
seseorang yang terus-menerus menyela percakapan./Freepik/rawpixel.com
JawaPos.com - Dalam sebuah percakapan ideal, setiap orang mendapat ruang untuk didengar.
Namun dalam kenyataan sehari-hari, kita kerap bertemu dengan individu yang gemar menyela pembicaraan—bahkan sebelum lawan bicara selesai menyampaikan maksudnya. Bagi sebagian orang, ini hanya dianggap kebiasaan buruk.
Namun menurut psikologi, perilaku menyela percakapan bukan sekadar soal sopan santun, melainkan dapat mencerminkan ciri kepribadian yang lebih dalam.
Menyela bukan selalu dilakukan dengan niat buruk. Ada yang melakukannya secara refleks, ada pula yang tidak menyadari dampaknya.
Di balik kebiasaan tersebut, psikologi melihat adanya pola emosi, cara berpikir, dan kebutuhan psikologis tertentu.
Dilansir dari Geediting pada Selasa (30/12), terdapat tujuh ciri kepribadian mendasar yang sering ditemukan pada orang yang terus-menerus menyela percakapan.
1. Memiliki Dorongan Kuat untuk Diakui dan Didengar
Salah satu ciri paling umum adalah kebutuhan tinggi untuk merasa diakui. Orang yang sering menyela biasanya merasa bahwa apa yang ada di pikirannya sangat penting dan harus segera disampaikan. Mereka khawatir jika menunggu, ide tersebut akan terlupakan atau tidak lagi relevan.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan kebutuhan validasi. Menyela menjadi cara cepat untuk memastikan keberadaannya diakui dalam interaksi sosial, meskipun tanpa disadari hal ini justru bisa membuat orang lain merasa tidak dihargai.
2. Tingkat Impulsivitas yang Cukup Tinggi
Individu yang gemar menyela cenderung memiliki kontrol impuls yang rendah. Begitu sebuah pikiran muncul, dorongan untuk langsung mengungkapkannya terasa sulit ditahan. Mereka berbicara sebelum sempat mempertimbangkan konteks atau perasaan lawan bicara.
Dalam psikologi kepribadian, impulsivitas sering dikaitkan dengan kesulitan menunda kepuasan mental. Keinginan untuk “segera bicara” mengalahkan norma percakapan yang seharusnya bergiliran.
3. Kesulitan Mendengarkan Secara Aktif
Mendengarkan aktif bukan sekadar diam, tetapi benar-benar memproses, memahami, dan merespons dengan empati. Orang yang sering menyela umumnya lebih fokus pada apa yang akan mereka katakan selanjutnya daripada apa yang sedang dibicarakan orang lain.
Akibatnya, mereka tidak sepenuhnya hadir dalam percakapan. Secara psikologis, ini bisa berasal dari kebiasaan berpikir cepat, perhatian yang mudah teralihkan, atau kurangnya pelatihan dalam keterampilan komunikasi interpersonal.

Penyebab Ribuan Gerai Indomaret Tutup pada 31 Mei-1 Juni 2026
Pesan Perpisahan Penuh Misteri Milos Raickovic Bersama Persebaya Surabaya, Bonek Penasaran hingga Menyesali
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ajukan Pengunduran Diri, Ini Alasannya
Bocor! 3 Alasan Krusial Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Nomor Dua Jadi Kunci Utama
Ada Pemain Bali United yang Dirumorkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan, Bonek Sebutkan 3 Nama Termasuk Irfan Jaya
Kunker Luar Negeri Presiden Dikritik, Teddy Singgung Dino Patti Djalal yang hanya 3 Bulan jadi Wamenlu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Bruno Moreira Tinggalkan Persebaya Surabaya, Wariskan 39 Gol yang Sulit Dilupakan
Harga BBM Pertamina Nonsubsidi Terbaru Per 1 Juni 2026, Dex Series Turun, Pertamax Turbo Naik
Viral Penonton Konser F4 di Jakarta Kena Campak Sebelumnya, Kemenkes Lakukan Pengecekan
