Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 September 2025 | 13.59 WIB

5 Kebiasaan Utama yang Dilakukan Orang dengan Keterikatan Aman dalam Hubungan, Menurut Psikologi Modern

Pasangan dengan keterikatan aman tahu bahwa komunikasi adalah kunci. Foto: Freepik - Image

Pasangan dengan keterikatan aman tahu bahwa komunikasi adalah kunci. Foto: Freepik

JawaPos.com - Dalam psikologi, salah satu faktor penentu kualitas hubungan adalah gaya keterikatan (attachment style). Konsep ini pertama kali dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, yang meneliti bagaimana ikatan antara anak dengan pengasuh utamanya di masa kecil memengaruhi cara individu membangun hubungan saat dewasa.

Gaya keterikatan terbagi menjadi beberapa jenis: aman (secure), cemas (anxious), menghindar (avoidant), dan ambivalen.

Dari semua itu, keterikatan aman adalah yang paling sehat. Orang dengan gaya keterikatan aman tidak takut kehilangan, tidak merasa perlu mengendalikan pasangan, dan mampu menyeimbangkan kebutuhan diri dengan kebutuhan orang lain.

Namun, keterikatan aman bukan berarti hubungan selalu mulus tanpa masalah. Justru sebaliknya, pasangan dengan gaya ini tidak menghindari konflik, melainkan menghadapinya dengan tenang, dewasa, dan penuh empati.

Mereka memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu yang membuat hubungan tetap stabil meski diterpa badai.

Dilansir dari laman Your Tango,  berikut adalah lima hal yang secara konsisten dilakukan orang dengan keterikatan aman dalam hubungan mereka, menurut psikologi modern.

1. Mereka Mendengarkan dengan Penuh Kehadiran

Mendengarkan terdengar sederhana, namun dalam praktiknya seringkali sulit dilakukan. Banyak pasangan yang saat mendengar keluhan pasangannya, diam-diam sibuk menyiapkan jawaban atau justru mencari pembelaan diri.

Orang dengan keterikatan aman memiliki kualitas berbeda:

  • Mereka tidak langsung bereaksi. Saat pasangan sedang marah atau sedih, mereka memberi ruang penuh untuk mendengar hingga tuntas.

  • Mereka memandang konflik sebagai sesuatu yang wajar, bukan ancaman terhadap hubungan.

  • Mereka berlatih regulasi emosi, sehingga mampu tetap tenang meski situasi panas.

  • Psikolog Dr. Nicole LePera menekankan bahwa kemampuan mendengarkan adalah bentuk "pemrosesan emosi bersama". Artinya, ketika pasangan berbagi keluh kesah, orang dengan keterikatan aman ikut hadir secara emosional, bukan hanya secara fisik.

    Contoh nyata:

    Bayangkan pasangan yang pulang kerja dalam keadaan stres. Alih-alih memotong dengan komentar, "Kamu terlalu lebay, kerjaanku juga capek," pasangan dengan keterikatan aman akan berkata, "Aku dengar kamu benar-benar lelah. Ceritakan lebih banyak, aku ingin tahu apa yang membuatmu merasa begini."

    Sikap sederhana ini memperkuat ikatan emosional, membuat pasangan merasa dihargai, dan menumbuhkan rasa aman bahwa perasaan mereka valid.

    Editor: Hanny Suwindari
    Tags
    Jawa Pos
    JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
    Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore