Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Januari 2026 | 00.59 WIB

Menurut Psikologi, Orang yang Terus-Menerus Menyela Percakapan Memiliki 7 Ciri Kepribadian Mendasar Ini

seseorang yang terus-menerus menyela percakapan./Freepik/rawpixel.com - Image

seseorang yang terus-menerus menyela percakapan./Freepik/rawpixel.com

JawaPos.com - Dalam sebuah percakapan ideal, setiap orang mendapat ruang untuk didengar.

Namun dalam kenyataan sehari-hari, kita kerap bertemu dengan individu yang gemar menyela pembicaraan—bahkan sebelum lawan bicara selesai menyampaikan maksudnya. Bagi sebagian orang, ini hanya dianggap kebiasaan buruk.

Namun menurut psikologi, perilaku menyela percakapan bukan sekadar soal sopan santun, melainkan dapat mencerminkan ciri kepribadian yang lebih dalam.

Menyela bukan selalu dilakukan dengan niat buruk. Ada yang melakukannya secara refleks, ada pula yang tidak menyadari dampaknya.

Di balik kebiasaan tersebut, psikologi melihat adanya pola emosi, cara berpikir, dan kebutuhan psikologis tertentu.

Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), terdapat tujuh ciri kepribadian mendasar yang sering ditemukan pada orang yang terus-menerus menyela percakapan.

1. Memiliki Dorongan Kuat untuk Diakui dan Didengar

Salah satu ciri paling umum adalah kebutuhan tinggi untuk merasa diakui. Orang yang sering menyela biasanya merasa bahwa apa yang ada di pikirannya sangat penting dan harus segera disampaikan. Mereka khawatir jika menunggu, ide tersebut akan terlupakan atau tidak lagi relevan.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan kebutuhan validasi. Menyela menjadi cara cepat untuk memastikan keberadaannya diakui dalam interaksi sosial, meskipun tanpa disadari hal ini justru bisa membuat orang lain merasa tidak dihargai.

2. Tingkat Impulsivitas yang Cukup Tinggi

Individu yang gemar menyela cenderung memiliki kontrol impuls yang rendah. Begitu sebuah pikiran muncul, dorongan untuk langsung mengungkapkannya terasa sulit ditahan. Mereka berbicara sebelum sempat mempertimbangkan konteks atau perasaan lawan bicara.

Dalam psikologi kepribadian, impulsivitas sering dikaitkan dengan kesulitan menunda kepuasan mental. Keinginan untuk “segera bicara” mengalahkan norma percakapan yang seharusnya bergiliran.

3. Kesulitan Mendengarkan Secara Aktif

Mendengarkan aktif bukan sekadar diam, tetapi benar-benar memproses, memahami, dan merespons dengan empati. Orang yang sering menyela umumnya lebih fokus pada apa yang akan mereka katakan selanjutnya daripada apa yang sedang dibicarakan orang lain.

Akibatnya, mereka tidak sepenuhnya hadir dalam percakapan. Secara psikologis, ini bisa berasal dari kebiasaan berpikir cepat, perhatian yang mudah teralihkan, atau kurangnya pelatihan dalam keterampilan komunikasi interpersonal.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore