Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Agustus 2018 | 12.30 WIB

Selamatkan Barang, Seorang Ibu Tak Sengaja Melempar Bayinya

ROBOH. Relindo Kalbar melihat kondisi bangunan masjid yang roboh akibat gempa bumi di Lombok Utara, NTB, beberapa waktu lalu. - Image

ROBOH. Relindo Kalbar melihat kondisi bangunan masjid yang roboh akibat gempa bumi di Lombok Utara, NTB, beberapa waktu lalu.

JawaPos.com - Wajah Agus Harianto, anggota Relawan Indonesia (Relindo) Kalbar, terlihat semringah. Walau masih terlihat sedikit gurat lelah saat menerima kedatangan Rakyat Kalbar di markas Relindo Kalbar di Kafe Secangkir Cafein di Jalan Danau Sentarum, Senin (26/8).


Setelah bicara basa-basi layaknya teman, pria yang bekerja sebagai fotografer ini pun membuka kisahnya selama membantu korban bencana gempa bumi di Lombok beberapa hari lalu.


Awal mereka datang di Lombok saja sudah disambut dua kali gempa. Walau gempanya kecil. Mereka ditempatkan di Lombok Utara.
"Hari itu juga kami membangun tenda," kata Rian, sapaan akrab Agus Harianto dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (28/8).


Anggota Relindo Kalbar yang membawa misi kemanusian ke Lombok sebanyak lima orang. Mereka berangkat 14 Agustus. Kembali lagi di Kota Pontianak pada 23 Agustus kemarin.


Kegiatan Relindo selama sepuluh hari di Lombok berkisar pada membuat dapur umum. Mereka juga melakukan penyembuhan trauma korban bencana. "Terutama anak-anak," jelasnya.


Keadaan di Lombok saat itu sangat miris. Untuk berbelanja saja harus ke Mataram. Di Lombok Utara sudah tidak ada yang bisa dibeli untuk dimakan. Bahkan tenda saja didapat dari bantuan relawan Kalimantan Tengah.


"Untuk penyembuhan trauma, kami mengajak anak-anak untuk bermain. Alhamdulillah mereka cukup senang," jelas Rian.


Pengalaman menarik saat menuju Dusun Batu Jimbul Desa Teniga, Lombok Utara. Timnya harus melewati medan terjal dan mesti berjalan kaki setelah diantar menggunakan mobil.


Sepanjang perjalanan, warga memelas minta bantuan. Terutama air. Sayangnya bantuan yang ada tidak cukup untuk membantu mereka. "Sesampainya di Batu Jimbul, kami disambut Ketua Dusun dan mendirikan masjid darurat," ujarnya.


Di Dusun itu Rian mengalami sebuah kejadian lucu. Bermula dari anggota Relindo yang kelelahan. Mereka minta izin kepada warga untuk memetik kelapa.


Setelah diizinkan, mereka mulai mengonsumsi kelapa yang telah dipetik. Setelah itu, ada anggota relawan mengalami pusing sehingga terpaksa minum obat Paramex.


"Teman kami dari Relindo Kalbar, Suhadi, pun mengalami hal serupa hingga akhirnya dia istirahat di dalam mobil," kenangnya sambil tersenyum.


Walhasil, kejadian ini menyulut tawa anggota Relindo di base camp saat tim pulang kembali. Suhadi ternyata mabuk air kelapa. Bahan lelucon itu setidaknya bisa mengendurkan otot yang tegang setelah bertugas.


Namun, pengalaman Rian dan rekan-rekan paling membekas pada 19 Agustus. Sekitar pukul 11.00 waktu setempat terjadi gempa berkekuatan 5 skala richter (SR). Warga pun panik. Bahkan gempa itu mulai mendekati Gunung Rinjani.


Tak sampai di situ, sekitar pukul 19.00, gempa 7 SR mengguncang Lombok Timur. Getarannya sampai di Lombok Utara tempat mereka berada. Warga semakin panik. Ada anak yang lupa menyelamatkan kedua orang tuanya.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore