Presiden Donald Trump. (Alex Brandon/Foto AP)
JawaPos.com – Pasar kripto tengah bersiap menghadapi pekan penting yang bisa mengubah arah sentimen global. Dua peristiwa makro besar, potensi kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan India serta berakhirnya government shutdown, diyakini akan mengembalikan likuiditas dan memicu reli baru di aset berisiko seperti Bitcoin.
Dikutip dari Beincrypto, Senin (11/11), Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” mencapai kesepakatan dagang dengan India. Dalam laporan Reuters dan NDTV, kesepakatan tersebut mencakup penurunan tarif ekspor India dari sekitar 50% menjadi hanya 15–16%, serta komitmen India untuk mengurangi impor minyak dari Rusia.
Kesepakatan ini, jika disahkan secara resmi, dapat menenangkan ketegangan dagang global dan memperkuat mata uang negara berkembang. “Ini bisa menjadi katalis besar bagi aset berisiko seperti Bitcoin,” tulis Beincrypto.
Bagi Washington, kesepakatan tersebut memperkuat stabilitas perdagangan di Asia, sementara bagi India, langkah itu berpotensi meningkatkan ekspor menjelang pemilu 2026. Investor global kini menunggu pengumuman formal, yang disebut bisa menjadi pemicu arus modal baru ke pasar emerging market, termasuk pasar kripto.
Di sisi lain, kabar positif juga datang dari Washington. Senat Amerika Serikat telah meloloskan rancangan undang-undang bipartisan untuk membuka kembali pemerintahan yang sudah ditutup selama enam minggu. Rencana pendanaan ini akan memperpanjang operasi pemerintah hingga Januari 2026 dan mencakup pembayaran kembali bagi pegawai federal yang sempat dirumahkan.
Shutdown tersebut diketahui telah “membekukan” sekitar USD 850 miliar (Rp 14.195 triliun) dana di rekening Treasury General Account (TGA), atau sekitar 8% dari total likuiditas dolar global. Akibatnya, pasar saham dan kripto sama-sama mengalami pengetatan likuiditas dalam sebulan terakhir.
Jika pemerintah kembali beroperasi, Kementerian Keuangan AS diperkirakan akan menggelontorkan kembali antara USD 250–350 miliar (Rp 4.175–Rp 5.845 triliun) dalam beberapa pekan. Dana ini akan kembali beredar ke pasar dan dapat mendorong harga aset berisiko naik, termasuk Bitcoin dan Ethereum.
Bitcoin sepanjang tahun ini bergerak seperti barometer likuiditas global. Penurunan sekitar 5% sejak Juli mencerminkan efek kontraksi akibat penahanan kas oleh pemerintah AS. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa kelompok whale (pemilik 1.000–10.000 BTC) justru memanfaatkan penurunan ini untuk menambah posisi. Tercatat sekitar 29.600 BTC atau senilai USD 3 miliar (Rp 50,1 triliun) dikumpulkan selama fase koreksi.
Jika dua katalis besar tadi, yakni berakhirnya shutdown dan penandatanganan kesepakatan dagang AS–India, benar-benar terjadi pekan ini, analis memperkirakan efek ganda akan terjadi di pasar. Pertama, pemulihan fiskal akan meningkatkan likuiditas. Kedua, optimisme perdagangan global bisa menekan dolar dan mendorong selera risiko investor.
Mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, menyebut fenomena ini sebagai “stealth QE” ekspansi likuiditas terselubung yang bukan berasal dari kebijakan bank sentral, melainkan dari belanja pemerintah dan stabilitas global.
“Jika kedua katalis ini terwujud, Bitcoin bisa kembali bertahan di atas USD 110.000 (Rp 1,84 miliar),” tulis Beincrypto. Meski volatilitas jangka pendek mungkin masih muncul, struktur makro saat ini dinilai mulai beralih ke arah yang lebih konstruktif.
Jika dolar melemah akibat meningkatnya keyakinan terhadap perdagangan global, imbal hasil riil (real yields) berpotensi menurun. Kondisi ini biasanya mendukung reli pada aset alternatif seperti Bitcoin dan emas. Selain itu, data on-chain menunjukkan pemegang jangka panjang justru meningkatkan eksposur, sinyal klasik bahwa pasar sedang membentuk fase dasar baru.
Dengan kombinasi antara pelonggaran likuiditas dan pergeseran sentimen global, pekan ini bisa menjadi titik balik penting bagi arah pasar kripto menjelang akhir tahun.
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk tujuan informasi seputar perkembangan pasar kripto. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Aset digital memiliki risiko tinggi, pastikan Anda memahami risikonya sebelum berinvestasi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
