Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 17 Februari 2026 | 16.42 WIB

Anak yang Memutuskan Hubungan dengan Orang Tua Berulang Kali, Menyebutkan 7 Alasan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memutus hubungan dengan orang tua./Freepik/freepik - Image

seseorang yang memutus hubungan dengan orang tua./Freepik/freepik

JawaPos.com - Memutuskan hubungan dengan orang tua bukanlah keputusan yang ringan. Dalam banyak budaya, terutama di Asia, hubungan orang tua dan anak dianggap sakral dan tidak terpisahkan.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, para psikolog mencatat meningkatnya fenomena parental estrangement—yakni kondisi ketika anak dewasa memilih untuk membatasi atau sepenuhnya memutus kontak dengan orang tuanya.

Menurut teori keterikatan dari John Bowlby, hubungan awal antara anak dan orang tua sangat menentukan kesehatan emosional seseorang di masa depan.

Ketika hubungan itu dipenuhi luka, konflik, atau trauma yang tak terselesaikan, sebagian orang dewasa akhirnya mengambil langkah drastis demi melindungi kesehatan mental mereka.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (14/2), terdapat tujuh alasan yang paling sering disebutkan oleh orang-orang yang memilih memutus hubungan dengan orang tua mereka, berdasarkan temuan dalam psikologi klinis dan konseling keluarga.

1. Pola Kekerasan Emosional atau Fisik yang Berulang

Alasan paling umum adalah adanya kekerasan, baik fisik maupun emosional, yang berlangsung lama. Kekerasan emosional sering kali lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi dampaknya bisa sangat mendalam—mulai dari rasa rendah diri, kecemasan kronis, hingga gangguan stres pascatrauma.

Baca Juga: 5 Perbandingan Minuman Bernutrisi yang Cocok untuk Menjaga Energi Dalam Tubuh Selama Berpuasa

Banyak individu dewasa menyadari bahwa mereka tidak bisa sembuh sepenuhnya jika tetap berada dalam hubungan yang terus melukai mereka.

2. Manipulasi dan Kontrol Berlebihan


Beberapa orang tua menggunakan rasa bersalah, ancaman emosional, atau tekanan finansial untuk mengontrol anak mereka, bahkan ketika anak tersebut sudah dewasa.

Konsep emotional blackmail menjelaskan bagaimana seseorang dapat memanfaatkan rasa takut, kewajiban, dan rasa bersalah untuk mempertahankan kendali. Dalam jangka panjang, pola ini mengikis otonomi dan identitas diri anak.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Sagitarius dan Capricorn 17 Februari 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan

3. Tidak Adanya Batasan yang Sehat (Healthy Boundaries)


Psikologi modern sangat menekankan pentingnya batasan pribadi. Dalam keluarga yang disfungsional, batasan sering kali diabaikan—privasi dilanggar, pilihan hidup diremehkan, dan keputusan pribadi dikontrol.

Teori sistem keluarga dari Murray Bowen menjelaskan bahwa kurangnya diferensiasi diri (kemampuan individu untuk memiliki identitas terpisah dari keluarga) dapat menyebabkan konflik berkepanjangan. Ketika batasan terus dilanggar, sebagian orang memilih jarak sebagai bentuk perlindungan diri.

4. Penolakan terhadap Identitas Anak

Beberapa anak dewasa memutuskan hubungan karena orang tua mereka tidak menerima identitas mereka—baik itu pilihan karier, pasangan hidup, keyakinan, maupun orientasi seksual.

Penolakan yang konsisten terhadap jati diri seseorang dapat menciptakan luka psikologis mendalam. Rasa “tidak pernah cukup baik” sering kali menjadi akar masalah harga diri rendah.

5. Trauma Masa Kecil yang Tidak Pernah Diakui


Salah satu keluhan yang paling sering muncul adalah kurangnya pengakuan atau pertanggungjawaban dari orang tua atas luka masa lalu.

Menurut konsep inner child yang dipopulerkan oleh John Bradshaw, luka masa kecil yang diabaikan dapat terus memengaruhi kehidupan dewasa. Ketika orang tua menolak mengakui kesalahan atau justru menyangkal pengalaman anak, proses penyembuhan menjadi sangat sulit.

6. Dampak Negatif terhadap Kesehatan Mental

Banyak individu melaporkan bahwa setiap kali berinteraksi dengan orang tua mereka, gejala kecemasan, depresi, atau serangan panik meningkat.

Dalam pendekatan terapi kognitif-perilaku yang dikembangkan oleh Aaron T. Beck, lingkungan yang terus-menerus memicu pikiran negatif akan memperkuat pola pikir destruktif. Jika hubungan keluarga menjadi sumber utama stres, menjaga jarak sering kali dianggap sebagai langkah terapeutik.

7. Upaya Perlindungan terhadap Keluarga Inti Sendiri


Ketika seseorang telah menikah atau memiliki anak, prioritasnya sering bergeser. Jika perilaku orang tua dinilai berpotensi merusak keharmonisan rumah tangga atau membahayakan kesejahteraan anak-anak mereka, keputusan untuk memutus kontak bisa diambil demi melindungi generasi berikutnya.

Dalam psikologi perkembangan, individu dewasa diharapkan mampu membangun sistem keluarga baru yang sehat. Jika hubungan lama terus mengganggu stabilitas tersebut, jarak bisa menjadi pilihan rasional.

Apakah Memutus Hubungan Selalu Solusi?


Tidak selalu. Banyak psikolog menyarankan terapi keluarga atau mediasi terlebih dahulu jika memungkinkan. Namun dalam situasi yang melibatkan kekerasan berat atau trauma mendalam, menjaga jarak kadang menjadi satu-satunya cara untuk bertahan.

Yang penting dipahami adalah: keputusan ini jarang diambil secara impulsif. Sebagian besar orang yang memutus hubungan telah mencoba berbagai cara sebelumnya—berdiskusi, memberi batasan, bahkan memaafkan berulang kali.

Penutup


Memutus hubungan dengan orang tua adalah keputusan yang kompleks dan penuh emosi. Dari sudut pandang psikologi, langkah ini biasanya bukan didorong oleh kebencian semata, melainkan kebutuhan untuk melindungi kesehatan mental dan membangun kehidupan yang lebih stabil.

Setiap keluarga memiliki dinamika unik. Namun satu hal yang konsisten dalam banyak penelitian adalah ini: manusia membutuhkan hubungan yang aman, penuh rasa hormat, dan saling menghargai untuk bisa berkembang secara sehat. Ketika kebutuhan dasar itu tidak terpenuhi dalam keluarga asal, sebagian orang memilih menciptakan jarak demi menemukan kedamaian mereka sendiri
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore