Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Desember 2023 | 01.29 WIB

Cegah Salah Informasi, Menko PMK Minta Sosialiasi Nyamuk Wolbachia Digencarkan

Nyamuk Wolbachia. Sumber: (Foto: Dokumentasi Kemenkes) - Image

Nyamuk Wolbachia. Sumber: (Foto: Dokumentasi Kemenkes)

 
JawaPos.com - Menko PMK Muhadjir Effendy meminta, pemanfaatan bakteri Wolbachia sebagai temuan baru yang dapat digunakan untuk memberantas nyamuk Aedes aygepti penyebab kasus demam berdarah dangue (DBD) bisa dilakukan maksimal. Pemerintah berharap kasus DBD bisa ditekan.
 
Wolbachia diketahui merupakan bakteri alami yang banyak ditemui pada berbagai jenis serangga. Melalui riset ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti World Mosquito Program (WMP), bakteri Wolbachia yang disuntikkan ke nyamuk Aedes aygepti mampu mencegah replikasi virus dengue yang menjadi sumber penyakit DBD.
 
Muhadjir menyambut positif penelitian oleh WMP selama 12 tahun. Selama itu, mereka melakukan uji coba pemanfaatan bakteri Wolbachia kepada nyamuk Aedes aygepti.
 
Muhadjir juga mendukung penuh implementasi pemanfaatan bakteri baik ini agar dapat digunakan untuk masyarakat. Penyebarluasan informasi perlu dilakukan sehingga masyarakat dapat percaya dengan hasil kajian ilmiah yang telah dilakukan.
 
"Saya kira, kita perlu terus menggencarkan informasi dari sisi keamanan dan melakukan filtering terhadap isu-isu yang kontraproduktif terhadap upaya kita untuk menangani masalah penyakit ini yang cukup memakan korban di Indonesia," ujar Muhadjir saat memimpin dialog lintas instansi dan peneliti tentang pemanfaatan nyamuk Wolbachia, Kamis (30/11).
 
Muhadjir meminta, para perwakilan dari berbagai provinsi yang hadir secara daring untuk membantu menyosialisasikan informasi mengenai manfaat baik bakteri Wolbachia kepada masyarakatnya. Ia juga menyampaikan bahwa Kemenko PMK terbuka untuk menerima permohonan bantuan jika diperlukan upaya koordinasi teknis lebih lanjut yang dibutuhkan oleh pemerimtah daerah.
 
Sementara itu, Guru Besar sekaligus Peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) Adi Utarini mengatakan, upaya penelitian yang telah dilakukan selama 12 tahun di wilayah Jogjakarta telah terbukti aman bagi manusia dan mampu mengurangi replikasi virus dangue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.
 
"Riset 12 tahun teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di Jogjakarta menghasilkan penurunan 77 persen kejadian dengue dan 86 persen rawat inap di rumah sakit akibat dangue," ucap Utarini.
 
Selain itu, Guru Besar IPB University Damayanti Buchori mengatakan, hasil kajian analisis risiko terhadap pelepasan nyamuk Aedes aegypti juga telah dilakukan dan menghasilkan bahwa peningkatan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia akibat pelepasan itu dapat diabaikan karena tidak menimbulkan risiko berbahaya pada masyarakat. Namun demikian, menurut Damayanti monitoring dan evaluasi tetap akan dilakukan untuk menghindari risiko lain yang akan muncul.
 
"Pengawasan ini penting sehingga dapat mendeteksi dan tanggap terhadap risiko apapun yang muncul atau jika ada di kemudian hari. Memastikan regulasi lokal juga perlu dilakukan karena berkaitan dengan keamanan hayati di masing-masing wilayah," ucap Damayanti.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore