektronik menggunakan arus listrik rendah untuk mengkontraksi otot secara perlahan. Teknik ini dirancang untuk meningkatkan sirkulasi darah, mencegah atrofi otot, dan memperbaiki rentang gerak.

Elektroda ditempatkan di kulit untuk mengalirkan arus, sehingga otot berkontraksi tanpa gerakan aktif dari individu. Metode ini sering digunakan dalam rehabilitasi bagi mereka yang mengalami cedera atau imobilisasi jangka panjang.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore