
Alat berat dikerahkan untuk menggali tanah dan membuat liang lahat baru bagi jenazah korban Covid-19 di TPU Jatisari, Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JawaPos.com - Pasien yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) termasuk kelompok yang rentan selama pandemi Covid-19. Kasus meninggal karena pengaruh Covid-19 yang dialami pasien dengan komoribid sangat tinggi. Per Senin (19/10), hipertensi (13,1 persen), diabetes melitus (11,9 persen), penyakit jantung (7,7 persen), penyakit ginjal (3,3 persen), dan penyakit paru obstruktif kronis (2,5 persen).
Kementerian Kesehatan menyebutkan, beberapa penyakit tidak menular (PTM) memang kelompok yang berpotensi tinggi menjadi penyakit penyerta atau komorbid sehingga sangat rentan jika terinfeksi Covid-19. Tingginya kasus positif Covid-19 pada komorbid disebabkan faktor lemahnya daya tahan tubuh penderita.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI dr Cut Putri Arianie MHKes mengatakan, daya tahan tubuh yang lemah dapat membuat seseorang mudah terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. ”Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal, stroke, kanker, paru kronik, itu rentan terinfeksi Covid-19,” ujarnya.
Meski begitu, bukan berarti mereka tidak akan bisa terhindar dari Covid-19. Dia mengatakan bahwa Covid-19 tentunya sangat mungkin dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat dan wajib menerapkan protokol kesehatan 3M. Yakni, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
”Penyakit ini sangat mungkin dicegah dengan perubahan perilaku kita. Pertama, pola makan. Pola makan tentu saja harus mengikuti kaidah gizi seimbang, selanjutnya olahraga yang rutin. Dan jangan lupa 3M,” kata dr Cut Putri.
Selama masa pandemi, dia menganjurkan agar seseorang yang memiliki PTM rutin melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter, baik yang sudah sakit maupun yang masih merasa sehat. ”Kondisi komorbid dapat semakin buruk apabila penderitanya terinfeksi Covid-19,” lanjutnya.
Menurut dia, penderita komorbid minimal satu kali sebulan harus kontrol ke dokter. Biasanya, mereka akan mendapat fleksibilitas obat yang diberikan langsung untuk dua bulan sehingga mengurangi mobilisasi keluar rumah.”Yang penting, obatnya harus diminum teratur. Karena dari survei menunjukkan, 50 persen tidak patuh minum obat,” jelasnya.
Di sisi lain, dia mengingatkan bagi seseorang yang merasa sehat dan tidak punya keluhan belum tentu di dalamnya sehat. Perlu deteksi dini ke rumah sakit untuk melakukan skrining kesehatan minimal enam bulan sampai satu tahun sekali. ”Periksa tekanan darah, gula darah, indeks berat badan, dan indikator lain,” ungkapnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
