Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Oktober 2020 | 20.11 WIB

Komorbid Rentan Covid-19, Taati Protokol Kesehatan 3M

Alat berat dikerahkan untuk menggali tanah dan membuat liang lahat baru bagi jenazah korban Covid-19 di TPU Jatisari, Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG) - Image

Alat berat dikerahkan untuk menggali tanah dan membuat liang lahat baru bagi jenazah korban Covid-19 di TPU Jatisari, Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

JawaPos.com - Pasien yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) termasuk kelompok yang rentan selama pandemi Covid-19. Kasus meninggal karena pengaruh Covid-19 yang dialami pasien dengan komoribid sangat tinggi. Per Senin (19/10), hipertensi (13,1 persen), diabetes melitus (11,9 persen), penyakit jantung (7,7 persen), penyakit ginjal (3,3 persen), dan penyakit paru obstruktif kronis (2,5 persen).

Kementerian Kesehatan menyebutkan, beberapa penyakit tidak menular (PTM) memang kelompok yang berpotensi tinggi menjadi penyakit penyerta atau komorbid sehingga sangat rentan jika terinfeksi Covid-19. Tingginya kasus positif Covid-19 pada komorbid disebabkan faktor lemahnya daya tahan tubuh penderita.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI dr Cut Putri Arianie MHKes mengatakan, daya tahan tubuh yang lemah dapat membuat seseorang mudah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. ”Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kanker, paru kronik, itu rentan terinfeksi Covid-19,” ujarnya.

Meski begitu, bukan berarti mereka tidak akan bisa terhindar dari Covid-19. Dia mengatakan bahwa Covid-19 tentunya sangat mungkin dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat dan wajib menerapkan protokol kesehatan 3M. Yakni, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

”Penyakit ini sangat mungkin dicegah dengan perubahan perilaku kita. Pertama, pola makan. Pola makan tentu saja harus mengikuti kaidah gizi seimbang, selanjutnya olahraga yang rutin. Dan jangan lupa 3M,” kata dr Cut Putri.

Selama masa pandemi, dia menganjurkan agar seseorang yang memiliki PTM rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter, baik yang sudah sakit maupun yang masih merasa sehat. ”Kondisi komorbid dapat semakin buruk apabila penderitanya terinfeksi Covid-19,” lanjutnya.

Menurut dia, penderita komorbid minimal satu kali sebulan harus kontrol ke dokter. Biasanya, mereka akan mendapat fleksibilitas obat yang diberikan langsung untuk dua bulan sehingga mengurangi mobilisasi keluar rumah.”Yang penting, obatnya harus diminum teratur. Karena dari survei menunjukkan, 50 persen tidak patuh minum obat,” jelasnya.

Di sisi lain, dia mengingatkan bagi seseorang yang merasa sehat dan tidak punya keluhan belum tentu di dalamnya sehat. Perlu deteksi dini ke rumah sakit untuk melakukan skrining kesehatan minimal enam bulan sampai satu tahun sekali. ”Periksa tekanan darah, gula darah, indeks berat badan, dan indikator lain,” ungkapnya.

Bisa Muncul Gejala Khas


Gejala umum yang dialami pasien positif Covid-19 biasanya sama sekali tidak muncul pada lansia dan komorbid. Karena itu, diagnosis yang komprehensif harus dilakukan oleh tim medis agar penanganannya tepat.

Spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Dr dr Czeresna Heriawan Soejono SpPD KGer mengatakan, lansia dan komorbid terkonfirmasi positif Covid-19 sering kali tidak memiliki gejala yang jelas.

”Gejala batuk-batuk, sesak napas, atau hilangnya indra penciuman dan perasa yang umumnya dialami pasien positif Covid-19 sama sekali tidak muncul pada lansia dan komorbid,” ujar mantan direktur utama RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta itu.

Namun, muncul gejala khas pada pasien positif lansia dan komorbid. Biasanya, nafsu makan hilang tiba-tiba, terjadi perubahan perilaku yang tidak biasa, dan kesadarannya hilang. Karena itu, dia menyebutkan, lansia dan komorbid perlu mendapat perhatian khusus. ”Lebih ketat monitoringnya karena gejalanya khas sekali,” papar dr Soejono.

Menurut dia, penyakit penyerta yang dialami akan memperberat kondisi pasien komorbid. ”Pengalaman kami bisa mengatasi virusnya, tapi kadang infeksi sekunder bisa muncul ketika hasilnya sudah negatif,” lanjutnya.

Orang yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) sebaiknya menghindari berada di kerumunan. Pasalnya, diluar bisa jadi ada orang tanpa gejala (OTG) yang tidak sengaja kontak dengan kokorbid. Untuk itu, sebaiknya kelompok rentan seperti komorbid sebisa mungkin membatasi diri untuk keluar rumah agar tidak tertular saat beraktivitas.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore