Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 1 September 2026 | 21.44 WIB

6 Alasan Mengapa Sebagian Orang Dapat Mengingat Mimpi, Sementara yang Lain Tidak Menurut Psikologi

seseorang yang mengingat mimpi setelah bangun tidur / foto: Magnific/jcomp

JawaPos.com - Pernahkah Anda terbangun dari tidur dengan perasaan bahwa baru saja mengalami sebuah petualangan yang sangat nyata? Anda masih dapat mengingat tempatnya, orang-orang yang muncul, bahkan percakapan yang terjadi dalam mimpi. Namun, beberapa menit kemudian, semuanya perlahan menghilang.

Di sisi lain, ada orang yang hampir setiap pagi mengatakan, “Saya tidak pernah bermimpi.”

Padahal, dalam banyak kasus, bukan berarti orang tersebut benar-benar tidak bermimpi. Perbedaannya lebih sering terletak pada seberapa mudah mimpi tersebut diingat setelah seseorang terbangun.

Dalam psikologi dan ilmu tidur, kemampuan mengingat mimpi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari karakteristik tidur, perhatian, emosi, hingga bagaimana seseorang memproses pengalaman setelah bangun. Dengan kata lain, mengingat mimpi bukan sekadar persoalan “sering bermimpi” atau “tidak pernah bermimpi”.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat enam alasan mengapa sebagian orang lebih mudah mengingat mimpinya dibandingkan orang lain.

1. Mereka Lebih Sering Terbangun pada Waktu yang Tepat

Salah satu faktor paling penting dalam mengingat mimpi adalah waktu seseorang terbangun.

Mimpi dapat terjadi sepanjang tidur, tetapi pengalaman mimpi yang sangat jelas dan kompleks sering dikaitkan dengan fase REM (Rapid Eye Movement). Pada fase ini, aktivitas otak meningkat dan pengalaman mental yang menyerupai cerita, gambar, emosi, serta berbagai sensasi dapat muncul.

Jika seseorang terbangun ketika atau tidak lama setelah mengalami mimpi, kemungkinan ia masih memiliki akses terhadap isi mimpi tersebut.

Sebaliknya, seseorang yang tidur terus-menerus tanpa terbangun di antara siklus tidur mungkin lebih sulit mengingat apa yang dialaminya.

Bayangkan mimpi seperti sebuah pesan yang tersimpan sementara di layar komputer. Ketika seseorang langsung memperhatikannya setelah terbangun, ia mungkin masih sempat “membaca” pesan tersebut. Tetapi jika ia segera melakukan aktivitas lain, informasi itu dapat dengan cepat menghilang.

Itulah sebabnya orang yang sering mengalami terbangun singkat di malam hari terkadang melaporkan bahwa mereka lebih sering mengingat mimpi.

Namun, sering terbangun bukan berarti kualitas tidur lebih baik. Justru, tidur yang terlalu sering terputus dapat mengganggu kualitas dan kontinuitas tidur.

Jadi, kemampuan mengingat mimpi tidak selalu merupakan indikator bahwa seseorang memiliki tidur yang lebih sehat.

2. Perhatian terhadap Mimpi Membuat Ingatan Mimpi Lebih Kuat

Apa yang kita anggap penting cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian.

Prinsip ini juga berlaku terhadap mimpi.

Orang yang sejak awal tertarik pada dunia mimpi, sering memikirkan mimpinya, atau memiliki kebiasaan mencatat mimpi biasanya lebih terlatih dalam memperhatikan pengalaman tersebut.

Misalnya, seseorang bangun tidur dan langsung berpikir:

“Tadi saya bermimpi apa?”

Pertanyaan sederhana tersebut membuat pikirannya mencari kembali informasi yang baru saja dialami.

Berbeda dengan seseorang yang langsung mengambil ponsel, membuka media sosial, memeriksa pesan, atau memikirkan pekerjaan begitu membuka mata.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian berpindah sangat cepat dari pengalaman mimpi ke informasi baru. Akibatnya, jejak ingatan tentang mimpi menjadi semakin sulit diakses.

Ini menunjukkan bahwa perhatian merupakan salah satu kunci dalam proses mengingat mimpi.

Jika seseorang ingin lebih sering mengingat mimpinya, salah satu kebiasaan sederhana yang dapat dicoba adalah tidak langsung melakukan aktivitas lain setelah bangun. Tetap berbaring selama beberapa saat dan mencoba mengingat apa yang baru saja dialami dapat membantu.

Mulailah dari pertanyaan sederhana:

Di mana saya berada?
Siapa yang ada dalam mimpi?
Apa yang sedang saya lakukan?
Apa emosi yang saya rasakan?
Apakah ada sesuatu yang aneh atau tidak masuk akal?

Tidak perlu langsung mengingat seluruh alur. Satu detail kecil saja dapat menjadi “pemicu” untuk mengembalikan bagian lain dari mimpi.

3. Mimpi yang Mengandung Emosi Kuat Lebih Mudah Diingat

Pernahkah Anda terbangun karena mimpi yang sangat menakutkan dan masih mengingatnya bahkan beberapa hari kemudian?

Hal itu tidak mengherankan.

Pengalaman yang memiliki muatan emosional tinggi cenderung lebih menonjol dalam ingatan.

Mimpi tentang ketakutan, kehilangan, kegembiraan, konflik, cinta, rasa malu, atau kejadian yang sangat mengejutkan dapat meninggalkan kesan yang lebih kuat dibandingkan mimpi yang terasa biasa saja.

Misalnya, seseorang mungkin tidak dapat mengingat mimpi yang terjadi tiga malam sebelumnya. Tetapi ia masih dapat mengingat mimpi ketika dikejar, jatuh dari tempat tinggi, bertemu seseorang yang sudah lama tidak ditemui, atau mengalami kejadian yang sangat emosional.

Dalam perspektif psikologi, emosi dapat meningkatkan perhatian terhadap suatu pengalaman. Ketika pengalaman dianggap penting secara emosional, otak dapat memberikan perhatian lebih besar terhadapnya.

Namun, penting untuk tidak menganggap bahwa setiap mimpi emosional memiliki arti tersembunyi tertentu.

Mimpi yang menakutkan tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah psikologis tertentu. Begitu pula mimpi tentang seseorang tidak selalu berarti orang tersebut sedang “memikirkan” atau “merindukan” kita.

Mimpi merupakan pengalaman mental yang kompleks dan dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk pengalaman sehari-hari, emosi, ingatan, serta kondisi tidur.

4. Perbedaan Individu dalam Cara Otak Memproses Informasi

Tidak semua orang memiliki kecenderungan yang sama dalam mengingat pengalaman mental.

Sebagian orang secara alami lebih mudah mengingat detail visual, cerita, perasaan, atau pengalaman internal. Orang seperti ini mungkin juga lebih mudah menggambarkan mimpi secara rinci.

Sementara itu, orang lain mungkin memiliki pengalaman mimpi yang sama vivid-nya tetapi ketika bangun hanya mengingat sedikit sekali.

Perbedaan ini dapat berkaitan dengan perhatian, memori, kecenderungan introspektif, dan cara seseorang memproses pengalaman internal.

Bayangkan dua orang menonton film yang sama. Setelah film selesai, orang pertama dapat menceritakan banyak detail: pakaian tokoh, dialog, lokasi, bahkan musik latar.

Orang kedua mungkin hanya mengingat garis besarnya.

Hal yang sama dapat terjadi pada mimpi.

Seseorang mungkin mengalami mimpi yang panjang dan kompleks, tetapi hanya membawa satu atau dua fragmen ke dalam kesadaran setelah bangun.

Karena itu, mengatakan “saya tidak pernah bermimpi” sebenarnya belum tentu akurat. Bisa saja orang tersebut bermimpi, tetapi tidak mempertahankan ingatan tentang mimpinya setelah bangun.

5. Kondisi Tidur dan Cara Bangun Memengaruhi Ingatan

Cara seseorang tidur dan bangun juga dapat memengaruhi kemungkinan mengingat mimpi.

Orang yang terbangun secara perlahan mungkin memiliki kesempatan lebih besar untuk menyadari pengalaman mental yang baru saja terjadi. Sebaliknya, seseorang yang langsung terbangun karena alarm keras lalu segera berdiri, membuka ponsel, mandi, atau bersiap bekerja mungkin kehilangan ingatan mimpi dalam waktu singkat.

Kualitas dan durasi tidur juga penting.

Siklus tidur berlangsung berulang kali sepanjang malam. Periode REM cenderung menjadi lebih panjang pada bagian akhir malam. Karena itu, mimpi yang terjadi menjelang pagi sering kali lebih mudah diingat, terutama jika seseorang terbangun tidak lama setelahnya.

Inilah salah satu alasan mengapa seseorang terkadang berkata:

“Saya tadi pagi bermimpi sangat jelas.”

Padahal mungkin bukan karena mimpi tersebut lebih “penting”, melainkan karena ia terbangun pada waktu yang lebih dekat dengan pengalaman mimpi.

Faktor lain seperti kurang tidur, jadwal tidur yang tidak teratur, konsumsi alkohol, stres, atau gangguan tidur juga dapat memengaruhi pola tidur dan pengalaman mengingat mimpi.

Namun, hubungan antara faktor-faktor tersebut tidak selalu sederhana. Dua orang dengan pola tidur yang mirip belum tentu memiliki kemampuan mengingat mimpi yang sama.

6. Sebagian Orang Memang Lebih Memperhatikan Dunia Internalnya

Ada orang yang terbiasa merenungkan pikiran dan perasaannya.

Mereka mungkin sering bertanya:

“Kenapa saya merasa seperti ini?”

“Kenapa kejadian tadi membuat saya teringat masa lalu?”

“Kenapa saya tiba-tiba memikirkan seseorang?”

Kebiasaan memperhatikan pengalaman internal seperti ini dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap pengalaman mental, termasuk mimpi.

Dalam psikologi, perhatian terhadap pengalaman internal sering dikaitkan dengan kecenderungan introspektif.

Orang yang terbiasa memperhatikan pikiran, emosi, imajinasi, dan pengalaman subjektif mungkin lebih cepat menyadari fragmen mimpi setelah bangun.

Sebaliknya, orang yang tidak terlalu memperhatikan pengalaman internal bisa saja langsung mengalihkan perhatian kepada dunia luar.

Begitu bangun, pikirannya mungkin langsung beralih kepada pekerjaan, keluarga, jadwal, berita, atau berbagai tugas yang harus dilakukan.

Akibatnya, mimpi yang baru saja dialami tidak mendapatkan cukup perhatian untuk dipertahankan dalam ingatan.

Ini bukan berarti satu tipe orang lebih baik daripada yang lain.

Kemampuan mengingat mimpi bukan ukuran kecerdasan, kedewasaan, kesehatan mental, atau kualitas kepribadian seseorang.

Mengapa Mimpi Bisa Hilang Hanya dalam Beberapa Menit?

Salah satu hal paling menarik tentang mimpi adalah betapa cepat ingatannya dapat menghilang.

Seseorang dapat terbangun dengan ingatan yang terasa sangat jelas:

“Saya berada di sebuah rumah yang tidak saya kenal.”

Lalu beberapa menit kemudian:

“Rumahnya seperti apa, ya?”

Setelah sarapan:

“Saya tadi bermimpi sesuatu, tetapi saya lupa.”

Beberapa jam kemudian:

“Saya bahkan tidak ingat apakah tadi malam bermimpi.”

Fenomena ini menunjukkan bahwa mengingat mimpi berbeda dengan sekadar mengalami mimpi.

Mimpi merupakan pengalaman mental ketika tidur, sedangkan mengingat mimpi membutuhkan proses memori yang dapat bertahan setelah seseorang terbangun.

Jika informasi tersebut tidak segera diperhatikan atau dikonsolidasikan, detailnya dapat cepat memudar.

Karena itu, orang yang ingin mengingat mimpi biasanya disarankan untuk menangkap detailnya sesegera mungkin setelah bangun.

Apakah Orang yang Tidak Ingat Mimpi Berarti Tidak Bermimpi?

Belum tentu.

Ini merupakan salah satu kesalahpahaman paling umum mengenai mimpi.

Sebagian besar manusia mengalami pengalaman mimpi selama tidur. Namun, kemampuan mengingat mimpi sangat bervariasi.

Ada orang yang hampir setiap pagi dapat mengingat satu atau beberapa mimpi. Ada pula yang hanya mengingat mimpi sesekali. Sebagian lainnya hampir tidak pernah dapat mengingatnya.

Jadi, pernyataan “saya tidak pernah bermimpi” sering kali sebenarnya berarti:

“Saya tidak pernah mengingat mimpi saya setelah bangun.”

Perbedaan ini penting karena pengalaman bermimpi dan ingatan terhadap mimpi merupakan dua hal yang tidak sama.

Apakah Kita Bisa Melatih Diri Agar Lebih Mudah Mengingat Mimpi?

Bisa dicoba.

Kemampuan mengingat mimpi bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Kebiasaan tertentu dapat membantu meningkatkan perhatian terhadap pengalaman mimpi.

1. Jangan langsung mengambil ponsel

Ketika baru bangun, beri diri Anda beberapa detik atau menit untuk mengingat pengalaman tidur.

2. Tetap dalam posisi yang sama

Jika memungkinkan, jangan langsung bergerak terlalu banyak. Cobalah mengingat apa yang ada dalam pikiran Anda sebelum membuka mata sepenuhnya dan memulai aktivitas.

3. Cari satu detail terlebih dahulu

Tidak perlu memaksa diri mengingat seluruh mimpi.

Mulailah dari satu hal:

“Siapa yang ada di sana?”

“Di mana tempatnya?”

“Apa yang saya rasakan?”

Satu detail sering kali dapat membantu memunculkan detail lainnya.

4. Catat segera

Menyediakan jurnal di dekat tempat tidur dapat membantu.

Tidak perlu menulis cerita panjang. Bahkan beberapa kata seperti:

“Sekolah – hujan – teman lama – takut – berlari”

sudah cukup sebagai catatan awal.

5. Perhatikan pola

Setelah beberapa minggu, seseorang mungkin mulai menemukan pola tertentu dalam mimpinya, misalnya tempat yang sering muncul, tema tertentu, atau emosi yang berulang.

Namun, pola tersebut sebaiknya dipandang sebagai bahan refleksi pribadi, bukan sebagai diagnosis psikologis.

Mimpi Bukan Ramalan, dan Tidak Semua Mimpi Memiliki Arti Khusus

Ketika seseorang mulai mengingat mimpi, godaan berikutnya adalah mencari arti dari setiap simbol.

Misalnya:

“Kalau bermimpi jatuh berarti apa?”

“Kalau bermimpi bertemu mantan berarti apa?”

“Kalau bermimpi kehilangan gigi berarti pertanda apa?”

Masalahnya, psikologi modern tidak mendukung gagasan sederhana bahwa setiap simbol mimpi memiliki satu arti universal.

Mimpi sangat personal.

Mimpi tentang laut bagi seseorang dapat berkaitan dengan liburan. Bagi orang lain, laut mungkin berkaitan dengan ketakutan. Bagi orang ketiga, laut mungkin hanya muncul karena ia menonton film tentang pantai sebelum tidur.

Karena itu, interpretasi mimpi perlu mempertimbangkan konteks kehidupan orang yang mengalaminya, bukan sekadar menggunakan kamus simbol yang berlaku untuk semua orang.

Mimpi juga tidak seharusnya digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan psikologis tertentu.

Jika seseorang mengalami mimpi buruk yang sangat sering hingga mengganggu tidur atau kehidupan sehari-hari, barulah masalah tersebut dapat menjadi alasan untuk membicarakannya dengan profesional kesehatan.

Kesimpulan

Perbedaan kemampuan mengingat mimpi bukan berarti sebagian orang bermimpi dan sebagian lainnya tidak.

Lebih tepatnya, manusia berbeda dalam seberapa sering mereka terbangun dekat dengan pengalaman mimpi, seberapa besar perhatian mereka terhadap mimpi, seberapa kuat muatan emosinya, bagaimana mereka memproses pengalaman internal, serta bagaimana ingatan tersebut dipertahankan setelah bangun.

Enam faktor yang dapat membantu menjelaskan perbedaan tersebut adalah:

Waktu terbangun dapat menentukan apakah mimpi masih mudah diakses.
Perhatian terhadap mimpi membuat pengalaman tersebut lebih mungkin diingat.
Emosi yang kuat dapat membuat mimpi terasa lebih menonjol.
Perbedaan individu dalam pemrosesan informasi memengaruhi kemampuan mengingat pengalaman mental.
Kondisi tidur dan cara bangun dapat memengaruhi peluang mengingat mimpi.
Kecenderungan introspektif dapat membuat seseorang lebih peka terhadap pengalaman internal.

Jadi, jika Anda jarang mengingat mimpi, bukan berarti otak Anda “tidak bermimpi”. Bisa jadi, mimpi tersebut hanya tidak berhasil dibawa dari pengalaman tidur menjadi ingatan yang bertahan setelah Anda terbangun.

Dan jika Anda termasuk orang yang hampir setiap pagi dapat menceritakan mimpinya dengan detail, hal itu juga bukan sesuatu yang aneh. Anda mungkin hanya memiliki kombinasi kondisi tidur, perhatian, emosi, dan karakteristik memori yang membuat pengalaman mimpi lebih mudah bertahan dalam kesadaran.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore