Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 September 2026 | 22.08 WIB

Jika Kamu Ingin Mencegah Usainya Hubunganmu dengan Pasangan, Lakukan 7 Cara Ini Menurut Psikologi

seseorang yang mencegah usainya sebuah hubungan / foto: Magnific/magnific

 

JawaPos.com - Tidak semua hubungan berakhir karena sudah tidak ada cinta.

Kadang, dua orang yang masih saling menyayangi justru perlahan menjauh karena sesuatu yang datang dari luar hubungan: masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kondisi finansial, pertemanan, campur tangan orang lain, perubahan lingkungan, atau peristiwa besar yang menguras emosi.

Awalnya mungkin hanya pertengkaran kecil.

Kemudian komunikasi mulai berkurang. Salah satu menjadi lebih sensitif, sementara yang lain semakin memilih diam. Masalah yang sebenarnya berasal dari luar hubungan akhirnya dibawa masuk ke dalam hubungan. Tanpa disadari, pasangan mulai melihat satu sama lain sebagai sumber masalah, padahal keduanya sebenarnya sedang sama-sama kelelahan menghadapi keadaan.

Inilah salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan hubungan: bukan hanya bagaimana menghadapi masalah di antara dua orang, tetapi bagaimana menghadapi dunia luar tanpa membiarkan dunia tersebut menghancurkan kedekatan keduanya.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (3/9), psikologi hubungan menunjukkan bahwa pasangan yang mampu bertahan bukanlah pasangan yang tidak pernah mengalami tekanan. Mereka justru biasanya memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan sebagai sebuah tim.

Jika kamu tidak ingin hubunganmu berakhir hanya karena peristiwa di sekitar, berikut tujuh hal yang bisa dilakukan.

1. Bedakan masalah hubungan dengan masalah yang sedang kalian hadapi bersama

Ini adalah langkah pertama yang sering dianggap sepele, padahal sangat penting.

Ketika seseorang sedang menghadapi tekanan besar, emosinya mudah mencari tempat untuk dilampiaskan. Pasangan yang paling dekat sering menjadi orang pertama yang terkena dampaknya.

Misalnya, kamu sedang mengalami masalah pekerjaan. Pulang ke rumah dalam keadaan lelah, kemudian pasangan bertanya mengapa kamu terlihat murung. Pertanyaan yang sebenarnya menunjukkan perhatian bisa terasa seperti tekanan.

Akhirnya kamu menjawab dengan ketus.

Pasangan tersinggung.

Ia kemudian ikut marah.

Pertengkaran terjadi.

Beberapa jam kemudian, kalian mungkin bahkan lupa bahwa sumber masalah sebenarnya bukan hubungan kalian, melainkan tekanan dari pekerjaan.

Dalam psikologi, kemampuan untuk mengenali sumber tekanan sangat penting karena manusia memiliki kecenderungan melakukan spillover, yaitu membawa emosi dari satu bidang kehidupan ke bidang lainnya.

Karena itu, ketika terjadi konflik, tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah aku benar-benar marah kepada pasangan, atau aku sedang kewalahan oleh sesuatu yang terjadi di luar hubungan ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut bisa mengubah cara kamu merespons.

Bukan berarti semua kemarahan kepada pasangan harus dianggap tidak valid. Ada kalanya pasangan memang melakukan sesuatu yang menyakitkan. Namun, sebelum mengambil kesimpulan bahwa hubungan sedang bermasalah, penting untuk melihat konteksnya.

Mungkin kalian bukan sedang saling membenci.

Mungkin kalian sedang sama-sama lelah.

Dan perbedaan antara dua hal tersebut sangat besar.

2. Jadikan pasangan sebagai rekan satu tim, bukan lawan ketika keadaan sedang sulit

Salah satu perubahan pola pikir paling penting dalam hubungan adalah mengubah pertanyaan dari:

“Siapa yang salah?”

menjadi:

“Bagaimana kita menghadapi ini bersama?”

Ketika sebuah masalah datang dari luar, pasangan sebenarnya memiliki kesempatan untuk semakin dekat.

Namun jika keduanya mulai saling menyalahkan, masalah eksternal berubah menjadi konflik internal.

Contohnya ketika kondisi finansial sedang sulit.

Salah satu mungkin berkata:

“Kalau kamu lebih hemat, kita tidak akan seperti ini.”

Yang lain menjawab:

“Kamu juga yang terlalu banyak mengeluarkan uang.”

Percakapan tersebut mungkin terlihat seperti diskusi keuangan. Namun secara emosional, yang sedang terjadi adalah pertarungan.

Masing-masing berusaha membuktikan bahwa dirinya bukan penyebab masalah.

Padahal, pendekatan yang lebih sehat adalah:

“Kita sedang menghadapi kondisi keuangan yang sulit. Mari kita cari jalan keluarnya bersama.”

Perbedaannya terletak pada penggunaan kata “kita.”

Masalahnya berada di luar hubungan, sementara hubungan berada di pihak kalian berdua.

Pola pikir seperti ini membantu pasangan mempertahankan rasa sebagai satu kesatuan ketika menghadapi tekanan.

Bukan berarti kalian harus selalu sepakat. Perbedaan pendapat tetap akan terjadi. Namun, konflik tidak harus mengubah pasangan menjadi musuh.

Kalian boleh berbeda pendapat sambil tetap berada di sisi yang sama.

3. Jangan mengambil keputusan besar ketika emosi sedang berada di titik tertinggi

Banyak hubungan berakhir bukan karena masalahnya tidak bisa diselesaikan, tetapi karena keputusan besar dibuat ketika kedua orang sedang berada dalam kondisi emosional.

Saat marah, kecewa, takut, atau sangat lelah, kemampuan seseorang untuk berpikir secara jernih dapat menurun.

Dalam kondisi seperti itu, kalimat:

“Sudahlah, kita putus saja.”

bisa keluar dengan mudah.

Masalahnya, pasangan mungkin menganggap kalimat tersebut serius.

Kemudian rasa aman dalam hubungan mulai rusak.

Bukan berarti seseorang tidak boleh mengatakan bahwa ia sudah tidak sanggup. Namun, ada perbedaan antara mengungkapkan kebutuhan untuk berhenti sejenak dan menggunakan ancaman perpisahan setiap kali konflik terjadi.

Jika masalah sedang sangat berat, berikan ruang untuk menenangkan diri.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku sedang terlalu emosional untuk membicarakan ini dengan baik. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan kita sesali. Kita bicarakan lagi setelah kita lebih tenang.”

Kalimat seperti ini bukan berarti melarikan diri.

Justru sebaliknya.

Kamu sedang melindungi hubungan dari keputusan yang dibuat oleh emosi sesaat.

Hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk melakukan pause tanpa menjadikan jeda tersebut sebagai hukuman atau bentuk pengabaian.

Tenangkan diri.

Kemudian kembali.

Dan selesaikan masalah ketika kalian sudah mampu mendengarkan, bukan hanya ingin didengar.

4. Pertahankan komunikasi kecil meskipun keadaan sedang buruk

Ketika hidup sedang kacau, pasangan sering berhenti melakukan hal-hal kecil yang sebelumnya membuat hubungan terasa hangat.

Tidak lagi bertanya:

“Bagaimana harimu?”

Tidak lagi mengirim pesan sederhana.

Tidak lagi makan bersama.

Tidak lagi bercanda.

Tidak lagi menyentuh atau memeluk satu sama lain.

Semua perhatian terserap oleh masalah.

Padahal, hubungan tidak hanya dipertahankan melalui percakapan besar.

Sering kali, kedekatan justru dibangun dari interaksi kecil yang dilakukan secara konsisten.

Sebuah pesan singkat.

Pelukan sebelum tidur.

Secangkir minuman yang dibuatkan tanpa diminta.

Pertanyaan sederhana:

“Capek hari ini?”

Hal-hal tersebut mungkin terlihat tidak penting ketika dibandingkan dengan masalah besar.

Namun secara psikologis, interaksi positif kecil dapat membantu menjaga rasa keterhubungan.

Karena itu, ketika keadaan sedang sulit, jangan berpikir bahwa kalian harus menunggu masalah selesai sebelum kembali dekat.

Justru kedekatan itulah yang bisa membantu kalian menghadapi masalah.

Kamu tidak perlu melakukan sesuatu yang romantis setiap hari.

Cukup jangan biarkan hubungan berubah menjadi sekadar tempat membicarakan masalah.

Tetap sisakan ruang untuk menjadi pasangan, bukan hanya dua orang yang sedang menyelesaikan persoalan hidup.

5. Belajar mengatakan “aku membutuhkanmu” tanpa menjadikan pasangan sebagai satu-satunya tempat bergantung

Ada paradoks dalam hubungan.

Kita membutuhkan pasangan, tetapi hubungan yang sehat juga membutuhkan dua individu yang tetap memiliki kemampuan mengatur dirinya sendiri.

Ketika tekanan dari luar sangat besar, seseorang mungkin menjadi terlalu bergantung pada pasangannya.

Semua emosi harus ditenangkan oleh pasangan.

Semua keputusan harus dibuat bersama pasangan.

Semua masalah harus diselesaikan oleh pasangan.

Pada akhirnya, pasangan pun bisa kelelahan.

Karena itu, penting untuk membangun keseimbangan antara interdependensi dan ketergantungan.

Kamu boleh mengatakan:

“Aku sedang berat. Aku butuh kamu menemaniku.”

Tetapi bukan:

“Kamu harus membuat aku baik-baik saja.”

Perbedaannya sangat besar.

Hubungan yang sehat memungkinkan dua orang saling menjadi tempat aman tanpa menuntut salah satunya bertanggung jawab penuh atas kondisi emosional yang lain.

Kamu tetap boleh memiliki teman, keluarga, aktivitas pribadi, pekerjaan, hobi, atau waktu sendiri.

Dengan begitu, ketika badai datang, hubungan tidak menjadi satu-satunya tiang yang harus menopang seluruh beban.

Dan justru karena masing-masing memiliki sumber daya emosional sendiri, kalian dapat saling mendukung dengan lebih sehat.

6. Jangan biarkan orang luar menjadi pengambil keputusan dalam hubungan kalian

Salah satu penyebab hubungan retak adalah terlalu banyak suara dari luar.

Teman berkomentar.

Keluarga memberi pendapat.

Media sosial menampilkan hubungan orang lain.

Orang lain mengatakan pasanganmu seharusnya begini atau begitu.

Tanpa sadar, standar hubungan kalian mulai dibentuk oleh orang yang sebenarnya tidak menjalani hubungan tersebut.

Tentu saja, bukan berarti semua nasihat dari luar harus diabaikan.

Jika ada orang yang memberikan perspektif objektif dan benar-benar peduli, nasihat tersebut bisa sangat berguna.

Namun keputusan akhir mengenai hubungan tetap perlu dibicarakan oleh dua orang yang menjalaninya.

Kamu dan pasangan perlu memiliki batas yang sehat.

Misalnya:

“Kami menghargai pendapat orang lain, tetapi keputusan tentang hubungan ini akan kami bicarakan berdua.”

Ini sangat penting terutama ketika menghadapi tekanan keluarga, masalah pertemanan, atau konflik sosial.

Hubungan membutuhkan ruang privat.

Tidak semua pertengkaran perlu diceritakan kepada semua orang.

Tidak semua masalah perlu mendapatkan suara dari sepuluh orang.

Terkadang semakin banyak orang yang dilibatkan, semakin sulit bagi pasangan untuk mendengar suara satu sama lain.

7. Ingat kembali alasan mengapa kalian memilih satu sama lain

Ketika hidup sedang sulit, perhatian manusia cenderung tertarik kepada hal-hal negatif.

Kesalahan pasangan terlihat lebih besar.

Kekurangannya lebih mudah ditemukan.

Hal-hal baik yang dulu membuatmu jatuh cinta seakan menghilang dari pandangan.

Karena itu, ketika hubungan sedang menghadapi tekanan, sengaja mengingat kembali sisi positif pasangan dapat membantu menjaga keseimbangan perspektif.

Tanyakan kepada dirimu:

Apa yang membuatku memilih dia?

Apa yang selama ini dia lakukan untukku?

Kapan terakhir kali dia membuatku merasa dicintai?

Apa kualitasnya yang sebenarnya masih aku hargai?

Kenangan bukan untuk membuatmu menutup mata terhadap masalah.

Tujuannya adalah mengingat bahwa pasanganmu bukan hanya kumpulan kesalahan yang sedang membuatmu kesal hari ini.

Ia adalah manusia yang memiliki sisi baik, kelemahan, ketakutan, dan perjuangannya sendiri.

Begitu pula dirimu.

Hubungan jangka panjang tidak dibangun oleh dua manusia sempurna.

Hubungan dibangun oleh dua manusia yang bersedia memahami bahwa keduanya akan berubah, mengalami masa sulit, melakukan kesalahan, dan tetap belajar menemukan jalan untuk kembali terhubung.

Pada akhirnya, masalahnya bukan apakah hubungan kalian akan menghadapi badai

Setiap hubungan akan menghadapi tekanan.

Ada masa ketika pekerjaan menjadi berat.

Ada masa ketika kondisi keuangan tidak ideal.

Ada konflik keluarga.

Ada perubahan hidup yang tidak direncanakan.

Ada masa ketika salah satu kehilangan arah.

Dan ada saat ketika keduanya sama-sama tidak memiliki energi untuk menjadi versi terbaik dirinya.

Jadi, tujuan mempertahankan hubungan bukanlah menciptakan hubungan yang tidak pernah bermasalah.

Itu hampir mustahil.

Tujuannya adalah membangun hubungan yang tidak mudah berubah menjadi musuh ketika masalah datang.

Ketika tekanan muncul, cobalah mengingat tujuh hal ini:

Bedakan masalah eksternal dari masalah hubungan.

Hadapi masalah sebagai satu tim.

Jangan mengambil keputusan besar saat emosi memuncak.

Pertahankan interaksi positif yang kecil.

Saling membutuhkan tanpa kehilangan kemandirian.

Buat batas yang sehat terhadap campur tangan orang lain.

Dan jangan lupa mengingat alasan mengapa kalian memilih satu sama lain.

Karena terkadang hubungan tidak membutuhkan seseorang yang mampu menghilangkan semua masalah.

Hubungan hanya membutuhkan dua orang yang berkata:

“Masalah ini berat, tetapi kita tidak harus menjadi musuh hanya karena sedang menghadapinya.”

Dan mungkin, kalimat sederhana itulah yang membuat dua orang yang hampir kehilangan satu sama lain memilih untuk kembali berpegangan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore