
Ilustrasi malam satu Suro yang memiliki aura mistis.
JawaPos.com – Bulan Suro, bulan pertama dalam kalender Jawa, menyimpan banyak misteri dan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun. Kepercayaan ini tertuang dalam Primbon Jawa, kitab warisan leluhur yang merangkum berbagai aspek kehidupan, termasuk ramalan dan petuah.
Suro adalah bulan yang diselimuti aura mistis dan keramat, sarat akan tradisi dan kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menurut Primbon Jawa, Suro dianggap sebagai bulan yang penuh energi spiritual, waktu di mana batas antara alam nyata dan gaib menipis.
Mitos dan legenda yang melingkupi bulan Suro semakin menambah daya tariknya, menjadikannya bulan yang paling dihormati sekaligus ditakuti dalam kalender Jawa. Mari selami lebih dalam makna dan misteri di balik bulan Suro, serta alasan mengapa ia begitu dikeramatkan dalam tradisi Jawa.
Mengapa Bulan Suro Dianggap Keramat?
Dilansir dari kanal YouTube @SimbahNgendiko, Rabu (17/7), berikut delapan alasan mengapa bulan Suro dianggap keramat, menurut primbon Jawa:
Suro bukan sekadar bulan pertama, tapi juga awal tahun Jawa. Momen ini dianggap sakral, waktu untuk refleksi diri dan introspeksi. Masyarakat Jawa meyakini bahwa awal yang baik di bulan Suro akan membawa keberuntungan sepanjang tahun.
Primbon Jawa menyebut Suro sebagai bulan yang dipenuhi energi spiritual yang kuat. Energi ini dipercaya dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan, baik positif seperti meningkatkan keberuntungan atau negatif seperti melakukan ritual ilmu hitam.
Mitos yang berkembang di masyarakat Jawa menyebutkan bahwa pada bulan Suro, batas antara alam manusia dan alam gaib menipis. Oleh karena itu, banyak pantangan dan ritual yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan dan menghindari gangguan dari makhluk halus.
Kisah Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan, yang dipercaya muncul pada malam 1 Suro adalah salah satu contoh bagaimana bulan ini sarat akan mitos dan legenda. Kepercayaan ini menambah kesan mistis dan keramat pada bulan Suro.
Suro adalah bulan untuk menghormati leluhur. Ziarah kubur, kenduri, dan berbagai upacara adat lainnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu kepada para leluhur.
Primbon Jawa mencatat berbagai pantangan selama bulan Suro, seperti larangan menggelar hajatan, pindah rumah, atau memulai usaha baru. Pantangan ini bertujuan untuk menghindari kesialan dan malapetaka.
Bulan Suro sering dimanfaatkan untuk berbagai ritual mistis, seperti semedi, tirakat, atau mencari pesugihan. Masyarakat Jawa percaya bahwa energi spiritual yang kuat pada bulan ini dapat memperkuat efek dari ritual-ritual tersebut.
Setiap peristiwa yang terjadi di bulan Suro dianggap memiliki makna simbolis. Hujan di awal Suro dipercaya sebagai pertanda rezeki melimpah, sedangkan gerhana bulan dianggap sebagai pertanda bencana.
Kepercayaan tentang bulan Suro adalah bagian dari warisan budaya Jawa yang kaya dan beragam. Meskipun tidak semua orang mempercayainya, menghormati perbedaan keyakinan adalah hal yang penting. (*)

Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
