Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Maret 2024 | 17.23 WIB

Alasan Intuisi Seorang Ibu Selalu benar, 100 Persen Dianggap Akurat, Anak Harus Percaya dan Patuh

Ilustrasi: Bonding antara ibu dan anak jadi hal yang penting dalam perkembangan si kecil. (Istimewa) - Image

Ilustrasi: Bonding antara ibu dan anak jadi hal yang penting dalam perkembangan si kecil. (Istimewa)

JawaPos.com – Intuisi artinya perasaan mendalam ketika secara naluriah kamu mengetahui, bahwa sesuatu yang kamu lakukan itu benar atau salah. Selain itu, intuisi juga dapat diartikan saat kamu merasakan kebaikan atau ketakutan di wajah orang lain. Kamu tidak mengetahui alasan dari perasaan tersebut, itu hanya firasat.

Menurut ilmu psikologi, intuisi bukan perasaan yang logis, bukan juga magis. Otak bawah sadar mencoba mengenali, memproses, dan menggunakan pola berpikir berdasarkan pengalaman sebelumnya dan tebakan terbaik.

Psikolog percaya bahwa intuisi bergantung pada kekuatan pencocokan pola, karena pikiran mencari pengalaman yang disimpan dalam memori jangka panjang.

Melansir Parapuan, Sarah Blaffer Hrdy, Ph.D., seorang antropolog dan penulis Mother Nature: Maternal Instincts and How They Shape the Human Species, mengatakan bahwa intuisi itu dimulai dari rahim.

“Naik turunnya hormon kehamilan sewaktu mengandung anak, bersama dengan lonjakan oksitosin selama persalinan, membuat seorang ibu jadi lebih responsif," jelasnya.

Sebagai seorang ibu menjaga dan memastikan keamaan anak merupakan prioritas yang sangat penting. Tidak semua percaya tentang intuisi seorang ibu, terkadang dikaitkan dengan kecemasan semata. Bagaimana cara membedekan antara intuisi dengan perasaan cemas?

1. Mengenali Rasa Takut

Kita harus bisa mengenali rasa takut yang dirasakan, ada ketakutan yang nyata dan ketakutan yang tidak nyata. Misalnya, saat anda mencoba wahana terjung payung untuk pertama kalinya. Itu disebut membela diri atau berhatati-hati karena takut akan apa yang terjadi adalah perilaku yang masuk akal karena termasuk proteksi diri.

2. Kecemasan Timbul karena Adanya Reaksi Terhadap Ancaman yang Dirasakan

Kecemasan berkembang dari rasa takut, dan lebih sering daripada tidak merupakan reaksi terhadap ancaman yang dirasakan. Ini merupakan cara yang berlebihan untuk mencoba melindungi diri kita dari bahaya.

Terkadang kecemasan mencegah kita melakukan perilaku berisiko yang bisa berakhir dengan bahaya, itu menghentikan kita dari melakukan hal-hal karena ketakutan yang irasional.

Seperti yang dijelaskan oleh seorang penulis untuk Mind Body Green, "Kemampuan kita untuk mewujudkan sangat kuat sehingga jika kita percaya pada ketakutan kita, mereka menjadi kenyataan kita. Semakin sering ini terjadi, semakin banyak bukti yang kita kumpulkan dalam pikiran kita yang mendukung fakta bahwa kecemasan kita adalah kebenaran kita."

3. Kecemasan Datang dengan Gejala Fisik

Berbeda dengan intuisi, kecemasan datang dengan reaksi negatif, seperti keringat, sakit perut, panik, dan sulit untuk bernafas.

Pelatih pemberdayaan Elizabeth Kipp mengatakan, ketakutan adalah emosi yang membuat kita ingin lari, bersembunyi, dan tidak menghadapi kejadian negatif yang akan datang.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore